Temukan Banyak Kejanggalan, Pengacara Endus Dugaan Kuat Mantan Sekdis DPKPP Kabupaten Bogor Dijebak Saat OTT

OTT Sekdis DPKPP Kabupaten Bogor, 3/3/2020 (dok. Minews.ID)
OTT Sekdis DPKPP Kabupaten Bogor, 3/3/2020 (dok. Minews.ID)

BOGOR (KM) – Kuasa Hukum terdakwa Irianto (IR), mantan Sekretaris Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor, pada kasus suap perijinan pembangunan Hotel dan Rumah Sakit yang tertangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor pada 3 Maret 2020 lalu, menduga kuat ada indikasi “jebakan” dalam kasus ini, karena tidak ada komunikasi sebelumnya antara terdakwa dan penerima.

“Ternyata penyuap klien kami saat OTT adalah seorang tahanan Polres Bogor, yang ditahan sejak 21 Februari 2020. Klien kami didakwa pasal gratifikasi, tapi si penyuap tidak ada, ternyata setelah kami telusuri didapatlah informasi bahwa penyuap seorang narapidana,” ungkap Kuasa Hukum IR Dina Butar Butar kepada awak media, Kamis 6/8.

“Yang mengagetkan adalah ketika terdakwa didakwa dengan pasal gratifikasi. Akan tetapi siapa si pemberi uang dan dari mana asalnya belum jelas dan tidak dikenakan pidana,” tambah Dina.

“Bahkan hal ini juga sudah disampaikan pada nota keberatan atau eksepsi, pada sidang lanjutan di Pengadilan Tinggi Bandung pada 3 Agustus 2020 lalu,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, dalam runutan kejadian OTT tersebut, terdakwa tidak mengenal si pemberi uang, bahkan terdakwa sempat menolak kedatangannya karena kondisi terdakwa hari itu sedang sakit, tapi karena si pemberi ini memaksa masuk, akhirnya terdakwa mempersilahkan masuk dan bertanya ada perlu apa. “Jika sudah ada janji sebelumnya ataupun hal ini sudah direncanakan, terdakwa tidak akan bertanya seperti itu,” tuturnya.

Advertisement

“Artinya dengan alasan tersebut, indikasi jebakan sangat kuat dalam kasus ini, karena tidak ada komunikasi sebelumnya antara terdakwa dan penerima. Sehingga dengan adanya informasi bahwa penyuap klien saya seorang tahanan Polres Bogor, hal itu menjadi pertanyaan terbesar yang diajukan oleh kuasa hukum dalam sidang kemarin,” tegasnya.

Pihaknya mempertanyakan bagaimana seorang tahanan bisa “keluar seenaknya” hanya untuk memberikan uang Rp50 juta, yang disita juga sebagai barang bukti yang diamankan Satreskrim Polres Bogor saat OTT kliennya. “Lalu saat si tahanan itu hendak memberikan amplop itu, seketika Satreskrim datang, tanpa klien kami tahu apa isi dalam amplop. Ini kan jebakan,” ucap Dina.

Terpisah, menyikapi dugaan adanya jebakan dalam kasus OTT Sekdis DPKPP Kabupaten Bogor ini, Wakil Ketua Bidang Informasi Dan Teknologi LSM Gerakan Amanh Sejahtera (GAS), Susilo Utomo, mengatakan, pihaknya akan mengawal kasus ini hingga tuntas.

Tomo menyebut, dalam kasus ini pihaknya akan “memperjuangkan keadilan agar tegak lurus dan tidak pandang bulu.”

“Ya kami tidak lihat siapa yang berperkara, tapi sebagai putra bangsa kami ingin keadilan betul-betul tegak dan menjadi panglima hukum,” tegas Tomo singkat.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*