Orang Tua Murid Lulusan Tahun 2020 SMPN 1 Pagaden Tuntut Pengembalian Iuran Ujian dan Perpisahan yang Batal

SUBANG (KM) – Sejumlah orang tua murt lulusan tahun 2020 SMPN1 Pagaden, Kabupaten Subang, mempertanyakan pemanfaatan uang iuran sebesar Rp600.000 per siswa, saat anaknya masih sekolah di SMPN 1 Pagaden.

Iuran tersebut sampai anak-anak mereka lulus pun tidak ada kejelasan terkait rincian penggunaanya, menurut mereka.

Menurut salah satu orang tua siswa berinisial C, masalah itu berawal saat rapat orang tua siswa kelas IX di sekolah di mana disampaikan bahwa ada iuran sebesar Rp 600 ribu untuk sejumlah kegiatan.

“Awalnya kami para orang tua siswa kelas IX diundang rapat di sekolah. Hasil rapat itu harus membayar iuran Rp600 ribu per siswa untuk biaya pengayaan, ujian dan perpisahan,” tutur C.

“Sehubungan di sekolah tidak ada kegiatan ujian dan perpisahan, maka saya minta untuk dikembalikan uang itu, sebab sekarang anak saya sudah sekolah di tempat lain,” lanjutnya.

“Saya dengan orang tua siswa yang lain pernah menanyakan ke sekolah namun tidak bertemu dengan kepala sekolah yang dianggap bertanggung jawab. Bahkan kami beserta para orang tua yang lain, sudah merencanakan akan mendatangi sekolah secara beramai-ramai, namun sampai saat ini belum bisa terlaksana karena kesibukan masing-masing,” ungkapnya kepada KM Jumat lalu 28/8.

Adapun Hapid selaku humas SMPN 1 Pagaden membantah anggapan bahwa sejumlah uang tersebut belum digunakan untuk kepentingan siswa pada saat itu.

Advertisement

“Dari sejumlah 256 siswa kelas IX, dari hasil rapat orang tua, komite dan pihak sekolah, telah disepakati untuk biaya pengayaan sebesar 200 ribu, 
Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) membeli instalasi komputer sebesar 200 ribu, perpisahan sebesar 150 ribu dan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sebesar 50 ribu,” kata Hapid.

“Semua item tadi sebenarnya sudah kami laksanakan, hanya mungkin untuk kegiatan perpisahan kami laksanakan secara sederhana yaitu dengan memberikan buku panduan dan cendra mata,” lanjutnya.

“Sebenarnya kami sudah merencanakan untuk mengundang para orang tua siswa untuk klarifikasi penggunaan uang tersebut. Namun sehubungan ada larangan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Subang karena covid-19, untuk tidak mengumpulkan/tatap muka dengan orang banyak maka kami tidak melaksanakannya.”

Kata Hapid, dari 256 siswa, dana yang masuk hanya 40% karena afirmasi atau subsidi silang. “Juga memang ada beberapa orang tua saat itu datang ke sekolah dan kami jelaskan rinciannya. Begitupun saat ini jika ada pihak orang tua yang mau datang akan kami jelaskan. Dan untuk lebih jauhnya, tentang hal ini hubungi saja langsung Pak Edi kepala sekolah yang dulu menjabat dan sekarang beliau menjadi Kepsek SMPN 6 Subang,” pungkas Hapid.

Reporter: Lily Sumarli, Udin Samsudin
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*