Pemkot Bogor Siapkan Pembelajaran Tatap Muka bagi SD Hingga SMA

Ilustrasi simulasi belajar tatap muka (dok.suarasurabaya.net)
Ilustrasi simulasi belajar tatap muka (dok. suarasurabaya.net)

BOGOR (KM) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Pendidikan (Disdik) tengah mempersiapkan pembelajaran tatap muka (PTM) untuk SD, SMP dan SMA atau sederajat. Hal ini dilakukan atas dasar Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri, yaitu Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Agama (Menag), Menteri Kesehatan (Menkes) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).

“Kalau dari pusat menjadwalkan pelaksanaan tatap muka Juli mendatang,” ungkap Kepala Disdik Kota Bogor, Hanafi, Jumat 9/4.

Hanafi mengatakan, secara umum semua daerah mempersiapkan pelaksanaan tatap muka. Nantinya pembelajaran tatap muka ini hanya kegiatan belajar mengajar saja, sedangkan kantin dan ekstrakurikuler belum diperbolehkan beroperasi, sehingga anak-anak harus membawa bekal dari rumah.

“Disdik mengambil langkah teknis dengan membentuk Satgas Covid-19 Pelajar. Beberapa sekolah sudah mempersiapkan sarana prasarananya. Mulai dari tempat mencuci tangan, desinfektan, cek suhu dan nanti dilakukan uji coba terlebih dahulu,” tutur Hanafi.

Khusus Sekolah Dasar (SD) kata Hanafi, situasinya lebih pelik mengingat jumlah SD di Kota Bogor cukup banyak, siswanya pun banyak dan yang paling dikhawatirkan penerapan 3M, terutama jaga jarak sesama siswa. Pihaknya pun akan mempersiapkan dengan matang sebelum membuka sekolah, sementara TK dan PAUD perlu ditinjau kembali mengingat resikonya lebih besar.

Advertisement

“Sebelum tatap muka, kami akan minta persetujuan orang tua melalui polling, apakah orang tua setuju sekolah dibuka atau tidak,” ujar Hanafi.

Disdik merencanakan beberapa alternatif untuk pembelajaran tatap muka ke depannya. Sebab, pembelajaran tatap muka tidak akan 100 persen atau akan dibagi 30 persen tatap muka dan 70 persen daring. Alternatif lainnya, setiap kelas masuk bergantian mulai dari kelas 9, kelas 8 dan kelas 7 namun ini sedikit akan repot.

“Alternatif ketiga dilakukan per pekan, satu minggu sekali dengan jumlah 50:50 dan sepertinya ini lebih efektif karena bisa dimonitor kondisi siswanya,” terang Hanafi.

Lebih lanjut Hanafi mengatakan, SMA walaupun urusan provinsi tapi lokasinya ada di Kota Bogor tetap menjadi perhatian Disdik. Kekhawatirannya, para pelajar SMA setelah pulang sekolah apakah langsung pulang ke rumah atau tidak.

“Jadi kami harus koordinasikan ke Satgas Covid-19 Kota Bogor, Dewan Pendidikan dan lainnya. Kami juga akan uji coba PTM beberapa sekolah yang sudah membuat video,” pungkas Hanafi.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: