KUPAS KOLOM: Wabah Corona dan Kesadaran Akar Rumput

Mawardin
Mawardin

Oleh: Mawardin, Wasekjen DPP KNPI, Political & Strategic Analyst

Wabah virus corona (covid-19) membuat warga dunia bergelayut dalam kegalauan stadium berat. Indonesia yang mengandung seribu satu pesona pun sedang berjuang keras melawan virus ganas itu. Memang semua kelompok masyarakat, segenap komponen bangsa dan negara kena imbas dari musibah ini. Namun yang terparah adalah warga marginal yang tersingkir secara ekonomi.

Wajah perekonomian rakyat kecil benar-benar terpukul. Buruh harian, ojek, sopir angkot, pengamen jalanan, pedagang kaki lima dan pekerja informal lainnya mengalami dilema. Bahwa banyak pendapat yang menyebut cukup di rumah saja, itu benar, namun pendapatan terancam macet bahkan minus bagi mereka yang mesti keluar dari rumah untuk bekerja. Serba salah.

Kita tentu mengapresiasi pemerintah bilamana ada jaminan sosial khusus untuk warga kurang mampu yang terdampak corona. Tapi pemerintah perlu kita support bersama-sama juga. Para pengusaha bisa menjadi garda terdepan untuk meringankan beban warga yang terkurung dalam kesukaran ekonomi. Hal itu sudah terlihat bagaimana sejumlah pengusaha ikut membantu warga yang sedang kesulitan menghadapi kemelut corona ini. Semoga terus bertambah.

Bayang-bayang instabilitas ekonomi dan gejolak sosial dalam negeri tentu menghantui bila tidak ditanggulangi secara bersama-sama. Rencana aksi penjarahan dan vandalisme kelompok Anarko menunggangi kemelut corona untuk berbuat onar dan rusuh adalah alarm yang tidak boleh diabaikan. Syukurlah berhasil dicegah aparat kepolisian.

Dalam jepitan kompleks pandemi, tidak ada pilihan lain selain menggalang solidaritas sosial kemanusiaan seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya. Tidak sedikit kaum dermawan muncul dengan caranya masing-masing, entah itu sumbangan materi, tenaga, pikiran, alat pelindung diri, fasilitas medis, hingga doa. Dari kalangan dunia usaha, organisasi kemasyarakatan (ormas) dan organisasi kepemudaan (OKP) terus hadir, berjejaring dalam aksi kerelawanan.

Menariknya, sejumlah ormas selama ini yang dianggap kontroversial juga bergerak, turun gunung dan menunjukkan bakti sosial yang nyata. Misalnya, Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI), Gabungan Inisiatif Barisan Anak Siliwangi (GIBAS), Pemuda Pancasila, Ikatan Pemuda Karya (IPK), komunitas Daboribo (damai boleh rebut boleh), Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB), Angkatan Muda Bima Indonesia (AMBI), Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar Banten (BPPKB), Forum Betawi Rempug (FBR), Forum Komunikasi Anak Betawi (FORKABI), dll. Tidak hanya di Jakarta, tapi juga di daerah-daerah, kecamatan sampai sudut-sudut kota.

Meski aksi bakti sosial seperti itu bukan hal baru bagi mereka. Hitam putih dunia ormas ini mesti dibingkai secara berimbang dengan sudut pandang positif dan konstruktif. Bukan bermaksud mengglorifikasi, kelompok yang selama ini dicap “keras”, rupanya ada sisi lain yang perlu kita apresiasi secara empatik dan humanistik.

Sekecil apapun kontribusi sebuah organisasi, ada baiknya kita mengabarkan kekhasan itu guna menyalakan inspirasi bagi yang lain, memotivasinya agar terus menanamkan kebajikan di tengah-tengah masyarakat. Bahwa mereka kerap jadi bulan-bulanan media, diasosiasikan dengan gangster, itu perkara lain. Yang penting terus menyempurna. Terdapat berkah tersembunyi (blessing in disguise). Momen bagi bangsa Indonesia untuk memikul beban bersama dengan cita rasa persatuan dan persaudaraan.

