Wisuda, Pisah-Sambut, dan Simbol-Simbol Rektor ULB
SUMUT (KM) – Wisuda biasanya identik dengan toga, ijazah, dan senyum bangga keluarga di deretan kursi tamu. Namun, di Universitas Labuhan Batu, momen itu menjadi lebih dari sekadar seremoni. Rektor, Assoc. Prof. Ade Parlaungan Nasution, Ph.D, memilih jalur simbolis dalam pidatonya. Ia membacakan rangkaian acara bukan hanya sebagai protokol, tetapi sebagai pesan hidup yang ingin diwariskan.
Di hadapan ribuan pasang mata, Rektor Ade Parlaungan menyebut bahwa seluruh rangkaian wisuda—mulai dari menyanyikan Indonesia Raya, pembacaan Alquran, doa, hingga tarian persembahan—sejatinya adalah simbol. Bukan sekadar formalitas, melainkan bahasa tanda yang sarat makna.
Empat simbol itu apabila diurai, mempunyai pesan yang tajam:
1. Lagu Indonesia Raya → ajakan untuk selalu mencintai tanah air, apapun profesi yang nanti digeluti.
2. Pembacaan Kitab Suci → pesan agar belajar tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi terus dilanjutkan dalam kehidupan.
3. Doa → pengingat bahwa jalan hidup tak selalu lurus, tapi siapa yang sabar tak akan kehilangan arah.
4. Tarian persembahan → simbol pengabdian; sekecil apapun karya, tetaplah lakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.
Di titik ini, wisuda berubah wajah. Ia tak lagi sekadar pesta akademik, tapi juga ritual “pisah sambut”. Rektor melepas anak-anaknya sebagai mahasiswa, tapi sekaligus menyambut mereka sebagai insan baru yang akan menghadapi dunia nyata dengan bekal moral: nasionalisme, iman, keteguhan, dan budaya.
Apa yang disampaikan Ade Parlaungan sederhana, bahkan mungkin terdengar klise. Tapi bukankah hidup seringkali memang butuh pengingat sederhana? Bahwa ilmu tak akan ada artinya tanpa cinta tanah air. Bahwa doa dan budaya adalah jangkar ketika dunia semakin goyah. Dan bahwa sekecil apapun kontribusi kita, ia tetap bernilai bagi sesama.
Wisuda di ULB tahun ini akhirnya bukan cuma panggung pelepasan. Ia juga jadi cermin: perjalanan akademik mungkin sudah usai, tapi perjalanan menjadi manusia yang bermanfaat baru saja dimulai.
Reporter: Arif
Editor: Drajat
Leave a comment