PRABOWO HARUS MEMBANGUN KONSTRUKSI PEMERINTAHAN BARU DAN TINGGALKAN KONSTRUKSI “STATUS QUO” PEMERINTAHAN LAMA

Foto: Kanjeng Senapati Mataram, KPH. Tommy Agung Wibowo Hamidjoyo, SE.(Dok.KM)

Oleh: Kanjeng Senapati *)

(KM) — Kita saat ini berdiri di saat bangsa kritis dan kondisi negara yang paling sulit dan paling terpuruk untuk bangkit dan membangun kembali dalam sebuah building sistem tatanan pemerintahan negara saat ini.

Presiden Prabowo saat ini terbelenggu dan dalam ancaman, tekanan dan serangan dari berbagai kelompok musuh yang bersekutu baik dari luar asing maupun dari dalam kelompok _”koalisi kiri”_ yang masih bersembunyi didalam _incumben_ pemerintahan Prabowo.

Presiden Prabowo selamanya akan sulit untuk melepaskan belenggu rezim warisan termul Dinasti Petruk Jokowi bila tidak segera membangun konstruksi pemerintahan baru.

Presiden Prabowo harus segera membangun konstruksi pemerintahan baru. Bukan formasi kabinetnya saja yang baru tapi yang baru juga adalah building sistem tatanan (sistem negaranya) juga harus baru.

Tentunya menuju konstruksi building sistem tatanan pemerintahan baru, Prabowo tidak boleh berjuang sendiri, tapi harus melibatkan dan merangkul kembali Founding Fathers (para dewan Kerajaan Nusantara) sebagai “team” pendiri dan pemodal / pemilik saham negara ini, karena mereka yang membentuk dan mendanai berdirinya negara republik ini.

Rencana Jahat Oligarki Yang Dibantu Elite Global Untuk Hancurkan Rakyat, Kemudian Kuasai Negara

Oligarki dan Elite Global memiliki renstra (rencana strategi) kelompok dari dalam “koalisi kiri” yang akan mengkudeta presiden Prabowo karena memandang Prabowo sudah membelot dan berkhianat.

Prabowo dinilai sudah mulai mengingkari janji dan tidak menjalankan program “rezim termul”, tidak sesuai dengan ekspektasi dari arah dan tujuan renstra dan roadmap melanjutkan warisan yang telah dibangun oleh rezim lama Dinasti Petruk Jokowi selama 10 tahun.

Endingnya adalah harus melengserkan dan mengkudeta Prabowo sebelum tahun 2029, atau jika itu gagal mereka akan mengerahkan seluruh kekuatan dana dan strategi untuk memenangkan Gibran sebagai presiden pada pilpres tahun 2029.

Ini adalah sebagai the top target, puncaknya adalah tahun 2030 kekuasaan harus sudah berhasil direbut kembali, kekuasaan yang telah dibangun selama 10 tahun.

Meraka akan melakukan segala upaya melakukan gerakan makar dengan berbungkus konstitusi mengambil alih kekuasaan Prabowo kepada penguasa boneka Gibran sebagai “presiden boneka jilid 2” yang ini didukung oleh sembilan cacing dan elite global.

Memang akan sangat sulit sekali untuk melenyapkan para termul yang masih bersemayam dan masih hidup bebas di dalam kabinet dan dalam pemerintah pusat maupun daerah.

Kecuali presiden Prabowo tegas dengan taktis dan strategis dari saat ini sudah menyisir dan membersihkan kabinet dan tatanan pemerintahannya yang masih terpapar para termul, dengan sistem “potong ekornya dulu baru potong kepalanya”.

Hari ini Indonesia masih tetap dipersimpangan jalan dan terbelenggu sejak tahun 2024 – 2029.

Mereka secara terstruktur, sistematis dan masif telah membangun formasi dan konstruksi troubel maker nya (perusak tatanan) untuk menjajah rakyat dan menghancurkan negara.

Karena para pengelola bangsa ini (DPR, MPR) “barisan partai politik” hanya berjuang kepada siapa yang akan membayar / menyogok mereka dengan uang besar.

Inilah kondisi geopolitik negara bila bangsa ini diserahkan kepada partai politik. Lalu sampai kapan bangsa dan negara diserahkan kepada para partai-partai politik melalui DPR, maka tidak salah bila mereka bisa menjadi “penjajah” dan “musuh bersama” rakyat dan menjadi penjahat negara. Karena mereka sudah dibayar mahal oleh para “cukong” nya

Bangsa kita sudah jauh dari cita-cita dan tujuan para leluhur kita para pendiri bangsa founding fathers (para raja, sultan, ulama).

Untuk membangun Indonesia menuju masa depan Indonesia Baru itu bukan hanya tugas Prabowo, tapi juga tugas seluruh elemen rakyat.

Presiden Prabowo dan seluruh rakyat (umat Islam) harus “istikharoh massal” agar dipilihkan Tuhan sebuah sistem dan tatanan baru untuk membangun Pemerintahan Baru kedepan dan tinggalkan “status quo” pemerintahan lama.

Presiden Prabowo hendaknya kembali dan berpijak kepada sejarah. JAS MERAH (Jangan Melupakan Sejarah) berdirinya Negara Republik ini.

Presiden Prabowo harus kembalikan bangsa negara ini kepada para Founding Fathers karena merekalah yang awal kali membentuk dan mendanai berdirinya negara Republik ini. Bukan tetap dikembalikan kepada DPR dan Partai-Partai Politik.

Kita harus pahami dan kuasai formasi kekuatan musuh yaitu ada dua (sumber dana dan lobinya) dan kita harus kuasai medan tempur dilapangan / roadmap musuh di dalam pertempuran besar ini, mereka tidak akan bisa bergerak bila kekuatan lobi dan sumber dana kita blok, karena ini bukan pertempuran perang senjata.

Kita harus paham formasi musuh dan lawan Prabowo. Sat ini PRABOWO dikelilingi oleh 5 kelompok yang memiliki makar, tapi mereka kini masih selalu “bermanis muka” didepan Prabowo, adalah sebagai berikut :

1. Kelompok Elite Global asing Yahudi (Cina, Amerika dll).
2. Kelompok partai partai politik (sebagai underbow oligarki).
3. Kelompok incumben dalam pemerintah (penghianat di dalam jajaran kabinet pemerintah pusat maupun pemerintah daerah).
4. Kelompok barisan Jenderal Polri garis bengkok (sebagai rulling class and backup), sebagai bemper dan pengamanan rezim termul.
5. Kelompok Sembilan Cacing (konglo cina kapitalis) sebagai sumber dana, penyandang dana / penyalur dana.

Kita harus pahami roadmap mereka akan bekerja habis-habisan antara tahun 2027 s/d 2029, top target mereka adalah tahun 2030 harus clear !.

Presiden Prabowo tentunya sudah membaca rencana dan rahasia mereka. Karena Prabowo memiliki strategi Sandiyudha yang dapat melihat konstruksi musuh, siapa musuh di depan, di samping dan musuh di belakangnya. Karena Prabowo saat ini sedang dikelilingi oleh 5 kelompok tersebut di atas.

Karena ada peranan asing globalis yang akan menghancurkan bangsa negara ini secara masif dengan menaruh para kaki tangannya di dalam “pemerintahan lama Status Quo”.

Sudah Selayaknya Negara Ini Dipimpin Dan Dikelola Oleh Tiga Elemen Inti Bangsa

Saat ini bukan saatnya mereka yang berbicara (partai politik) melalui DPR nya yang terus berkuasa, tapi sudah saatnya negara dikembalikan kepada owner, navigator, dan stabilisator untuk yang berbicara mewakili rakyat, dan saatnya tiga elemen ini yang pegang nahkoda.

Sudah bukan saatnya mereka partai-partai politik yang menguasai negara ini, tapi sudah saatnya Tiga Pilar Elemen Inti Bangsa yang sudah seharusnya bangkit, muncul untuk berperan ambil alih untuk memimpin dan mengendalikan bangsa dan negara ini.

Tiga Elemen Inti Bangsa ini yang selayaknya untuk merapihkan, menyusun dan merumuskan tatanan building sistem negara kedepan.

Harus diakui saat ini Presiden Prabowo dan Negara dalam ancaman 5 kelompok trouble maker (perusak tatanan negara) tersebut di atas.

Selamanya Presiden Prabowo walaupun dengan teknik strategi “Sandiyudha” akan sulit bergerak bila Presiden Prabowo tidak merangkul dan merapat kepada Tiga Elemen Inti Bangsa untuk membentuk konsorsium tiga elemen inti sebagai “Koalisi Elite Nasional”.

Sebagai langkah antisipasi dini dari segala ancaman yang akan terjadi dari dalam dan dari luar yang akan mengancam Pancasila dan integritas bangsa negara, maka sudah seharusnya dari sekarang menyusun renstra, roadmap, dan format (formasinya) untuk membentuk Koalisi Elite Nasional yang terdiri sbb :

1. Barisan Kerajaan Kesultanan Nusantara (sebagai owner).
2. Barisan Ulama Nusantara (sebagai navigator).
3. Barisan ABRI (TNI Polri) yang aktif / purna garis lurus / merah putih (sebagai stabilisator).

Karena ke tiga Elemen Inti Bangsa tersebut adalah sebagai elemen owner, navigator, stabilisator adalah sebagai Pelopor, Stabilisator dan Dinamisator sebuah Negara. Karena tiga elemen besar ini telah mewakili seluruh elemen rakyat (elemen utusan golongan dan utusan daerah).

Kita rakyat Indonesia tidak sadar sedang menikmati dalam kelalaian dibius dan diracuni dengan iming-iming partai-partai politik yang telah berhasil menyesatkan arah, membelokkan tujuan dan cita-cita negara.

Selamanya kita tidak akan dapat mewujudkan sebuah “Negara Musyawarah”atau mewujudkan negara yang “Baldah Thoyibah”, atau negara yang adil, makmur dan sejahtera bila kita masih mengikuti pola lama (pertahankan status quo), yang ada hanya “gali lobang tutup lobang..!”

Mempertahankan “status quo” atau mempertahankan “tatanan lama” sama saja memberikan jalan mulus bagi musuh negara para agen asing EG globalis dan oligarki untuk kuasai Indonesia menjadi negara sekuler yang kapitalistik liberalistik, bahkan menjadi negara komunis.

Percayalah, mempertahankan “status quo” Republik Demokrasi selamanya tidak akan memberikan “solusi” bagi rakyat dan negara, dan tidak akan membawa perbaikan yang berarti bagi bangsa ini.

Sistem tatanan “Republik Demokrasi”_ adalah “kendaraan dan alat remote control” agar negara mudah dikendalikan secara terstruktur, sistematis, dan masif. Sistem tatanan “Republik Demokrasi” sangat rapuh karena tidak dapat mewujudkan ideologi negara Pancasila dan menjauhkan kita dari Jatidiri Bangsanya_ sendiri.

Presiden Prabowo sudah saatnya kembali dan merapat kepada owner negara ini yaitu elemen Kerajaan Kesultanan Nusantara karena yang memiliki collateral, merekalah Founding Fathers yaitu Dewan Adat Nasional Raja Sultan yang dulu yang mendirikan dan mendanai terbentuknya negara ini.

Jangan menafikan peranan dan kontribusi Kerajaan Kesultanan Nusantara yang telah merestui dan membentuk negara ini.

Kerajaan Kesultanan Nusantara harus didukung dan berkolaborasi dengan Dewan Ulama Nusantara (barisan tokoh / ulama nusantara). Karena dua elemen ini adalah elemen yang memiliki “energi besar” sebagai garis terdepan, garda terdepan dan benteng terdepan di dalam penjagaan kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI Nusantara.

Antara Barisan Kerajaan Nusantara, Barisan Ulama Nusantara dan Barisan ABRI (TNI Polri) harus bersatu, harus berkolaborasi dan bersinergi membangun membentuk Konsorsium Elite Nasional, yaitu sebagai “Koalisi Elite Nasional” sebagai pengganti partai politik.

Dengan informasi dan analisa geopolitik geostrategi dan informasi intelijen sebagai solusi menyusun roadmap “peta tempur” bagaimana rakyat terutama elemen umat Islam yang dipimpin Ulama dan Kerajaan Nusantara harus bangkit dan bersatu dalam satu barisan dalam membangun bersama untuk mewujudkan Indonesia Baru Nusantara Baru.

Itulah pesan dan amanah strategis politik untuk bapak Presiden Prabowo Subianto yang harus direnungkan dan harus berani melakukan perubahan dengan mengambil sikap taktis dan strategis ke depan demi menyelamatkan rakyat, bangsa dan negara.

 

*) Penulis adalah Analis Spritual Geopolitik Geostrategi, Kontra Intelijen dan Militer & Pengamat Gerakan Keagamaan, Ideologi dan Pemikiran.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.