Tidak Hanya Intimidasi, Oknum Security BRI Cabang Pandeglang Rebut dan Hapus Data Liputan Milik Wartawan

(dok. KM)
(dok. KM)

PANDEGLANG (KM) – Perlakuan kasar dan intimidasi terhadap wartawan kembali terjadi, kali ini terhadap jurnalis media online Seantero.co.id dan juaramedia yang melakukan peliputan situasi pencairan yang menimbulkan kerumunan massa adi Bank BRI di Kabupaten Pandeglang, Selasa 1/12/2020.

Wartawan seantero.co.id Dedi Hidayat danrekannya dari Juaramedia dihalang-halangi oleh oknum Satpam BRI Pandeglang saat melakukan liputan. Oknum itu juga merebut serta mengambil paksa handphone milik wartawan untuk dihapus data-data foto dan videonya.

“Iya saya dihalang-halangi termasuk tadi HP saya diambil Satpam BRI Cabang Pandeglang dan menghapus foto juga video. Ini jelas telah menghalang-halangi tugas sebagai wartawan untuk meliput kondisi di BRI yang terlihat banyak kerumunan,” kata Dedi.

“Saya akan laporkan pada penegak hukum karena telah melakukan tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan karena telah merampas HP saya dan banyak data saya kehapus oleh oknum Satpam BRI itu. Tak hanya itu, oknum satpam itu juga menantang,” tambahnya.

Menurut Dedi, oknum petugas satpam BRI Pandeglang itu juga telah melanggar UU Pers No. 40 tahun 1999 tentang tugas pokok dan fungsi pers.

“Dalam UU nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, bahwa bagi siapa saja yang melakukan kekerasan dan menghalangi wartawan dalam melaksanakan tugas peliputannya, maka si pelaku tersebut dapat dikenakan hukuman selama 2 tahun penjara dan dikenakan denda paling banyak sebesar Rp500 juta rupiah,” ujarnya.

Advertisement

Sementara itu, oknum Satpam BRI Cabang Pandeglang berinisial MF saat dimitai keterangan menyatakan bahwa dirinya “punya prosedur” dan “tidak boleh sembarang media, harus ada izin dulu,” katanya.

Sekretaris DPC Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI) Kabupaten Pandeglang menyayangkan kejadian tersebut.

“Seharusnya oknum satpam itu melayani sesuai dengan motto bank tersebut, bukan dengan cara menghalang-halangi terus merebut handphone wartawan yang sedang melakukan peliputan. Kalau memang tidak ada yang salah, kenapa harus menghalangi dan merebut paksa HP wartawan, untuk dihapus data-data foto dan video berlangsungnya kegiatan pencairan nasabah,” katanya.

“Ini kan tugas jurnalistik, bukan mengorek keterangan tentang keuangan pihak bank dan kita juga bukan ke arah itu tetapi hanya meliput kegiatan masyarakat yang akan mengambil bantuan sosial, yang diduga telah melanggar protokol kesehatan tentang menjaga jarak dan menghindari kerumuman massa. Hal ini juga jelas sekali telah melanggar Undang-undang Pokok Pers No. 40 tahun 1999,” pungkasnya.

Reporter: wahid
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*