Konjen RI Jeddah: “Kita di Sini Tamu, Pahami Etika Bermedsos Agar tidak Berurusan dengan Hukum”

MADINAH, ARAB SAUDI (KM) – Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Arab Saudi, Eko Hartono mengatakan peran media sosial cukup besar untuk mempengaruhi opini publik. Hal itu disampaikan Konjen dalam sebuah pertemuan Sharing Session sekaligus silaturrahmi dengan 12 peserta pembuat konten (content creator) yang berlangsung Minggu, 27 Juni 2021 di Kota Madinah.

Dewasa ini, pemimpin di berbagai negara dan tokoh masyarakat, bahkan tokoh dunia menjadikan media sosial sebagai sarana untuk mengungkapkan pendapatnya.

“Sekarang, Anda sebagai seorang pribadi atau seorang tokoh, waktu menyampaikan pendapat melalui Twitter, melalui Instagram atau Facebook, itu bisa mempengaruhi pendapat orang,” ucap Konjen.

Para ahli hubungan internasional, jelas Konjen, telah meramalkan bahwa sejak globalisasi bergulir yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, peran warga dunia maya yang dikenal dengan sebutan netizen terhadap dalam hubungan internasional cukup dahsyat.

“Kalau selama ini hubungan internasional dalam konteks konvensional lebih banyak dimainkan oleh negara (state) sebagai pelaku hubungan internasional, pada tahun 70-an sampai 90-an muncul LSM atu NGO, muncul perusahaan-perusahaan internasional (MNCs). Kalau di sini ada Aramco. Peran mereka luar biasa dalam mempengaruhi hubungan internasional,” terang Konjen Eko Hartono.

Dalam beberapa catatan sejarah hubungan international, kepentingan bisnis perusahaan-perusahaan besar ini dapat menggeser seorang pemimpin, atau menekan calon pemimpin baru dianggap berpotensi menghalangi kepentingan bisnis mereka.

Advertisement

Di era tahun 2000, lanjut Konjen, muncul media sosial berbasis internet yang mengubah secara dramatis hubungan internasional. Para pemimpin di berbagai negara menggunakan media sosial untuk mengampanyekan pendapat atau pandangan mereka terhadap isu tertentu, menyampaikan sikap politik, kritik, atau bahkan dukungan.

Hal serupa juga dilakukan oleh Pemerintah Arab Saudi untuk mempengaruhi warganya dan menyampaikan semua kebijakannya.

Mengingat begitu besar dampak media sosial ini, Pemerintah Arab Saudi memagari kuat penggunaan media sosial dengan seperangkat aturan yang sangat tegas, agar  tidak disalahgunakan.

“Sudah terbukti saat pemberlakuan jam malam (curfew) beberapa waktu lalu. Pemerintah Arab Saudi mengejar siapa saja yang mengunggah konten yang terkesan menentang kebijakannya, atau meng-upload pelanggaran curfew (jam malam),” ujar Konjen Eko Hartono. 

Contoh lainnya, seperti kasus yang menimpa salah seorang WNI pegiat media sosial yang saat ini ditahan atas tuduhan eksploitasi anak untuk mencari keuntungan pribadi.

“Kita di sini tamu. Pahami etika bermedia sosial agar tidak berurusan dengan hukum,” tegas Konjen mengingatkan.

Hadir pula dalam pertemuan tersebut Pelaksana Fungsi (PF) Pensosbud-1 merangkap Kepala Kanselerai KJRI Jeddah Siti Nizamiyah, PF Pensosbud 2 dan 3, Akhmad Baihaqie dan Tubagus Muhammad Nafia.

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: