Parungpanjang Dikatakan Miliki Potensi Besar Untuk Pengusaha Kopi

Rumah Anak Bumi Perumnas 1 Parungpanjang membuat agenda workshop kopi
Rumah Anak Bumi Perumnas 1 Parungpanjang membuat agenda workshop kopi "Menjadi Pengusaha Kopi Di Kala Pandemi Covid-19" Sabtu siang 13 Juni 2020 (dok. Hari Setiawan Muhammad Yasin/KM)

BOGOR (KM) – Daerah Parungpanjang, Kabupaten Bogor, dikatakan memiliki potensi yang “sangat besar” bagi para pengusaha kopi lantaran daerah tersebut sudah mulai dihuni oleh “98% pendatang” dan banyaknya perumahan.

Hal itu diungkapkan oleh seniman Ridwan Manatik, yang merupakan salah satu pendiri “Rumah Anak Bumi” di Perumnas 1 Parungpanjang, saat diwawancara di acara workshop kopi “Menjadi Pengusaha Kopi di Kala Pandemi”, Sabtu 13/6.

“Nah dengan hasil 98% itu hasil survei pandangan saya ya, saya pikir itu peluang ya, kalau dalam mata bisnis itu waduh besar ini loh, artinya usaha apapun pasti jalan gitu loh, tapi kemampuan orang melihat peluang itu kan kadang-kadang kecil, banyak orang peluang besar tapi gak bisa melihat itu peluang, dan kalau sudah masuk ke ranah wirausahawan, wah ini gila nih, toh pandemi juga bisa dijadikan usaha,” tegasnya.

Bahkan, Ridwan menambahkan bahwa acara workshop kopi ini bisa membuat anak muda kreatif membuka usaha yang laris di kala pandemi covid-19.

“Saya pikir gini, saya bukan menyampingkan seni tapi saya melihat peluang usaha, bagaimana yang muda yang akhirnya gulung tikar di kondisi pandemi covid-19 seperti ini, dan dituntut harus membuat kreatifitas lain, yang hadir yang bisa kita upayakan agar tetap survive, salah satunya memberikan pelatihan usaha kopi,” tambahnya.

Pemateri sekaligus narasumber di acara workshop kopi ini, Frans Satriawan, seorang pebisnis kopi dan dosen pengajar mata kuliah kopi di Universitas Akademi Pariwisata Patria di Jalan Pejaten Barat Raya, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mengungkapkan bahwa membuka usaha kopi itu harus dipahami dahulu pertumbuhannya.

Advertisement

“Kalau bicara peluang kopi itu harus dipahami dulu pertumbuhannya bagaimana, segmennya bagaimana, kembali lagi karena market kopi ini kompleks, karena setiap daerah itu berbeda-beda, sehingga di Parungpanjang pun kita harus ketahui marketnya seperti apa karena banyak pun yang berdomisili Parungpanjang tapi mereka bekerja dan beraktivitas di Jakarta, sehingga mereka sudah tahu mengenai berbagai jenis kopi, baik kopi dalam penyeduhan modern maupun tradisional,” ungkapnya.

Frans menambahkan, untuk membuka usaha kopi di Parungpanjang, sangat cocok memiliki rasa kopi nusantara.

“Kalau kita ingin memiliki usaha kopi, salah satu sarannya harus memiliki kopi nusantara yang pasti diminati seperti Aceh Gayo, Mandailing, Toraja itu harus bisa dikembangkan di Bogor ujung ini, bahkan kopi Jawa Barat pun sangat luar biasa, dan gelombang ketiga mengarah ke kopi asli yang memiliki rasa manual kopinya, yaitu arabika dan robusta,” terang Frans.

Sementara itu Ketua DPK (Dewan Pengurus Kecamatan) KNPI Parungpanjang, Abdul Hakim, saat dihubungi via WhatsApp Selasa siang 16/6 mengharapkan bahwa setelah acara workshop kopi ini generasi muda di Parungpanjang segera membuat Forum Diskusi Kopi yang di dalamnya bisa saling bersinergi untuk bersama-sama memulai atau membuka usaha kopi.

“Karena di Parungpanjang belum ada usaha kopi asli nusantara, apalagi sudah banyak pendatang, contohnya orang-orang tua yang sudah memiliki pekerjaan dan masa depan yang mapan, pasti mencari tempat kopi yang fresh dan nyaman setelah sibuknya bekerja, dan di Parungpanjang itu harus ada,” ujar Abdul.

Reporter: HSMY
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*