Siapa Sosok Damai Hari Lubis?
Damai Hari Lubis adalah figur yang tumbuh dari persilangan dunia hukum dan aktivisme Islam politik. Namanya kerap muncul dalam pusaran isu-isu sensitif yang menyentuh relasi agama, kekuasaan, dan negara—terutama sejak menguatnya gelombang Aksi 212.
Ia bukan sekadar pengacara yang menjalankan profesi, melainkan aktor pergerakan yang memaknai hukum sebagai alat perjuangan moral.
Latar belakangnya sebagai praktisi hukum memberi Damai pijakan legal, namun orientasi perjuangannya jelas melampaui ruang sidang. Keterlibatannya dalam Presidium Alumni 212, pendirian sejumlah aliansi pergerakan, serta perannya dalam Aksi 411 dan 212 menunjukkan konsistensinya berada di garis depan oposisi moral terhadap negara yang ia anggap menyimpang dari nilai keadilan.
Pilihannya membangun organisasi non–badan hukum memperlihatkan sikap curiga terhadap negara, sekaligus strategi untuk menjaga otonomi gerakan dari intervensi kekuasaan.
Karakter Damai dikenal keras, lugas, dan nyaris tanpa kompromi. Kritiknya terhadap tokoh-tokoh politik utama—dari Joko Widodo hingga Prabowo Subianto—sering disampaikan tanpa diksi yang lunak. Tuduhan soal inkonsistensi janji politik hingga isu ijazah palsu memperlihatkan gaya politik konfrontatif yang baginya merupakan konsekuensi logis dari sikap amar ma’ruf nahi munkar.
Kedekatannya dengan Habib Rizieq Shihab dan Front Pembela Islam menegaskan posisi ideologisnya. Dalam konteks ini, hukum tidak berdiri netral, melainkan dipahami sebagai instrumen pembelaan terhadap umat dan simbol perlawanan terhadap apa yang ia sebut sebagai kemunafikan struktural negara.
Prinsip perjuangannya sederhana namun absolut: melawan kezaliman adalah kewajiban, soal hasil adalah urusan Tuhan.
Namun, di titik inilah Damai Hari Lubis juga menjadi figur kontroversial. Keteguhan yang nyaris dogmatis membuat ruang dialog kerap menyempit. Kritik tajam yang ia lontarkan memang menggugah, tetapi sekaligus berpotensi mengeras menjadi polarisasi.
Ia mencerminkan wajah aktivisme Islam politik yang berani, tetapi juga menantang batas antara perjuangan moral dan pertarungan politik.
Damai Hari Lubis, dengan segala keteguhan dan kontroversinya, adalah potret dari kegelisahan sebagian umat terhadap negara. Ia berdiri sebagai pengingat bahwa di republik ini, hukum, iman, dan kekuasaan masih terus diperebutkan maknanya.
Editorial
Leave a comment