Harga Kedelai Melambung, Produsen Tahu dan Tempe Ketar Ketir

Produsen tahu dan tempe olahan home industry di Lampung Utara (dok. KM)
Produsen tahu dan tempe olahan home industry di Lampung Utara (dok. KM)

LAMPUNG UTARA (KM) – Harga kedelai naik di masa pandemi covid-19, yang tentunya berdampak kepada usaha mikro rumahan, yang sebagian bahkan terancam tutup.

Kesulitan kondisi ini digambarkan oleh salah satu pengrajin tempe dan tahu di Kelurahan Sribasuki, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, yang bernama Sujono.

“Sebagai produsen, harga kedelai untuk pembuat tempe dan tahu melambung tinggi dengan kisaran harga dari Rp7.000/kg mencapai Rp9.000/kg,” tutur Sujono.

Menurutnya, harga mulai naik sekitar kurang lebih satu bulan yang lalu, dan kenaikan harga tersebut bertahap.

“Menyikapi kenaikan harga tersebut, tentunya sebagai produsen kami telah melakukan kesepakatan kepada setiap pembuat atau produsen lainnya untuk menaikkan harga jual kepada pembeli,” jelasnya.

“Kisaran harga jual, harga tempe yang biasanya Rp5000 per potong, naik menjadi Rp6000 per potong. Begitu juga tahu, harga tahu kecil yang biasanya Rp200 per potong, naik menjadi Rp 250 per potong, harga tahu besar Rp400 per potong naik menjadi Rp500 per potong,” lanjutnya.

Advertisement

“Kenaikan harga jual di atas tentunya sesuai dengan kenaikan harga pokok kedelai, kisaran kenaikan yang mencapai 20-30 persen,” ujar Sujono.

Sebagai produsen, dirinya berharap kepada pemerintah dan anggota DPRD setempat memberikan solusi agar dapat bertahan dalam usahanya di tengah masa pandemi covid-19, agar usaha tetap berjalan dan memberikan penghasilan yang cukup.

“Dapat dimungkinkan bila harga terus naik, usaha kami dapat terancam tutup, serta menimbulkan pengangguran bagi karyawan serta keluarga kami,” pungkasnya.

Reporter: imron
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: