KUPAS KOLOM: Perdebatan Virus Corona, Dari Panik ke Penolakan

Hasan J. A., Pemimpin umum KupasMerdeka.com
Hasan J. A., Pemimpin umum KupasMerdeka.com

Oleh Hasan J. Almunawar, Pemimpin Umum Redaksi KupasMerdeka.com

Ilmu epidemiologi, atau ilmu kewabahan, bukan semata-mata mendalami tentang penyakit menular itu sendiri dari segi patologi, tapi juga tentang memahami statistik. Masalahnya, dengan statistik, seseorang bisa saja memaksakan teorinya atas data yang ada, dan menggunakan akal-akalan “cocoklogi” untuk menyatakan seolah data statistik itu membuktikan teorinya. Seseorang bisa saja membuat grafik perbandingan antara kelompok-kelompok atau negara-negara yang bukan perbandingan yang fair, lalu membuat kesimpulannya sendiri, yang kemudian disebarluaskan di media sosial sebagai pakar dadakan. Dia akan membandingkan statistik antara negara-negara atau kelompok-kelompok tanpa menimbang banyaknya faktor lain, lalu berkata bahwa data statistik itu membuktikan teorinya.

Mirisnya, banyak juga dari kalangan praktisi kesehatan, khususnya dokter, yang dalam profesi mulianya mengobati orang-orang sakit dan menyelamatkan nyawa mereka, yang kemudian turut menjadi ahli dadakan dalam ilmu kewabahan dan statistik, dan memberikan analisanya sendiri terhadap data statistik. Banyak yang kemudian lupa bahwa seorang dokter pada dasarnya adalah ahli pengobatan dan bukan ahli statistik, sehingga analisa mereka terhadap statistik tidak lebih bernilai dari analisa saya ataupun anda. Tapi karena yang dihadapi adalah ancaman kesehatan, maka banyak masyarakat yang melihat kepada mereka sebagai rujukan informasi tentang wabah.

Dalam memahami wabah covid-19 dan perdebatan seputar efektifitas lockdown atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan kebijakan-kebijakan turunannya, kebanyakan argumen yang disampaikan berdasarkan analisa yang keliru terhadap statistik. Kebanyakan perdebatan itu membahas efektifitas lockdown dengan membandingkan statistik antara negara-negara. Ini adalah kesalahan yang berbahaya! Tentunya tidak fair, misalnya, untuk membandingkan angka-angka keseluruhan antara Singapura dengan Indonesia, atau Swedia dengan Amerika Serikat.

Ini karena setiap negara mempunyai rangkaian masalahnya sendiri, episentrum wabahnya sendiri, aturan-aturannya sendiri, bahkan adat istiadat, yang semuanya turut mempengaruhi sebaran sebuah wabah. Setiap negara juga punya tingkat pengujian yang berbeda-beda, demografi yang berbeda-beda, dan kepadatan penduduk yang berbeda-beda, yang juga mempengaruhi tingkat keandalan statistik yang ada.

Bahkan statistik hari ini belum tentu pantas untuk dibandingkan dengan statistik tahun lalu. Misalnya dalam kasus angka kematian, beberapa daerah di Indonesia menerapkan PSBB sehingga kita pasti tidak akan melihat angka kematian yang besar dari kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan lainnya lantaran masyarakat banyak yang tidak keluar rumah. PSBB juga menyebabkan tertundanya pelaporan kematian oleh warga. Karena itu, bisa saja kita melihat angka kematian yang lebih rendah dalam 1-2 bulan terakhir ini dibandingkan dengan bulan-bulan yang sama di tahun-tahun lalu. Maka pembandingan statistik itu sama sekali tidak bisa dijadikan metode untuk menilai ancaman wabah covid-19.

Jadi tidaklah pantas mengatakan bahwa wabah ini “sangat berbahaya” karena membunuh sekian banyak orang di New York, atau mengatakan bahwa wabah ini “tidak berbahaya” karena hanya menewaskan segelintir orang di Taiwan. Angka-angka itu sendirinya tidak mengungkap seberapa mematikan wabah ini.

Cukuplah satu orang sehat yang menjadi kritis atau bahkan meninggal dunia akibat covid-19 untuk mengatakan bahwa penyakit ini sangat berbahaya. Kenapa tidak? Bukankah nyawa manusia itu harus dilindungi sebisa mungkin? Di dalam kitab suci Alquran disebutkan, “Barangsiapa yang menyelamatkan satu nyawa, seolah dia telah menyelamatkan seluruh umat manusia” (5:32). Artinya, satu nyawa yang bisa kita selamatkan dari kematian itu sama pentingnya dengan banyak nyawa yang diselamatkan. Nyawa manusia bukanlah statistik untuk kita main-mainkan untuk cocoklogi teori. Ia sesuatu yang sangat berharga dan wajib dilindungi. Seharusnya tidak ada dilema antara menyelamatkan nyawa manusia dengan menyelamatkan ekonomi.

Ini yang kita ketahui: bahwa penyakit ini bisa mematikan bagi siapapun, bahkan tanpa penyakit bawaan; bahwa penyakit ini sangat menular; bahwa kita semua, pemerintah dan rakyat, memiliki kewajiban kolektif untuk mencegah kematian dari sebab apapun; bahwa karantina kesehatan pada skala yang bisa di-manage itu merupakan langkah yang dikenal efektif sepanjang sejarah untuk memutus mata rantai penyebaran dari wabah; dan bahwa perdebatan seputar lockdown di kalangan publik adalah tren yang relatif baru, yang kebanyakannya bersumber dari artikel, tulisan-tulisan dan video dari Amerika Serikat (asal-usul dari semua perdebatan yang sia-sia dan teori konspirasi yang konyol seperti UFO, bumi datar dan Illuminati) yang kemudian teori-teorinya diserap oleh sebagian orang dan dikemas ulang dengan “analisa” nya sendiri.

Pemerintah berkewajiban untuk melindungi rakyat dari semua ancaman, baik itu dari wabah penyakit yang bisa dicegah maupun dari kelaparan. Kalau ini perdebatan yang valid. Bahkan PBB sendiri mengatakan bahwa jutaan orang terancam kelaparan akibat krisis ekonomi yang dipicu oleh kebijakan-kebijakan lockdown di seluruh dunia untuk mencegah covid-19.

Lalu, apakah lockdown memaksa rakyat untuk seolah berlari dari mulut harimau menuju mulut singa? Yakni, dari satu ancaman menuju ancaman lain. Tentunya tidak harus seperti itu. Saya sendiri yakin bahwa situasi covid-19 bisa ditangani, dengan kebijakan dan penegakan yang tepat. Lockdown, yang saat ini kita lihat di beberapa tempat di Indonesia pada tingkatan tertentu dengan istilah PSBB dan larangan mudik, tidak harus diberlakukan hingga berbulan-bulan lamanya, dan ianya tidak harus diberlakukan sampai tingkat nasional. Penerapan kebijakan jaring keamanan sosial yang efektif sangatlah penting untuk melindungi kondisi perekonomian warga, khususnya yang paling rentan pangan. Pemerintah juga harus meringankan beban UMKM dengan stimulus ekonomi yang bukan saja tepat sasaran, tapi juga tegas dalam penerapannya, seperti keringanan kredit dan akses kredit yang mudah dan berbunga rendah. Sedangkan bagi rakyat, yang kuat harus membantu yang lemah, yang mampu harus membantu yang kurang mampu. Mengatasi krisis ini membutuhkan kesadaran dan kerja sama kolektif dari pemerintah dan rakyat.

Ini bukanlah waktu untuk menyibukkan diri kita dalam perdebatan yang sia-sia. Ini adalah waktu untuk menunjukkan kemanusiaan kita. Kita seharusnya memfokuskan energi kita kepada membantu mereka yang membutuhkan. Kita seharusnya mendorong pemerintah kita untuk memprioritaskan nyawa rakyat, dan mengawasi ketat penerapan jaring pengaman sosial dan stimulus ekonomi. Biarkan dokter dan perawat menangani yang sakit, sementara kita bantu yang miskin dan pengangguran. Perhatikan jarak fisik, pakailah masker ketika keluar rumah, jangan sentuh wajah, dan sering-seringlah cuci tangan.

Mari kita lawan virus corona bersama, semoga pertengahan tahun ini kehidupan kita bisa kembali normal. Amin.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.