KUPAS KOLOM: Surat Terbuka: Kritik atas Tayangan “Fakta” TV One

Program
Program "fakta" di TvOne (dok. viva.co.id)

Oleh Dede Azwar Nurmansyah, Co-Founder Kalam Institute: Media Coaching Center (e-mail: kalamimcc[at]gmail.com)

Kehidupan beragama di Indonesia yang majemuk lagi-lagi diterpa ujian. Kali ini, ujian itu datang dari media penyiaran TV One melalui program “Fakta” yang ditayangkan pada Senin malam, 31 Agustus 2020, lalu. Sungguh, TV One telah membuat insan beragama di Tanah Air terkejut sekaligus geram bukan main.

Bagaimana tidak? Tayangan Fakta yang bertema “Ramai Penolakan, Syiah Tetap Berjalan” itu amat bermasalah dari banyak aspek, dus bias dan penuh distorsi. Akibatnya, “Fakta” pun cenderung melawan fakta dan cita kebersamaan, kerukunan, dan kedamaian, hidup beragama yang menjadi salah satu pilar utama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di tengah situasi sensitif dan kerentanan sosial yang dipaksakan, baik oleh oknum internal maupun eksternal, serta kebutuhan Indonesia kepada segala bentuk perekat bangsa, apa yang dilakukan TV One dapat dikategorikan sebagai tidak bertanggung jawab, tidak profesional, dan hina.

Bagaimana bisa TV One begitu nekat dan sengaja menyampaikan “informasi keliru dan menyesatkan” kepada audiens dengan cara menghadirkan narasumber yang tidak kompeten dan seting acara yang cenderung tendensius? Jelas, tayangan itu menista fakta yang benar-benar faktual dan bukan “Fakta” sebagai sekadar kemasan dan sebutan. Terlalu besarkah syahwat mengejar rating dan motif komersial TV One sampai-sampai tega merengut kehormatan sejumlah besar anak bangsa yang berhak menikmati kebebasan yang sama dalam hal beragama dan berkeyakinan?

Tayangan itu mengindikasikan betapa rendahnya mentalitas para pekerja media TV One sehingga lebih cenderung berperilaku layaknya mafia dan penjudi dalam industri media massa. Lebih jauh, tayangan khusus TV One yang menyoroti ajaran, tradisi, dan komunitas Muslim Syiah itu terlihat melanggar sejumlah kode etik dan asas jusrnalistik yang berlaku secara nasional melalui keputusan Dewan Pers No 03/ SK-DP/ III/2006 tanggal 24 Maret 2006.

Intinya, dalam tayangan Fakta yang bertajuk provokatif, bombastis, dan sekadar click bait itu, pihak TV One:

  1. Tidak memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar. Hal ini mencerminkan rendahnya moralitas dan etika jurnalistik TV One yang seyogianya menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme.
  2. Punya kecenderungan tidak independen sehingga menghasilkan berita yang tidak akurat, tidak berimbang, dan beritikad buruk.
  3. Minim dari segi profesionalitas pekerjanya dalam menggarap dan menayangkan produk jurnalistik.
  4. Melalui pembawa acaranya, tampak jelas tidak berupaya menguji informasi, tidak memberitakan secara berimbang, mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta tidak menerapkan asas praduga tak bersalah.
  5. Tidak selektif dalam memilih narasumber yang kompeten, kredibel, dan otoritatif sehingga tayangan itu menjadi semacam pengadilan in absentia, serta proyek menyebarluaskan fitnah, kebohongan, dan ujaran kebencian terhadap komumitas muslim Syiah melalui ujaran narasumber yang tendensius, penuh kebencian, bertentangan dengan bukti dan fakta ajaran Islam Syiah, serta sarat dengan kebohongan, pelecehan, dan penodaan agama Islam mengingat Syiah bersama-sama Ahlussunnah merupakan dua mazhab arus utama dalam Islam.
  6. Advertisement
  7. Dalam menggarap dan menayangkan “Fakta” yang terkait komunitas, mazhab, dan tradisi umat Muslim Syiah di Indonesia, didasari prasangka dan diskriminasi atas mazhab keislaman Syiah sehingga cenderung bias, memihak, sekaligus merendahkan martabat ajaran dan komunitas muslim Syiah.

Selain itu, pihak TV One melalui tayangan Fakta sedikit banyak melanggar empat asas jurnalistik nasional:

  1. Asas demokratis dengan menyiarkan program Fakta secara tidak berimbang dan independen. Oleh karena itu, TV One wajib melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional, karena diharuskan mengutamakan kepentingan publik dan agar tidak sampai menzalimi pihak manapun, khususnya dalam kasus ini adalah komunitas muslim Syiah.
  2. Asas profesionalitas di mana TV One sama sekali tidak menunjukkan motif dan sikap yang profesional, baik dari segi teknis maupun filosofi tayangan program Fakta. Dengan ditayangkannya Fakta, TV One telah membuat, menyiarkan, dan memproduksi tayangan yang bias, tidak akurat, mencampuraduk fakta dengan opini sesat, tidak berimbang, dan jauh dari faktual.

Motif dan sikap tidak profesional TV One itu sama saja dengan pelecehan terhadap profesi jurnalis pada umumnya.

  • Asas moralitas dengan mengemas tayangan Fakta secara tidak fair, bias, sarat distorsi, dan sebagainya tanpa mempedulikan dampak sosial negatif yang luas terhadap tata nilai, kehidupan, dan penghidupan masyarakat yang terkenal religius. Secara jelas, tayangan Fakta mengenai komunitas Muslim Syiah, sengaja atau tidak, ikut memperkeruh suasana yang sebelumnya sudah sensitif dan provokatif secara keberagamaan.

Karenanya, boleh dibilang, TV One telah menyalahgunakan profesi, merendahkan martabat, sekaligus diskriminatif secara SARA, terhadap komunitas muslim Syiah.

  • Asas supremasi hukum di mana penayangan program Fakta sama sekali tidak mengindahkan hak konstitusional dan legal komunitas muslim Syiah selaku warga negara Republik Indonesia. Apakah tayangan itu mencerminkan TV One merasa kebal hukum? Wallahu a’lam

Demikian surat terbuka ini saya sampaikan berdasarkan pengamatan dan refleksi saya terhadap cita dan fakta jurnalisme TV One sekaitan dengan tayangan Fakta  “Ramai Penolakan, Syiah Tetap Berjalan”.

Terima kasih dan salam cerdas.

Advertisement
Komentar Facebook

1 Comment

  1. Presenter sgt awam tdk mempelajari efek sosial yg akan tejadi atau sengaja,
    1, Narasumber yg dipakai tdk ber background pendidikan Agama tp anti tp ilmu…
    2. Jk ingin memblow up sesuatu yg sensitif hrs menyiapkan wkt yg cukup shg semua dpt diungkap dg adil, ini sgt terkesan dipotong sesuai kebutugan utk mendiskriditkan.
    3. Niat baik, ungkap semua jgn potong2 pembicaraan, jgn bentuk opini sendiru
    4. Izin dari 2 belah pihak siapa yg akan bicara, jgn asal comot2
    5. Pahami masyarakat, efek dan solusinta
    6. Bertanggung jawab

Leave a comment

Your email address will not be published.


*