Tanjungbalai Kota Kerang, Bale di Ujung Tanjung

TANJUNGBALAI (KM) – Indonesia negara yang kaya bahasa, budaya dan adat istiadatnya. Provinsi Sumatera Utara pun terkenal banyak memiliki sejarah kerajaan di masa lampau, termasuk di Kota Tanjungbalai.

Tanjungbalai terletak di antara 2° 58′ LU dan 99° 48′ BT, dengan luas wilayah 60,52 km² (6.052 ha), 3 meter diatas permukaan air laut, dikelilingi oleh wilayah Kabupaten Asahan. Kota ini dikenal dengan julukan “Kota Kerang”.

Dengan jumlah penduduk pada tahun 2019 terdaftar 175,223 jiwa dengan berbagai macam suku dan agama, budaya Melayu lah yang paling melekat di Tanjungbalai. Di sini, pada setiap kegiatan, terutama pada acara hajatan pesta pernikahan masyarakat Melayu, “balai” atau “bale” menjadi simbol yang menonjol ditampilkan.

Balai sendiri dalam bahasa Melayu berarti tempat beristirahat, atau tempat bermufakat masyarakat. Pada zaman kesultanan dahulu, balai dibangun di ujung tanjung sebagai tempat peristirahatan Sultan Iskandar Muda. Dari situ lah awal terbentuknya nama Tanjungbalai hingga saat ini. Bale, salah satu simbol adat budaya yang ada di Tanjungbalai, tidak lepas dari berbagai kegiatan masyarakatnya seperti acara pernikahan, khitan, pergi umroh atau haji dan menyemangati keluarga yang tertimpa musibah.

Untuk melestarikan budaya ini pemerintah Kota Tanjungbalai membangun Tugu Bale/Balai yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di depan gedung DPRD Kota Tanjungbalai.

Advertisement

Menurut Junsu Anai, salah satu pemerhati budaya Melayu di Tanjungbalai, bale atau balai memiliki isi seperti pulut (ketan), telur, dan marawal yang masing-masing bagian mempunyai arti.

“Pada zaman kesultanan dahulu, bale biasa digunakan hanya orang-orang tertentu saja pada acara penting kesultanan, namun sekarang masyarakat bisa menggunakannya setiap melaksanakan pesta hajatan maupun syukuran. Kita sebagai orang Melayu merasa bangga karena masyarakat masih menjunjung tinggi adat Melayu di Tanjungbalai,” jelas Junsu.

Junsu Anai juga menambahkan, “Setiap isian bale tersebut memiliki arti tersendiri. Pulut mengartikan, contohnya dalam acara hajatan pernikahan, agar rumah tangga mereka lengket seperti pulut. Telur memiliki arti lambang dari kesuburan atau akan datangnya kehidupan baru kepada mereka, marawal melambangkan kebebasan, sedangkan warna kuning pada marawal melambangkan warna ciri khas budaya Melayu yang ada di Ttanjungbalai.”

Junsu Anai juga berharap kepada pemerintah agar menjaga dan memperhatikan situs atau peninggalan kesultanan, “Supaya generasi muda tahu akan sejarah Melayu di Tanjungbalai. Karena pada zaman modern seperti saat ini sedikit generasi muda yang mengetahui tentang sejarah kotanya sendiri,” pungkasnya.

Reporter: Hens
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*