Kita berharap solidaritas lintas batas ini menjadi kebiasaan di masa kini dan mendatang. Lalu mereka bergandengan tangan menghadirkan kenyamanan di zamrud khatulistiwa pasca-corona, tidak bersitegang satu sama lain. Mungkir terdengar agak klise, tapi bukankah hal itu layak diikhtiarkan dan dirayakan dengan penuh optimis dalam frame pertaubatan nasional.

Saya mendapat cerita dari kawan-kawan, ditambah kompilasi pemberitaan dari media massa terkait kepedulian sosial dari ormas yang dilabeling keras itu. Sebenarnya dalam komposisi keanggotaan ormas seperti itu pun beragam, malah kebanyakan pekerja informal juga. Begitulah. Meski berbeda bendera, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Susah senang ditanggung bersama.

Sebagai contoh, 12 April 2020, Dewan Pengurus Distrik (DPD) GMBI Sumedang membagikan 10.000 masker untuk masyarakat di tiap kecamatan se-Kabupaten Sumedang. Terdapat pula PAC Pemuda Pancasila Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung yang membagikan masker untuk pengendara di kawasan jembatan kuning Cukang Monteng Kamojang. Juga PAC BPPKB Kecamatan Rajeg yang bermitra dengan kepolisian setempat bersama warga untuk berjuang memutus mata rantai covid-19 di wilayah Rajeg Kabupaten Tangerang, Banten.

11 April 2020, GIBAS Sektor Cisaga membantu Tim Gugus Covid 19 Kabupaten Ciamis, yang sedang bertugas di Pos Perbatasan Ciamis – Banjar. Pada 7 April 2020, tengok pula Pimpinan Anak Ranting IPK Berastagi Kabupaten Karo – Sumut ikut menyemprotkan disinfektan ke area transportasi umum di Pasar Roga Berastagi. Sebelum itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IPK Sumut bersama IPK Medan mendistribusikan ratusan paket sembako ke masyarakat di seputaran sekretariatnya.

Sepekan yang lalu, 6 April 2020, komunitas Daboribo di Wonosobo – Jawa Tengah membagikan 1.000 masker dan penyemprotan disinfektan. Pada tanggal 5 April 2020, GRIB di Bekasi membantu warga di Tambun Selatan, terlebih dalam sebuah laporan disebutkan bahwa kasus terdampak Covid-19 di Kabupaten Bekasi, terbanyak di Kecamatan Tambun Selatan. Mereka membagikan masker, paket sembako dan uang ke warga setempat terutama di rumah-rumah anak yatim, anak-anak kecil dan ibu-ibu rumah tangga melalui PAC GRIB Tambun Selatan.

Tak ketinggalan pula, Forkabi Kota Tangerang Selatan dan FBR Beksi Rawarontek Gardu 0532 dan Gardu Pandawa Ciputat Kelurahan Cipayung, ikut membagi paket sembako untuk warga sekitar, juga menyemprot disinfektan. Termasuk AMBI yang menitipkan masker dan hand sanitizer ke Polsek Kalideres Jakarta Barat untuk dibagikan kepada masyarakat, mendistribusikan masker dan hand sanitizer di Pangkalan Truk, Sukapura – Jakarta Utara, hingga pendistribusian ke sejumlah ketua RT/RW di Sumur Pancing, kecamatan Karawaci, Kota Tangerang.

Tentu saja masih banyak kisah-kisah inspiratif dan gerakan kolektif dari ormas dan OKP semacam itu di berbagai daerah di Indonesia melalui DPD, PAC hingga ranting-ranting. Sebuah solidaritas lintas batas yang merefleksikan kesadaran ormas dari aneka kelas-kelas sosial dan ekonomi serta warna politik yang beragam. Hal itu bisa menjadi embun di tengah situasi paceklik akibat corona. Mungkin saja apa yang disumbangkan ormas tersebut nampak kecil, tapi setidaknya hal itu bisa berfaedah besar mengurangi beban saudara-saudari di sekitar kita.

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*