Pelantikan Wali Kota New York, Sebuah Momen untuk Refleksi, Bukan (Hanya) Perayaan!

Kolom oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*)

Saat kita melangkah memasuki usia yang tak lagi muda, keheningan datang mengetuk bagian terdalam hati kita. Di ruang sunyi itu, tak terhitung pertanyaan bermunculan—sebagian besar tak perlu dijawab.

 

Ia hanya melintas di benak, sementara kita tersenyum dan menyesap kopi. Kita terus mengingatkan diri bahwa hidup memang layak dipertanyakan.

 

Henry David Thoreau melukiskan manusia modern sebagai sosok yang terus mengejar pengakuan dan status. Semakin kita mengejarnya, semakin kita menjadi asing bagi diri sendiri. “Kita sibuk setiap hari mencari kehidupan, namun jarang benar-benar hidup,” katanya.

 

Di tengah banjir informasi dan kecenderungan untuk menafikan kenyataan, kita terlempar ke dalam kehidupan instan yang sarat drama. Manusia modern mendambakan ketenaran, namun justru merasa makin hampa. Tujuan hidup seolah menyempit menjadi pencarian pengakuan yang absurd.

 

Perjalanan 2025 baru saja berakhir, dibalut keletihan dan doa-doa panjang. Setiap langkah—baik atau buruk—adalah bentuk penerimaan. Ini bukan sekadar menghitung pergantian tahun, melainkan membuka diri untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.

 

Tahun 2025 mungkin tak selalu ramah—bahkan sering kali begitu kejam—namun ia juga dapat membuat kita lebih kuat. Tidak semua hal menghasilkan capaian yang kasatmata, tetapi banyak pelajaran justru menjadi jauh lebih bermakna.

 

Titik nol kilometer 2026 sudah di depan mata, sebuah garis waktu baru yang sedang digambar ulang. Sejauh apa kita melangkah bergantung pada apa yang sungguh kita inginkan, dan di ruang-ruang sunyilah kita menemukannya kembali.

 

“Keheningan bukanlah kekosongan—ia adalah ruang tempat kita berjumpa dengan diri sendiri,” demikian Thoreau mengingatkan.

 

Jangan terlalu terjerat oleh pasang surut kehidupan. Entah kita berhasil atau gagal, miskin atau kaya, terkenal atau tak dikenal, kuat atau lemah—anggaplah semua itu bagian dari perjalanan.

 

Hari dimulai dengan matahari pagi dan berakhir dengan senja; setiap malam selalu diikuti fajar. Yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai fluktuasi kehidupan itu.

 

Jika kita memandang hidup dengan kacamata negatif dan pesimistis, ia akan menjadi beban berat penuh kecemasan dan ketakutan. Namun ketika kita membingkainya secara positif dan optimistis, hidup terasa lebih ringan dan membahagiakan—bahkan di tengah tantangan.

 

Pandangan penuh harap itulah yang menjaga motivasi kita untuk mengejar mimpi-mimpi yang telah dijanjikan.

 

Bersyukurlah kepada Yang Mahakuasa atas setiap nikmat, biarkan kehadiran Allah memenuhi setiap denyut jantung, dan mohonlah ampunan-Nya atas segala kesalahan dan dosa. Angkat tangan ke langit, rendahkan hati di hadapan Pencipta langit dan bumi, dan mintalah petunjuk-Nya di setiap langkah saat menapaki lorong-lorong kehidupan.

 

Jangan bersandar atau berharap pada makhluk—engkau hanya akan berujung kecewa. Belajarlah bersandar kepada Sang Pencipta, Penguasa alam semesta. Bersama-Nya, harapan itu pasti dan senantiasa hadir.

 

Semoga keheningan mengungkap hakikat sejati kehidupan. Lepaskan yang menyakitkan, simpan yang bermakna, dan bersiaplah menjadi versi dirimu yang lebih baik!

 

Jamaica Hills, 1 Januari 2026

*) Imam masjid di New York

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.