Presiden Mahasiswa UIKA Bogor Soroti Pengangkatan Pegawai SPPG Menjadi PPPK, Guru Tidak Jadi Prioritas 

Bogor (KM) – Presiden Mahasiswa Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Muhammad Alfadly Ridwan, menyoroti kebijakan pengangkatan pegawai SPPG menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang dinilai tidak mencerminkan rasa keadilan, khususnya bagi tenaga guru yang hingga kini masih banyak belum mendapatkan kepastian status dan kesejahteraan.

 

Muhammad Alfadly Ridwan menilai bahwa kebijakan tersebut menimbulkan pertanyaan serius terkait skala prioritas pemerintah dalam sektor pendidikan. Di tengah kekurangan tenaga pendidik dan banyaknya guru honorer yang telah mengabdi bertahun-tahun, justru pengangkatan PPPK lebih dahulu diberikan kepada pegawai SPPG.

 

“Kami mempertanyakan orientasi kebijakan ini. Guru adalah pilar utama pembangunan sumber daya manusia. Jika guru tidak dijadikan prioritas, maka ini adalah sinyal buruk bagi masa depan pendidikan nasional,” tegas Alfadly.

 

Ia menambahkan bahwa banyak guru honorer telah mengabdi lebih dari satu dekade, namun masih hidup dalam ketidakpastian status, penghasilan yang minim, serta tanpa jaminan kesejahteraan yang layak. Kondisi ini dinilai bertentangan dengan semangat konstitusi yang menempatkan pendidikan sebagai sektor strategis bangsa.

Presiden Mahasiswa UIKA Bogor menegaskan bahwa pengangkatan PPPK seharusnya didasarkan pada urgensi, kontribusi langsung terhadap pelayanan publik, serta dampak jangka panjang bagi masyarakat. Dalam konteks tersebut, guru seharusnya berada di barisan terdepan.

 

“Kami tidak menafikan peran pegawai SPPG, namun kebijakan publik harus memiliki keberpihakan yang jelas. Ketika guru dikesampingkan, maka negara sedang mengabaikan investasi paling fundamental: pendidikan,” lanjutnya.

 

Sebagai representasi suara mahasiswa, Alfadly mendesak pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mengevaluasi kebijakan pengangkatan PPPK secara menyeluruh dan transparan, serta memastikan bahwa tenaga pendidik mendapatkan prioritas utama sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan.

Ia juga menegaskan bahwa mahasiswa akan terus mengawal isu ini sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan sosial terhadap dunia pendidikan.

 

“Mahasiswa tidak akan diam ketika keadilan sosial dan masa depan pendidikan dipertaruhkan. Kami berdiri bersama para guru,” tutupnya.

 

Reporter: Ki Medi

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.