Damkar Tanjungbalai Tidak Terima Anggaran untuk Akses Internet, Aktivis Pertanyakan

Ketua GARI-SU Rudi Bhakti dan Ketua WAHAPI Andrian Sulin (dok. KM)
Ketua GARI-SU Rudi Bhakti dan Ketua WAHAPI Andrian Sulin (dok. KM)

TANJUNGBALAI (KM) – Beredar kabar bahwa para Satgas Pemadam Kebakaran Tanjungbalai sudah hampir 3 tahun membiayai sendiri layanan wifi untuk kantor Pemadam Kebakaran Tanjungbalai.

Setiap anggota satgas masing-masing mengeluarkan uang pribadi berkisar antara Rp5.000 sampai dengan Rp10.000 per orang yang dikutip setiap bulannya dan dibayarkan sendiri kepada pihak penyedia layanan.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Wahana Anak Pinggiran Indonesia (WAHAPI) Kota Tanjungbalai Andrian Sulin dan Ketua Gabungan Aktivis Reformasi Sumatera Utara (GARI-SU) Rudi Bhakti menyampaikan kepada wartawan bahwa mereka merasa kecewa.

Andrian mengatakan bahwa Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran merupakan satu batang tubuh anggaran dinas, sehingga tidak seharusnya ada pemisahan layanan internet di masing-masing satuan tersebut. Ia juga mengatakan bahwa dalam penggunaan anggaran tiap tahun, Satpol PP selalu menganggarkan biaya kebutuhan kantor untuk layanan internet wifi.

“Satpol PP dan Damkar satu batang tubuh anggaran, tak seharusnya ada perbedaan, kita tau setiap tahun ada penganggaran wifi di Dinas Satpol PP, tapi mengapa prakteknya Damkar tidak dapat menerima manfaat, padahal jarak kantor Satpol PP dan markas pemadam hanya lebih kurang 50 meter,” kata Andre.

Di samping itu, Rudi Bhakti menambahkan bahwa seharusnya Satgas Pemadam Kebakaran lebih membutuhkan layanan wifi supaya lebih mudah dengan cepat mendeteksi informasi-informasi titik kebakaran yang terjadi di wilayah Tanjungbalai karena saat ini hampir semua informasi cepat beredar di media sosial atau aplikasi komunikasi seperti WhatsApp daripada telepon langsung.

Advertisement

“Damkar yang lebih butuh wifi, biar cepat dapat info kebakaran misanya dari WhatsApp dan Facebook, karena sekarang masyarakat lebih banyak menggunakan dua media tersebut, ketimbang menelepon langsung ke kantor untu melapor kebakaran,” kata Rudi.

Kemudian, sesuai hasil penelusuran KM di lapangan, beberapa Satgas mengatakan bahwa mereka sudah beberapa tahun memang harus bayar biaya wifi sendiri dengan cara patungan untuk digunakan di Markas Pemadam Kebakaran Tanjungbalai.

“Bayar sendiri kami bang, cemana la, awak butuh, sakit juga memang kami rasa bang seperti dianaktirikan, tapi mau cemana lagi, dan ini sudah lama kami tahankan,” kata seorang satgas yang tidak ingin disebutkan namanya dan diamini beberapa temannya yang lain.

Sementara itu, Bendahara Satpol PP Tanjungbalai, Suwanda saat dikonfirmasi mengarahkan untuk langsung mempertanyakannya kepada Kepala Seksi Damkar.

Atas persoalan ini, Andre dan Rudi berencana akan membuat laporan kepada Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Tanjungbalai beberapa hari mendatang sembari menggelar aksi unjuk rasa.

Reporter: RBB
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*