Kadis LHK Bogor Bantah Ada “Permainan” di Balik Pertemuannya dengan Direksi PT. Rainbow Indah Carpet

Wartawan kupasmerdeka.com mewawancarai Kadis LHK Kab Bogor terkait PT. Rainbow Indah Carpet, Rabu (16/6/2021). (Dok : Hari Setiawan Muhammad Yasin/KM)

BOGOR (KM) – Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Bogor Asnan memberikan jawaban atas dugaan pencemaran lingkungan yang dilakukan PT. Rainbow Indah Carpet di kantornya, Rabu 16/6. 

Pencemaran tersebut diduga berada di balik merebaknya infeksi saluran pernapasan (ISPA) di tengah warga Kampung Mandalasari RT 01, RW 03 Desa Cimandala, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor.

Menurut Asnan, masalah PT. Rainbow Indah Carpet sudah ada sebelum dirinya menjabat Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Bogor.

“Nah terkait PT. Rainbow, saya sebelum masuk itu ke DLH juga sudah dipermasalahkan sebelum masuk ke DLH itu, ini saya klarifikasi sudah beberapa kali ini dengan teman-teman wartawan, bahkan setelah mereka meminta klarifikasi ga ada di kantor beritanya,” tuturnya.

“Artinya begini, pengaduan masyarakat itu kita tindak lanjuti, saya masuk di DLH bulan Juli 2020 mendapatkan laporan dari masyarakat berkaitan dengan pencemaran udara yang dilakukan PT. Rainbow.  Saya langsung rapat dengan tim untuk menindaklanjuti.  Bidang penataan hukum nanti yang akan menindaklanjuti laporan dari masyarakat,” jelasnya.

“Yang pertama minta klarifikasi dengan masyarakat, kemudian kedua, kita turun ke PT. Rainbow, mengecek, kemudian ditentukanlah oleh kita uji sampling udara yang dilaksanakan oleh pihak ketiga yaitu PT. Global,” bebernya

“Awalnya kita menggunakan PT. Sistplate. Karena PT. Rainbow minta PT. Global yang sudah mereka gunakan.  Terlepas itu, saya sih yang terpenting pihak lab nya yang sudah terakreditasikan, mau PT. Sistplate, PT. Global yang terpenting kan hasilnya, karena hasil itu itu tidak bisa direkayasa,” cetusnya.

Asnan menegaskan setelah hasil labnya keluar setelah 14 hari dan dinyatakan masih aman, masyarakat “belum mengerti” arti hasil lab tersebut.

“Nah kemudian hasilnya ditunggu 14 hari, dari hasil itu hasil labnya itu dikatakan Global masih di bawah ambang ambien, itu artinya masih sesuai Permen LHK, baik itu tingkat kebauan maupun kebisingannya. Kita sampaikan ke Ketua RW dan masyarakat yang diwakili oleh beberapa warga, tapi mereka gak paham hasil lab, yang penting masyarakat mah bau dan bising kan? Tapi aturan, bising dan kebauannya itu masih di bawah ambang batas ambien,” terangnya. 

Asnan menuturkan, dirinya beserta DLH mengecek kembali kegiatan yang sudah dilakukan oleh PT. Rainbow.

“Nah kemudian kita cek lagi beberapa kegiatan yang ada di PT. Rainbow, PT. Rainbow ini ada beberapa kewajiban dia yang tidak atau belum dilaksanakan di dalam lingkungan UKL/ UPL-nya seperti laporan bak mutu air, laporan penanganan limbahnya seperti apa?” jelasnya.

“Hanya dalam bentuk laporan [yang kurang], kalau kegiatannya dia sudah dilakukan, nah kita langsung keluarkan sanksi administrasi, artinya yang dikeluarkan DLH itu sanksi administrasi karena dia tidak mentaati dokumen yang sudah dibuat, nah setelah kita berikan sanksi administrasi karena ada yang belum terpenuhi, setelah itu ia penuhi beberapa kegiatannya secara administrasi dan itu sudah kita laporkan di bulan kemarin (Mei 2021) ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia sebagai tembusan,” tutur Asnan.

Terkait tudingan bahwa AMDAL pabrik tersebut bodong, Asnan menegaskan bahwa AMDAL itu sudah ada dari dulu dan bisa dinyatakan sah.

“Ada isu AMDAL nya bodong, AMDAL kan udah dari dahulu bukan zaman sekarang saya masuk gitu pengajuannya, AMDAL nya sudah ada dari dulu, semuanya sudah kita tindak lanjuti apa yang menjadi penyampaian lapangan dari masyarakat,” terangnya

“Kalau pelanggarannya sudah dibangun atau gimana itu urusannya Satpol PP dan DKPP Kabupaten Bogor,” tegas Asnan.

Saat wartawan kupasmerdeka.com mengkritisi tujuan bertemu dengan direksi PT. Rainbow Indah Carpet di kantornya di Kecamatan Sukajaya, Asnan mengklaim bahwa dalam pertemuan tersebut, tidak ada “permainan” apa-apa.

Advertisement

“Betul, saya ingat saat bertemu dengan salah satu direksi atau pimpinan, seinget saya yang baju biru namanya Anton, satu lagi gak tahu, dalam foto bertiga itu, nah saya berkaitan dengan sanksi administrasi yang sudah kita sampaikan tolong dipenuhi, masa kita gak harus sampaikan ke beliau, kan gitu. Untuk segera dipenuhi sanksi yang sudah kita berikan,” jelasnya.

“Tolong kewajibannya dipenuhi, ini pak, ini pak, dan memang mereka menghadap ke saya gitu, dan saya juga meninjau kesana dengan Satpol PP, insya Allah lah saya tidak akan indikasi-indikasi tanda kutip gitu, karena itu bukan tipe saya, ya karena memang isu di lapangan yang beredar kan gitu,” bantahnya.

“Kalau saya sih kerja ya kerja, kalau ada laporan dari masyarakat ya itu yang kita kerjakan, ga ada saya ga ada permainan, fitnah ini pencemaran nama baik saya, silahkan cek aja, iya, saya ga takut gitu, saya tidak akan main-main dengan pelanggar, apalagi saya asli dari Kabupaten Bogor, harus menjaga marwahnya Kabupaten Bogor, kalau saya bukan asli orang Bogor mah bodo amat, kerja kerja aja, selesai kerja pasti pulang gitu,” kata Asnan.

Kembali Asnan menjelaskan saat memberikan sanksi administrasi apa saja yang diberikan kepada PT. Rainbow Indah Carpet.

“Sanksi administrasinya itu adalah keputusan dinas bahwa disampaikan bahwa PT. Rainbow ini belum memenuhi kewajibannya seperti A, B, C, D, seperti yang tercantum di buku UKL/ ULP nya gitu, kan ada di dalam UKL/ ULP nya itu kewajibannya melaporkan, waktu itu belum dilakukan oleh PT. Rainbow laporan Triwulan, bulanan dan segala macamnya,” jelasnya.

Asnan memberikan saran kepada Direksi PT. Rainbow Indah Carpet untuk berdialog dengan masyarakat sekitar untuk meyelesaikan hal ini. Sedangkan warga yang masih menyuarakan soal pencemaran hanyalah oknum.

“Jadi mereka itu oknum, dalihnya pencemaran artinya ada hal-hal lain mungkin saya kira. Nah ini saya sedang dorong, nanti PT. Rainbow itu harus berbaik- baik dengan masyarakat sekitar dan itu sudah dimusyawarahkan dan kemarin PT. Rainbow juga musyawarah dengan masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, merespon kabar bahwa dirinya dan direksi PT. Rainbow Indah Carpet akan diperiksa KLHK RI, dan akan dicopot jikalau bersalah, ia menegaskan bahwa yang akan menentukan bersalah hanya KLHK RI, dan pencopotan jabatan ada di tangan Bupati Bogor.

“Kita sampai hari ini belum ada konfirmasi dari dinas, kapan dia (KLHK RI) akan turunnya kan gitu, karena kita sudah melaporkan waktu kita baik secara tertulis maupun secara zoom, saat rapat dengan mereka, mengenai siapa aja yang salah karena kan yang bisa nenentukan hanya KLHK RI, terkait pencopotan saya itu kewenangannya ada di Bupati Bogor, pihak KLHK RI hanya akan mengecek dan mentukan siapa yang salah,” tuturnya.

Asnan juga menambahkan sudah bertemu dengan Menteri LHK RI Siti Nurbaya saat pelepasan burung elang jawa di Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor, dirinya menegaskan pemberitaan yang beredar itu sah-sah saja.

“Saya sih sudah bertemu dengan Ibu Menteri  (Menteri LHK) pada tanggal 1 Juni 2021, hari kelahiran Pancasila, kan Bu Menteri melepaskan burung elang jawa di Kecamatan Cijeruk, dan saya juga jelaskan kepada Ibu Menteri Siti Nurbaya dia juga paham, kalau pemberitaan mah wajar aja, sah-sah aja,” pungkasnya.

Reporter: HSMY

Editor:  MSO

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: