KUPAS KOLOM: Dampak Belajar Daring, Generasi Z Makin Mahir Pakai Gawai

Oleh Adies Putri dan rekan, mahasiswa FIKOM Universitas Pakuan, Bogor

Pada tahun 2020, seluruh masyarakat digemparkan dengan adanya virus corona. Sejak awal pandemi, pemerintah sudah banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dilakukan untuk menekan jumlah kasus covid-19 agar tidak terus meningkat secara signifikan dan sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Kebijakan pemerintah salah satunya dengan mengimbau masyarakat untuk melakukan social distancing seperti Work From Home (WFH), pembelajaran daring atau online dan beribadah dari rumah.

Pandemi telah menimbulkan banyak dampak dan perubahan terutama dalam dunia pendidikan. Di mana yang tadinya pelajar datang ke sekolah untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka, kemudian digantikan dengan sistem pembelajaran daring atau online.

Pembelajaran daring (dalam jaringan) merupakan pembelajaran yang dilakukan secara online atau tanpa adanya tatap muka secara langsung antara guru dan murid, melalui aplikasi pembelajaran yang telah tersedia. Pembelajaran daring juga sebagai salah satu pola pembelajaran di era teknologi digital informasi seperti sekarang.

Pembelajaran daring ini merupakan bentuk komunikasi satu arah karena komunikasi yang berlangsung dari satu pihak saja. Tetapi, bagi sebagian orang pembelajaran ini tidak efektif karena gaya belajar setiap orang berbeda-beda dan ada yang harus tetap menggunakan komunikasi dua arah.

“Walaupun pembelajaran daring ini terkesan lebih praktis dibandingkan luring tetapi saya tetap membutuhkan pembelajaran secara offline karena saya suka merasa kesulitan untuk bisa memahami materi pembelajaran secara daring ini,” ucap Nisrina, seorang pelajar di SMAN 7 Bogor, Selasa 14/6.

Pembelajaran daring juga membuat pelajar jadi malas berinteraksi dengan banyak orang dan cenderung lebih menutup diri, karena segala bentuk kegiatan pembelajaran dilakukan secara online tanpa adanya interaksi langsung dengan banyak orang. Kemudian terbentuk sebuah kebiasaan baru yang awalnya terpaksa dilakukan malah menjadi sebuah kenyamanan terhadap perubahan yang terjadi akibat pandemi.

“Kebanyakan melakukan kegiatan secara online dan adanya kebijakan pemerintah mengenai Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau yang biasa kita kenal dengan sebutan PPKM, membuat saya lebih lama menghabiskan hari-hari saya di rumah saja selama pandemi ini berlangsung. Jadi ketika keluar rumah rasanya malas bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang, tidak betah berlama-lama di luar, bawaannya ingin segera kembali ke rumah saja,” sambungnya.

Walaupun Generasi Z merupakan generasi yang tidak asing dengan teknologi, tapi jika semua bentuk pembelajaran dilakukan secara online malah membuat pelajar semakin ketergantungan dengan teknologi. Pembelajaran daring juga meningkatkan masalah pada kesehatan mata, tidak jarang dari pelajar yang mengeluh matanya sakit atau pusing jika menatap layar ponsel atau PC terlalu lama.

Advertisement

“Saya juga merasakan selama dilakukannya pembelajaran daring ini membuat saya tidak bisa jauh dari handphone atau laptop karena takut ketinggalan materi, dan saya jadi mempunyai kebiasaan untuk mengecek handphone setiap 5 menit sekali. Karena sering menatap layar handphone membuat minus saya bertambah yang tadinya minus 2 jadi minus 2,5, kesehatan mata saya semakin menurun selama adanya pembelajaran daring ini,” ucap Nisrina.

Di balik banyaknya kasus yang ditemukan karena adanya pembelajaran daring selama pandemi berlangsung ini, ternyata ada sisi positif yang dapat kita temukan. Generasi Z memiliki karakter yang menggemari teknologi. Sehingga, pola pembelajaran daring ini dibilang efektif untuk generasi Z yang lahir di zaman teknologi dan hidup beriringan dengan perkembangan teknologi yang pesat. Generasi Z juga memiliki karakter yang lebih fleksibel, lebih cerdas dan toleran pada perbedaan budaya, karena itu mereka lebih toleran terhadap perubahan budaya gaya belajar generasi Z dari luring menjadi daring yang terjadi karena dampak adanya pandemi covid-19.

Frian, yang berprofesi sebagai guru turut memberikan tanggapannya dalam kesempatan diskusi yang kami lakukan. “Saya setuju dan dapat merasakan karena adanya pembelajaran daring ini para pelajar jadi semakin mahir menggunakan teknologi, karena pembelajaran daring ini menuntut pelajar untuk bisa belajar secara mandiri dan memanfaatkan teknologi yang ada dengan sebaik mungkin untuk bisa mendukung pembelajaran secara online, mau tidak mau mereka tidak bisa lepas dengan teknologi dan semakin kenal dengan teknologi itu sendiri karena selalu di praktikkan di kehidupan sehari-harinya,”  katanya, Senin 20/6.

Setiap peristiwa yang terjadi selalu memiliki sisi positifnya tersendiri jika kita bisa menilainya. Pandemi ini membawa banyak perubahan yang membuat semua orang harus beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Terutama pada generasi Z, sebagai generasi penerus bangsa tentunya mereka harus melek terhadap teknologi untuk bisa berkontribusi sebagai generasi pembawa perubahan bagi kehidupan bangsa Indonesia itu sendiri.

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: