Geruduk Kantor Summarecon, FWJ Kecam dan Tuntut Ganti Rugi atas Penganiayaan Wartawan

TANGERANG SELATAN (KM) – Kantor milik PT. Summarecon Agung Tbk digeruduk ratusan wartawan dari berbagai media dan organisasi, Kamis siang 21/4.

Aksi yang digelar Forum Wartawan Jakarta (FWJ) itu menuntut pertanggungjawaban perusahaan properti itu atas tindakan eksekusi sepihak terhadap rumah seorang wartawan hingga terjadinya penganiayaan.

Adapun PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) sepanjang tahun 2021 lalu tercatat mengalami pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang cukup fantastis. Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (27/3/2022), PT Summarecon Agung Tbk mencatat pendapatan Rp5,56 triliun pada 2021. Pendapatan itu tumbuh 10,69 persen dari periode 2020 sebesar Rp 5,02 triliun.

Namun, di balik keberhasilannya, Summarecon dituding menghalalkan segala cara dengan mengesekusi penghuni rumah yang telat melakukan pembayaran tanpa adanya putusan pengadilan dan mengerahkan preman untuk melakukan intimidasi.

Menyoroti hal itu, Ketua DPW FWJ Indonesia Wilayah Banten, Robby Liu menuding bahwa peristiwa yang menimpa salah satu wartawan Tangerang hanya satu dari ratusan peristiwa serupa. Menurutnya, kali ini, perusahaan penghasil omset triliunan rupiah per tahun itu kena batunya.

“Kena batunya mereka. Summarecon yang selalu menyajikan promosi elegan, dan gencar menjual propertinya melalui media-media nasional maupun publikasi pencitraan dari berbagai keunggulan Summarecon, faktanya melebihi bisnis komunis [sic]. Bahkan kami menduga kuat, Summarecon Tbk adalah sarang preman perampok hak orang lain, ” ujar Robby pasca orasi di Kantor Summarecon Gading Serpong, Kamis 21/4.

Menyinggung viralnya pengeroyokan terhadap Agus Darma Wijaya, seorang wartawan anggota jaringan FWJ, oleh pihak Summarecon, Panglima Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) yang juga sebagai Pembina FWJ Indonesia Korwil Jakarta Barat, Wirza Syarif alias Minca mendukung penuh aksi wartawan yang menuntut pertanggungjawaban Summarecon atas insiden yang terjadi di Cluster Maxwell No. 28 itu.

Advertisement

“Kita kawal rekan-rekan wartawan menyampaikan aspirasinya, ini rasa kemanusiaan dan solidaritas kami, ” katanya.

Sementara tuntutan aksi telah diterima manajemen Summarecon. Sedikitnya ada 6 tuntutan yang disampaikan para perwakilan aksi di hadapan orang yang mengaku sebagai bagian legal Summarecon Tbk.

Dalam pertemuan itu, Jalintar Simbolon selaku kuasa hukum Agus Darma meminta Summarecon segera memenuhi tuntutan aksi yakni:

1. Membiayai pengobatan kliennya yang mengalami retak 3 tulang rusuk sebelah kanan, kepala bocor, tangan tersayat, dan luka lebam di beberapa tubuhnya akibat injakan serta pukulan.

2. Mengembalikan perabot rumah Agus Darma Wijaya yang diambil pihak Summarecon.

3. Mengembalikan kembali Agus Darma Wijaya bersama istri dan anaknya ke rumah yang dieksekusi sepihak sampai ada keputusan inkrah dari PN Tangerang.

4. Mengganti kerugian imateriil psikologis anak dan istri Agus Darma Wijaya.

5. Mencopot seluruh security di Perumahan Cluster Maxwell.

6. Mendesak aktor intelektual eksekusi tersebut meminta maaf dan menjalankan proses hukum.

“Saya menilai tuntutan klien saya itu sangat mendasar dan perlu mendapatkan perhatian serius dari manajemen Summarecon,” ucap Jalintar.

Namun, Jalintar mengatakan bahwa orang yang ditugaskan pihak manajemen Summarecon untuk mediasi adalah orang yang tidak tepat.

“Saya menyayangkan perusahaan besar seperti Summarecon seperti itu. Dia tadi mengaku legal hukum Summarecon loh, tapi pas kita tanyakan surat kuasa dari Summarecon, dia bilang tidak ada, ” ungkap Jalintar.

Hingga berita ini ditayangkan, KM belum berhasil mendapatkan pernyataan atau keterangan dari pihak Summarecon terhadap klaim dan tuntutan FWJ.

Reporter: Red

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: