Tidak Manusiawi, “Yayasan Kita Bisa Indonesia” Dituding Tilep 93% Donasi untuk Pengobatan Mahfud

Mahfud bersama kuasa hukum dari Kantor Hukum Sembilan Bintang & Partners (dok. KM)
Mahfud bersama kuasa hukum dari Kantor Hukum Sembilan Bintang & Partners (dok. KM)

BOGOR (KM) – Sempat dikabarkan meninggal, Mahfud, yang terkenal sebagai relawan lalu lintas yang nyentrik di simpang Jalan Sancang, Kota Bogor, ternyata mengalami sakit parah selama empat bulan sehingga menghilang dari jalanan.

Lalu, seperti jatuh tertimpa tangga, pria berusia 49 tersebut harus gigit jari karena namanya didompleng untuk kepentingan lain. Saat dirinya sakit, ada “yayasan” yang mengumpulkan donasi atas namanya.

Jumlah cukup fantastis yang dikumpulkan sekelompok anak muda yang mengatasnamakan “Yayasan Kita Bisa Indonesia” disebut mencapai Rp431 juta. Namun nyatanya, Mahfud hanya menerima sekitar Rp30 juta atau hanya sekitar 7% dari total donasi yang dikumpulkan, yang hanya cukup untuk biaya pengobatan jalan selama sakit sejak September 2020 itu.

Hal itu diungkapkan Direktur Kantor Hukum Sembilan Bintang & Partners, R Anggi Triana Ismail. Anggi menyampaikan, bahwa atas kejadian itu, Mahfud meminta bantuan hukum guna menuntut keadian. “Semangat itu tidak sesuai harapan. Donasi yang terkumpul hampir setengah miliar itu tidak sepenuhnya sampai ke tangan Pak Mahfud,” ungkap Anggi dalam rilis pers yang diterima KM, Rabu 24/3.

“Ya Yayasan hanya menyerahkan donasi itu kurang lebih Rp30 juta,” tambah Anggi dalam rilis itu.

Advertisement

Anggi juga mengatakan, menurut keterangan Mahfud, biaya itu hanya habis untuk pengobatan jalan, dan belum beli obat serta kebutuhan sehari-harinya. Sebab saat sakit selama 4 bulan lebih, Mahfud tidak ada pemasukan sama sekali.

“Ini tindakan tidak manusiawi. Bagaimanapun klien kami merupakan subjek penerima manfaat dari sumbangan yang terkumpul melalui yayasan. Seharusnya yayasan menyerahkan semuanya ke Mahfud guna kebutuhan pengobatan dan kebutuhan sehari-hari,” jelas Anggi.

Jadi, lanjut Anggi, tanpa memberikan penjelasan yang konkret, pihaknya menduganya sebagai perbuatan yang bersifat melawan hukum.

“Berangkat dari UU No. 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang/Barang, jelas pemanfaatannya semata untuk kesejahteraan bagi yang membutuhkan. Sudah jatuh tertimpa tangga pula klien kita ini. Hal ini sudah tidak bisa ditolerir lagi, kami akan sikapi dengan tegas yayasan ini, yang diduga telah melakukan perbuatan yang bersifat melawan hukum ini,” tutup rilis tersebut.

Ketika awak media menyusuri mesin pencarian untuk mendapatkan konfirmasi, nama “Yayasan Kita Bisa Indonesia” rupanya tidak ditemukan.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*