Bantah Pernyataan Kejati Banten, Kuasa Hukum MNW Beberkan Beberapa Fakta

SERANG (KM) – Kejati Banten mengundang beberapa awak media yang memberitakan kasus dugaan rekayasa hukum yang dialami tersangka MNW, dimana kasus perdata dipaksakan menjadi pidana oleh Polres Pandeglang Polda Banten dan Kejaksaan Negeri Pandeglang.

Pada hari Kamis, 23 Desember 2021 sekitar pukul 17:00 WIB, Kejati Banten menerangkan kepada wartawan terkait kasus yang ditangani Kejaksaan Negeri Pandeglang, bahwa terdakwa MNW sudah disidangkan dua kali yakni pada hari Senin tanggal 20 Desember 2021 dan hari Rabu tanggal 22 Desember 2021.

Pada kesempatan tersebut, Penerangan Hukum Kejati Banten menjelaskan bahwa tersangka MNW menyatakan tidak memakai kuasa hukum, dan ketika tersangka MNW ditanya apakah bersedia disidangkan? tersangka MNW menjawab bersedia.

Penerangan Hukum Kejati Banten juga menyampaikan bahwa kasus seperti yang dialami tersangka MNW tidak perlu memakai kuasa hukum, hal tersebut diucapkan oleh Assisten Intelijen Kejati Banten Adhy D, didampingi Kasi Penkum Kejati Banten Ivan.

Merespon pernyataan tersebut, Kuasa Hukum tersangka MNW, Ujang Kosasih, mengatakan bahwa hal yang disampaikan oleh Penerangan Hukum Kejati Banten tersebut, diduga Kejati Banten seolah-olah menepis pemberitaan di beberapa media selama ini.

Kuasa hukum tersangka MNW lainnya, Luqmanul Hakim, juga membantah pernyataan Kejati Banten. Menurutnya, pada hari Rabu tanggal 8 Desember 2021, suami dan kakak kandung tersangka MNW buka kuasa untuk dan atas nama kepentingan hukum tersangka MNW.

“Lalu, pada hari Kamis tanggal 9 Desember 2021 tim kuasa hukum berkunjung ke Kejaksaan Negeri Pandeglang untuk koordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum tujuannya adalah mengajukan surat permohonan penangguhan dan minta ijin menemui tersangka MNW di Rutan Pandeglang, namun kuasa hukum tersangka MNW Ujang Kosasih tidak diperbolehkan membawa tas yang isinya adalah berkas berkas pengajuan penangguhan dan surat kuasa tersangka MNW. Selain itu juga dilarang membawa handphone.

Advertisement

“Spontan Ujang Kosasih bertanya kenapa dia tidak boleh membawa tas, kan di dalam tas isinya cuma berkas berkas, keamanan Kejari Pandeglang menjawab pokoknya tidak boleh pak, ini sudah aturan disini Kejari Pandeglang,” jelasnya.

“Kemudian Ujang Kosasih pulang dengan sangat kecewa, lalu Ujang Kosasih di telepon suami tersangka MNW sebelum disidangkan, dan tersangka MNW dihubungi via video call dari Rutan Pandeglang, dan kami para kuasa hukum dikenalkan oleh suaminya kepada tersangka MNW melalui telepon video call, dan tersangka MNW mengerti bahwa nanti dipersidangan akan didampingi penasehat hukum, bukti bukti bisa dilihat di CCTV Rutan Pandeglang terkait telepon video call antara kuasa hukum dan tersangka MNW,” lanjutnya.

“Hal tersebut untuk membantah pernyataan dari Penerangan Kejati Banten, bahkan kuasa hukum masih menyayangkan sikap Kejati Banten yang cenderung kepada pembelaan terhadap Kejaksaan Negeri Pandeglang,” imbuhnya.

“Tak apalah itu hak Kejati Banten membela institusinya,” ucap Ujang Kosasih menambahkan.

Luqmanul Hakim juga menegaskan bahwa dia sendiri yang datang ke Rutan Pandeglang pada hari Selasa tanggal 21 Desember 2021 untuk meminta tanda tangan kuasa tersangka MNW.

“Kok dibilang tidak ada kuasa hukum, ini pasti terdakwa ditekan tekan untuk tidak mengakui kuasa hukumnya sendiri. Diduga Kejati Banten gerah dengan gencarnya pemberitaan di media. Itu semua kami sampaikan sebagai pandangan hukum kami selaku kuasa hukum suami dan kuasa hukum tersangka MNW,” pungkas Luqmanul Hakim.

Reporter : Ade Irawan

Editor : Sudrajat

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: