Masih Tahap Pengerjaan, Proyek Jalan Bernilai 2M di Bekasi ini Sudah Alami Keretakan

Kodisi rigid beton sudah mengalami keretakan, di Jalan Raya H. Bosih, Kelurahan Wanasari, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi (dok. KM)
Kodisi rigid beton sudah mengalami keretakan, di Jalan Raya H. Bosih, Kelurahan Wanasari, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi (dok. KM)

BEKASI (KM) – Proses perbaikan jalan raya H. Bosih, Kelurahan Wanasari, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi masih menjadi sorotan. Pasalnya, proyek yang dikerjakan Kontraktor CV. Varforcea Nowly dan masih dalam tahap pekerjaan sudah mengalami keretakan di beberapa ruas jalan.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Sumber Daya Air Bina Marga dan Bina Konstruksi (DSDABMBK) Kabupaten Bekasi, dengan judul “Peningkatan Jalan Raya H. Bosih” melalui proses Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Tahun Anggaran APBD 2021 dengan pagu anggaran Rp. 2.299.000.000.

Dalam hasil penelusuran kupasmerdeka.com di lokasi pekerjaan, bukan cuma hanya hasil beton rigid saja yang retak, rakitan besi tie bar di bagian sisi kanan anting-anting (sekang) pengikat, terlihat tidak kokoh berdiri melainkan dalam posisi tertidur.

Salah satu warga Wanasari, Yayat Hidayat yang juga anggota PWI Bekasi Raya mengaku sangat kesal dengan cara pengerjaan CV. Varforcea Nowly. Menurut dia, kontraktor bekerja diduga tidak sesuai ketentuan.

“Dari segi per segmen pembesian saja sudah menyalahi, penerapan anting-anting pengikat besi tie bar seharusnya posisi berdiri, ini malah roboh,” ucap Yayat Kamis 9/8.

Advertisement

Yayat juga mengatakan, untuk perakitan besi yang digunakan pihak kontraktor, dirinya menilai terlalu terburu-buru. Parahnya lagi, dowel tie bar untuk penyambung pengikat pada pengerasan beton rigid ada beberapa Sekment lepas dari paralon.

“Ia menduga, kondisi rigit beton yang sudah mengalami keretakan sampai mematah karena cara penempatan besi dari dowel tie bar dan (sekang) atau anting-anting pengikat tidak maksimal, sehingga hasil rigit beton sudah terjadi keretakan,” lanjutnya.

“Seharusnya konsultan dan pengawas atau PPTK sering turun kelapangan agar mengetahui proses pekerjaan, jangan cuma hanya duduk di kantor. Perlu diketahui, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) mendapatkan honor satu persen di setiap proyek yang dikerjakan kontraktor, jadi sudah harus wajib turun kelapangan,” ketus Yayat.

Sementara, Tafiv, PPTK Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (DSDABMBK) Kabupaten Bekasi yang mengawasi Peningkatan Jalan Raya H. Bosih, saat dimintai tanggapan melalui pesan whatsapp terkait rigit beton yang retak, masih enggan merespon.

Reporter: Tim Bekasi
Editor: Sudrajat

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: