Klaim Sepihak Kepemilikan Lahan, Kopelindo Sukses Ratakan Tanah Garapan yang Masih Berstatus Sengketa

DEPOK (KM) – Proyek penataan lahan seluas 13.626 meter persegi yang telah selesai digarap pihak Kopelindo beberapa waktu lalu masih menyisakan polemik dan persoalan terkait status tanah yang masih dalam kondisi sengketa serta tidak wajarnya biaya kerohiman yang diberikan kepada para penggarap lahan.

Lahan yang diklaim sepihak telah dikuasai oleh Kopelindo tersebut berada persis di pinggir jalan raya Sawangan, Kelurahan Rangkapan Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok.

Keberanian pihak Kopelindo menurunkan alat berat dan mengosongkan area lahan yang masih dalam status sengketa tersebut berjalan mulus walau mendapat tentangan dari warga dan berbagai pihak yang berkepentingan atas lahan tersebut.

Disinyalir kesuksesan Kopelindo dalam menjalankan misinya tersebut mendapat bekingan kuat dari para oknum aparatur pemerintah, keamanan, maupun ormas dan preman yang dikerahkan untuk mengawal jalannya pelaksanaan proyek penataan lahan yang rencananya akan dibangun apartemen di lokasi tersebut.

“Sebenarnya protes itu sudah ada sejak awal proyek dimulai bukan hanya dari warga sekitar, tapi juga dari para pengguna jalan yang melintasi jalan tersebut akibat menimbulkan kebisingan, debu yang menyiksa mata dan mengganggu pernafasan, serta menyebabkan banyak tanah merah yang berceceran dijalan,” ujar warga yang enggan disebutkan namanya, Jumat 11/6.

Menurut warga tersebut, papan pengumuman proyek juga tidak pernah terpampang dari awal sampai selesai pekerjaan, sehingga menimbulkan kecurigaan kalau proyek tersebut memang tidak mengantongi izin.

Tim media yang memantau sejak awal jalannya proyek sempat mendapat pernyataan dari seorang yang bertugas mengamankan lokasi proyek dan mengakui memang tidak ada papan proyek.

“Tidak ada papan proyek, karena itu cuma meratakan tanah saja,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Rabu 2/6 lalu.

Selang beberapa waktu setelah pekerjaan penataan lahan selesai, kekecewaan warga yang telah bertahun-tahun tinggal di atas tanah garapan tersebut kembali meletup, mereka menuntut keadilan kepada pihak yang terkait, terutama dari pihak Kopelindo yang telah semena-mena meratakan hunian dan tempat usaha mereka tanpa kompensasi yang layak.

Advertisement

Rencananya, puluhan warga yang kecewa tersebut dalam waktu dekat ini akan menggelar aksi meminta keadilan.

Sementara itu, menanggapi keluhan warganya tersebut, Lurah Rangkapan Jaya, Kharisma Eka Putra, saat dikonfirmasi tim media menyatakan jika pihak Kopelindo sebelumnya sudah pernah berkomunikasi dengan pihak kelurahan terkait rencana penataan lahan berdasarkan SHGB yang ditunjukkan Kopelindo.

“Kalau untuk permasalahan proses yang dilakukan oleh Kopelindo, selama ini pihak Kopelindo memang pernah berkomunikasi dengan kami di kelurahan untuk melakukan semacam pemberitahuan kepada kami, bahwa mereka akan melakukan penataan dan perapihan lahan. Yang ditunjukkan kepada kami alas bukti kepemilikannya Sertifikat Hak Guna Bangunan yang dikeluarkan oleh BPN. Jadi kalau kaitan lahan dengan garapnya, saya kurang tahu itu garapan apa bukan,” ucap Lurah Rangkapan Jaya, Selasa 8/6.

“Kalau kami pihak kelurahan tidak bisa mengizinkan atau tidak bisa melarang. Karena yang dilakukan menata tanahnya sendiri, dalam artian yang dibawa ke saya adalah sertifikat,” lanjutnya.

Terpisah, warga lainnya yang juga tergusur berharap agar keadilan harus tetap ditegakkan demi kelangsungan hidup dan tempat tinggal mereka.

“Ada sebagian yang belum dapat kerohiman kalau tidak salah, saya masih menyimpan data-datanya,” ungkap warga yang tidak mau disebutkan identitasnya itu kepada tim media.

“Sekitaran satu minggu lalu, pihak Kopelindo mengundang warga di Saung Talaga selepas maghrib, dan yang diundang sebanyak 10 sampai 20 orang. Dan untuk uang kerohiman sendiri diambil atau tidak diambil, akan tetap digulung, aparat-aparat setempat pun seperti RT dan RW menjadi korban. Saya menerima uang sebesar 2,5 juta sampai cakilnya sendiri ngomong, untuk mas sendiri, struktur tanahnya rata, dan saya berani pasang badan, dan untuk lebih dari pada itu saya tidak bertanggung jawab,” pungkasnya.

Reporter: Sudrajat & Tim
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: