Kutalingkung, Warisan Alam dan Sejarah Warga Klapanunggal Terancam oleh Eksploitasi Produsen Semen

Kutalingkung di Desa Nambo Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor (foto istimewa)
Kutalingkung di Desa Nambo Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor (foto istimewa)

BOGOR (KM) – Tagar #SAVEKUTALINGKUNG yang beredar di media sosial kini menjadi perhatian publik. Pesona alam dan banyaknya gua karst yang terbentuk oleh proses alam selama ribuan tahun, bahkan berpotensi menjadi cagar alam dengan ekosistem yang asri, yang berlokasi di Desa Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, kini keberadaannya terancam.

Penelusuran kupasmerdeka.com dengan menghimpun informasi dari warga sekitar, eksploitasi lingkungan oleh dua perusahaan semen terbesar di Indonesia yang mengambil bahan baku semen di sana mengancam kelestarian lingkungan Kutalingkung. Warga juga meyakini Kutalingkung menjadi pusat sumber mata air yang mengalir ke wilayah Kecamatan Klapanunggal. Warga kini tengah berjuang membebaskan gunung kapur yang jadi bancakan para penambang liar, selain dua perusahaan semen besar yang turut mengekploitasi sumber-sumber alam yang berada di wilayah Perhutani itu.

Seorang warga Desa Nambo yang menjadi narasumber mengatakan bahwa warga tegas menolak aktivitas penambangan tersebut, sebab selain menurut warga ilegal, juga berpotensi mengganggu wilayah pegunungan yang menjadi resapan air.

Advertisement

“Ya lingkungan alam pegunungan tersebut juga menjadi sumber utama aliran air bagi warga setempat,” ujarnya kepada KM, Sabtu 5/7.

Gua karst di Kutalingkung di Desa Nambo Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor (foto istimewa)

Gua karst di Kutalingkung di Desa Nambo Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor (foto istimewa)

Menurutnya, selain memiliki sumber daya alam dengan pemandangan indah dan jalur wisata climbing, gunung itu pun menjadi sumber air. “Kalau dirusak, kemungkinan besar kami akan kekeringan selamanya dan kebutuhan air pasti terganggu,” katanya.

“Aktivitas perusakan pegunungan dengan cara dibom atau dinamit untuk diambil kapur dan karangnya, mengakibatkan kerusakan terhadap benteng-benteng peninggalan yang dibangun warga ketika melawan penjajah pada abad ke-18, bahkan nyaris hilang. Tidak hanya keindahan alam, peninggalan sejarah kita pun ikut hilang,” tegasnya.

Reporter: Rajiv, ddy
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*