Mangkir 3 Kali, Akhirnya KPK Panggil Paksa Rachmat Yasin

Tersangka Korupsi Rachmat Yasin (RY) di Gedung Merah Putih Kuningan Jakarta (Dok. Hari Setiawan Muhammad Yasin/KM)
Tersangka Korupsi Rachmat Yasin (RY) di Gedung Merah Putih Kuningan Jakarta (Dok. Hari Setiawan Muhammad Yasin/KM)

JAKARTA (KM) – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil paksa mantan Bupati Kabupaten Bogor periode 2008-2014 Rachmat Yasin (RY) hari ini 17/7 karena sudah 3 kali mangkir dalam pemanggilan.

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri mengungkapkan, pemanggilan paksa hari ini karena Tersangka RY sudah 3 kali mangkir, dan pihaknya mengacu kepada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dalam pasal 112 ayat (2) mengenai pemanggilan paksa tersangka atau saksi korupsi.

“Hari ini, hari Jumat 17 Juli 2020, penyidik KPK memanggil paksa tersangka Rachmat Yasin, karena sudah 3 kali mangkir dalam panggilan,” tegas Ali saat dihubungi oleh wartawan kupasmerdeka.com siang ini.

Penyidik KPK juga memanggil seorang saksi lainnya, yakni Rudy Wahab.

Adapun Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dalam pasal 112 ayat (2) mengenai panggil paksa dalam proses penyidikan yang dapat dilakukan terhadap Tersangka maupun Saksi, berbunyi :“Orang yang dipanggil wajib datang kepada penyidik dan jika ia tidak datang, penyidik memanggil sekali lagi, dengan perintah kepada petugas untuk membawa kepadanya”.

Sementara itu, menurut catatan yang dimilki wartawan kupasmerdeka.com, Rachmat Yasin sudah tiga kali mangkir dari panggilan penyidik KPK, pertama pada tanggal 8 Oktober 2019, kedua tanggal 13 Desember 2019 dan ketiga tanggal 9 Januari 2020.

Sebelumnya, penyidik KPK telah mengumumkan dan menetapkan Rachmat Yasin sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dan gratifikasi yang kedua kalinya pada hari Kamis 25 Juni 2019. Dalam kasus suap, Rachmat Yasin diduga meminta, menerima atau memotong pembayaran dari beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebesar Rp. 8.931.326.223.

Advertisement

Selain itu, kakak kandung Bupati Bogor aktif Ade Yasin itu juga diduga menerima gratifikasi berupa tanah seluas 20 hektare di Jonggol, Kabupaten Bogor. RY juga memperoleh gratifikasi mobil Toyota Vellfire senilai Rp. 825 juta.

Gratifikasi tersebut diduga berhubungan dengan jabatan tersangka dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, serta tidak dilaporkan RY ke KPK dalam waktu paling lambat 30 hari kerja.

Untuk penerimaan gratifikasi berupa tanah seluas 20 hektar, Rachmat sengaja meminta kepada anak buahnya untuk memeriksa satu bidang tanah seluas 350 hektare. Pemilik tanah tersebut hendak membangun pesantren di tanah tersebut.

“Pada tahun 2010 seorang pemilik tanah seluas 350 hektar, yang terletak di Desa Singasan dan Desa Cibodas, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, ingin mendirikan Pondok Pesantren dan Kota Santri. Untuk itu ia (pemilik tanah) berencana akan menghibahkan tanahnya seluas 100 hektar agar pembangunan pesantren terealisasi,” jelas Ali Fikri kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Rachmat baru saja bebas pada 8 Mei 2019 setelah menjalani masa hukuman di Lapas Sukamiskin Bandung.

Rachmat saat itu divonis 5 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp300 juta karena menerima suap senilai Rp. 4,5 miliar guna memuluskan rekomendasi surat tukar menukar kawasan hutan atas nama PT Bukit Jonggol Asri seluas 2.754 hektare.

Atas perbuatan terbarunya, Rachmat Yasin disangkakan melanggar pasal 12 huruf f dan pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan Korupsi juncto pasal 64 ayat (1) KUHP. (HSMY)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*