Palestina: “Kesepakatan UEA-Israel Adalah Pengkhianatan Atas Perjuangan Rakyat Palestina”

President Donald Trump shakes hands with Abu Dhabi's Crown Prince Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan in the Oval Office, May 15, 2017 [The Associated Press]
President Donald Trump shakes hands with Abu Dhabi's Crown Prince Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan in the Oval Office, May 15, 2017 [The Associated Press]

(KM) – Faksi terkemuka di Palestina menyuarakan kemurkaan mereka terhadap “kesepakatan” yang dicapai antara Israel dan Uni Emirat Arab yang berujung “normalisasi penuh” dari hubungan mereka.

Kesepakatan itu tampaknya dimakelari oleh Presiden AS Donald Trump, dan diumumkan pada hari Kamis 13/8.

Dikutip dari Press TV, Trump memujinya sebagai “terobosan besar” dan “perjanjian perdamaian bersejarah antara dua sahabat kita”. Sementara Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo menyebutnya sebagai “langkah maju yang sangat besar di jalan yang benar”. Sedangkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa kesepakatan itu menandai “hari bersejarah”.

Juru bicara kelompok perlawanan Palestina, Hamas, yang bermarkas di Jalur Gaza, Hazem Qassem mengatakan kepada AFP bahwa kesepakatan itu “tidak melayani kepentingan Palestina”.

“Perjanjian dengan UEA adalah hadiah atas pendudukan dan kejahatan Israel,” kata Qassem.

Advertisement

Juru Bicara Hamas lainnya, Fawzi Barhoum berkata, “Normalisasi adalah tikaman di belakang [terhadap] perjuangan Palestina dan itu hanya melayani pendudukan Israel.”

Otoritas Palestina (PA) yang berbasis di wilayah Tepi Barat yang diduduki Tel Aviv juga menyuarakan “penolakan dan kecaman yang kuat” atas kesepakatan itu.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyerukan Liga Arab untuk membahas perkembangan terkait kesepakatan baru ini dalam pertemuan darurat, menyebut kesepakatan itu sebagai “agresi” terhadap rakyat Palestina dan “pengkhianatan” terhadap perjuangan mereka.

Abbas mengatakan bahwa di antara barang-barang yang dijual sebagai hasil dari kesepakatan normalisasi adalah klaim Palestina atas kota suci Yerusalem (al-Quds) sebagai Ibu Kota negara masa depan mereka.

Reporter: Red/PP
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*