Bakercab GMNI Bandung Tolak Keras Rencana Kongres Ke-22 di Bandung: Lawan Pengkhianatan Ideologi Organisasi

BANDUNG (KM) – Badan Kerja Cabang (Bakercab) GMNI Bandung secara tegas menolak rencana pelaksanaan Kongres ke-22 GMNI yang diwacanakan digelar di Kota Bandung oleh kepengurusan DPP GMNI kubu Imanuel-Sujahri.

 

Penolakan ini ditegaskan bukan hanya karena alasan administratif, melainkan sebagai bentuk perlawanan ideologis terhadap praktik-praktik yang dinilai mengkhianati cita-cita perjuangan organisasi dan kaum marhaen.

 

Ketua Bakercab GMNI Bandung, Halim Mulia, menyampaikan Kota Bandung, yang memiliki nilai historis dan simbol perjuangan nasional, tidak layak dijadikan tempat pelarian elit organisasi yang dinilai telah gagal menjalankan mandat ideologi.

 

“Kota Bandung adalah simbol perjuangan, intelektualitas, dan moralitas. Memaksakan kongres faksional di kota ini justru mencoreng nilai-nilai historis yang pernah lahir di sini,” tegas Halim, Senin (1/7/2025).

 

Ia menilai pelaksanaan Kongres Ke-22 GMNI oleh kubu Imanuel-Sujahri merupakan bentuk pemaksaan kehendak politik yang berpotensi memperburuk kondisi organisasi, yang saat ini tengah mengalami krisis kepercayaan dan legitimasi.

 

“Jangan jadikan kota yang memiliki nilai-nilai historis ini sebagai tempat pencucian dosa kolektif bagi elit-elit gagal serta pecundang sejarah. Ini adalah penghinaan terhadap nilai-nilai ideologis, intelektual, dan etika gerakan mahasiswa yang dijunjung tinggi di Bandung,” lanjutnya.

 

Krisis Organisasi dan Dualisme Kepemimpinan

 

Bakercab GMNI Bandung menilai bahwa GMNI saat ini sedang mengalami krisis serius akibat dualisme kepemimpinan DPP sejak Kongres Ambon 2019, yang tak kunjung diselesaikan.

 

Situasi ini menciptakan perpecahan di internal organisasi serta hilangnya arah perjuangan ideologis.

 

“Organisasi sedang sakit, tetapi Kongres tetap dipaksakan di atas luka yang belum disembuhkan. Kongres ini bukan jalan keluar, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap kader-kader akar rumput,” ujar Halim.

 

Ia juga menyoroti bahwa struktur DPP GMNI di bawah kepemimpinan Imanuel-Sujahri telah menelantarkan organisasi selama hampir enam tahun.

 

Oleh karena itu, mereka dinilai tidak memiliki legitimasi moral maupun struktural untuk menyelenggarakan kongres nasional.

 

Seruan Boikot dan Rekonstruksi Organisasi

 

Sebagai respons atas kondisi ini, Bakercab GMNI Bandung menyampaikan beberapa sikap resmi:

1. Menolak keras pelaksanaan Kongres ke-22 GMNI oleh DPP Imanuel-Sujahri di Kota Bandung.

2. Menyerukan boikot nasional terhadap kegiatan organisasi yang dianggap tidak sah secara ideologis dan struktural.

3. Mengajak seluruh kader GMNI di Indonesia untuk mengadili para oknum, elit, dan aktor di balik kerusakan organisasi.

4. Mendorong rekonstruksi total organisasi melalui konsolidasi ideologis berbasis kader akar rumput.

 

“Kongres GMNI hanya mungkin diselenggarakan melalui proses konsolidasi akar rumput yang jujur dan ideologis, bukan oleh elit yang telah gagal menjalankan mandat organisasi,” pungkas Halim.

 

Reporter: MRS/HSMY

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.