Yen Jatuh, Menteri Keuangan Mundur, Indonesia?
DUNIA (KM) – Wakil Menteri Keuangan Jepang dicopot dari jabatannya Jumat (28/6/2024)setelah yen jatuh ke level terendah sejak 1986. Menteri Keuangan Shunichi Suzuki menyatakan kekhawatirannya terhadap dampak pergerakan mata uang yang cepat dan sepihak terhadap ekonomi, dan pemerintah sedang memantau perkembangan pasar dengan tingkat urgensi yang tinggi.
Perubahan personel diumumkan, termasuk penunjukan Atsushi Mimura sebagai pengganti Kanda, yang efektif mulai 31 Juli. Namun, perubahan ini tidak akan mempengaruhi kebijakan mata uang secara luas di negara tersebut.
Mata uang yen turun sebesar 0,4% menjadi 160,39 per dolar, melampaui level yang sebelumnya memicu intervensi pasar pada bulan April. Kesenjangan besar antara suku bunga di Jepang dan AS terus memberi tekanan pada yen, yang telah kehilangan lebih dari 12% nilainya tahun ini. Hal ini merugikan konsumen Jepang dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan bisnis.
Erik Nelson, ahli strategi makro di Wells Fargo di London, menyatakan bahwa otoritas Jepang mungkin menunggu hingga yen turun ke 165 atau lebih sebelum melakukan intervensi di pasar. “Pemerintah akan mengambil tindakan yang diperlukan sesuai kebutuhan untuk memantau perkembangan pasar dengan cermat,” kata Suzuki.
Di Indonesia, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menurun dan menyentuh level terendah dalam empat tahun terakhir selama pandemi COVID-19. Pada Jumat (21/6/2024), Rupiah turun 0,12% dan menyentuh angka Rp16.445/USD.
Hanif Mantiq, CEO Star Asset Management, menyebutkan dua penyebab utama koreksi Rupiah: posisi The Fed yang belum memangkas suku bunga acuan dan sentimen dalam negeri terkait melebarnya defisit transaksi berjalan akibat turunnya harga komoditas yang mengurangi pasokan valuta asing.
“Optimis bahwa pelemahan Rupiah akan terbatas dan berpotensi mulai menguat saat The Fed memangkas suku bunga acuan dan adanya peluang kenaikan harga komoditas seiring dengan membaiknya ekonomi China sebagai mitra dagang Indonesia,” ujar Hanif.
Redaksi
Leave a comment