Bangsa Ini Tidak Akan Runtuh Karena Banyaknya Orang Pintar Tapi Karena Kurangnya Orang Beradab
Kolom oleh Hero Akbar / Moses *)
Di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan pendidikan, bangsa ini justru dihadapkan pada ironi yang tak bisa diabaikan. Semakin banyak orang berilmu, namun tidak sedikit yang kehilangan arah dalam berperilaku.
Fenomena saling menghujat, memfitnah, hingga merendahkan sesama kini menjadi pemandangan yang kian lumrah, terutama di ruang digital.
Kita patut bertanya: apa arti kepintaran jika tidak diiringi dengan adab?
Ilmu sejatinya adalah cahaya yang menuntun manusia pada kebaikan. Namun ketika ilmu dilepaskan dari nilai-nilai akhlak, ia justru bisa menjadi alat pembenaran untuk menyerang, menjatuhkan, bahkan menghancurkan orang lain. Inilah yang menjadi ancaman nyata, bukan kebodohan, melainkan kecerdasan yang kehilangan moral.
Realitas hari ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan sering kali hanya dilihat dari capaian akademik, jabatan, atau pengaruh. Sementara itu, nilai-nilai seperti sopan santun, empati, dan rasa hormat perlahan tersisih. Pendidikan karakter yang seharusnya menjadi fondasi justru kerap dipandang sebagai pelengkap semata.
Lebih memprihatinkan lagi, krisis adab ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat awam, tetapi juga menjangkiti mereka yang memiliki pendidikan tinggi.
Gelar tidak lagi menjadi jaminan kedewasaan dalam bersikap. Kepintaran tidak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan.
Media sosial memperparah keadaan.
Ruang yang seharusnya menjadi sarana berbagi informasi dan memperkuat silaturahmi, berubah menjadi arena konflik tanpa batas. Banyak yang merasa bebas berbicara tanpa tanggung jawab, seolah etika tidak lagi relevan dalam dunia digital.
Padahal, dalam budaya bangsa ini, adab adalah identitas. Sejak dahulu, kita dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi tata krama dan nilai kemanusiaan. Jika adab itu hilang, maka yang tersisa hanyalah keramaian tanpa arah—penuh suara, tapi miskin makna.
Bangsa ini tidak akan runtuh karena banyaknya orang pintar.
Justru sebaliknya, kemajuan ilmu pengetahuan adalah kekuatan besar. Namun tanpa adab, kekuatan itu bisa berubah menjadi ancaman dari dalam.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengembalikan keseimbangan antara ilmu dan akhlak.
Pendidikan harus kembali menempatkan karakter sebagai prioritas utama. Keluarga, sekolah, hingga lingkungan sosial memiliki peran penting dalam membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab.
Menjaga ucapan, menghargai perbedaan, dan menahan diri dari menyakiti orang lain adalah langkah sederhana yang berdampak besar. Perubahan tidak harus dimulai dari banyak orang—cukup dari diri sendiri, lalu menular ke lingkungan sekitar.
Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa bukan hanya terletak pada kecerdasannya, tetapi pada bagaimana ia menjaga adab dalam setiap langkahnya.
*)- Pendiri kupasmerdeka.com
Leave a comment