KUPAS KOLOM: Tepa Salira Confucius Dalam Menghadapi Pandemi

Patung Confucius di Shanghai, Tiongkok (dok. britannica.com)
Patung Confucius di Shanghai, Tiongkok (dok. britannica.com)

Oleh Kristan, MA

Dari seluruh mahkluk hidup yang ada di Bumi nampaknya hanya manusia
sajalah yang paling tidak nyaman dan tidak bahagia ketika masa Pandemi
Covid-19 ini. Namun dalam ketidaknyamanan manusia ini justru berbanding terbalik dengan mahluk bumi lainnya yang terlihat berbahagia akibat dampak ini. Menurut foto-foto NASA Bumi tampak lebih santai dan lebih biru karena hilangnya sebagian produktivitas manusia. Para hewan mulai tampak berkeliaran tanpa cemas akibat manusia sebagian berdiam diri dirumah karena kebijakan social distancing global. Hal ini menjadi bahan renungan menarik bagi manusia religius dalam memaknai segala ciptaan Sang Kuasa mengenail hak dan kewajiban yang adil bagi seluruh mahluk ciptaan Tuhan. Maka menjadi menarik untuk membuat tulisan renungan menurut Confucius tentang bagaimana kita manusia melalui konsep tepa salira harus bersikap terhadap fenomena ini.

Zilu adalah salah seorang murid Confucius yang terkenal gagah berani, ahli beladiri dan orang yang suka berterus terang, namanya masuk dalam kisah 24 anak Berbakti yang menjadi bacaan wajib bagi seluruh sarjana Confucian dalam memahami konsep filial piety (berbakti kepada orang tua). Zilu konon mampu bertarung melawan seekor harimau meskipun dengan tangan kosong. Usianya terpaut 9 tahun dengan Confucius. Zilu juga termasuk murid yang paling setia menemani Confucius dalam pengembaraannya selama 13 tahun dalam menyebarkan ide-ide kaebajikan untuk dunia.

Saat Zilu memutuskan mengikuti Confucius ke negara Wei, Zilu begitu yakin bahwa potensi yang ada di negara Wei akan menghargai Confucius dan merekrutnya sebagai pejabat pemerintah disana. Maka dengan demikian Zilu membayangkan akan ikut membantu Confucius untuk mengabdi di negara Wei untuk mewujudkan visi mulianya tentang menjalankan sebuah pemerintahan yang baik. Namun ternyata apa yang dibayangkan Zilu tidak terjadi. Hal ini tidak membuat mereka menyerah, mereka terus berusaha mencoba kembali.

Pada perjalanan berikutnya mereka menuju ke arah selatan menuju ke negara Song, namun tetap saja raja negara Song tidak mau merekrut Confucius sebagai pejabat. Mereka terus mencoba dan mencoba lagi namun selalu gagal. Mereka menjadi diabaikan, terlunta-lunta, diserang dan pada akhirnya mereka sempat dalam kondisi kelaparan.

Confucius tanpa lelah selalu mengajarkan tentang jalan kebajikan bagi orang berbudi, akan tetapi sampai kapan jalan ini akan pada sampai tujuan? Pada sebuah kondisi kelaparan yang mereka alami. Zilu dengan perasaan bersedih serta kesal memprotes kepada gurunya, Zilu bertanya, Apakah seorang berbudi akan mengalami nasib yang seperti ini? Confucius menjawab dengan tenang, ya tentu saja siapapun bisa mengalami kejadian seperti ini, namun hanya orang yang rendah budi saja pada saat seperti ini hanya bisa mengeluh dan marah-marah.

Saat ini ditengah pandemi, kita mungkin pada posisi merasakan hal yang sama seperti Zilu. Pandemi global Covid-19 menghantui kita semua, belum ditemukan obat dan vaksin untuk mengatasinya. Ratusan ribu orang telah meninggal dunia akibat dari ini dan tidak ada yang bisa mengetahui kapan pandemi ini akan segera berakhir. Di sekeliling kita orang-orang terisolasi di rumah mereka dan ketika kita mencari persedian makanan di pasar dan supermarket semua menjadi terbatas dan bahkan sebagian dalam keadaan kosong. Dalam menghadapi situasi ini maka menjadi sangat penting untuk bersikap tentang menjadi orang yang mulia dan berbudi luhur? Apa yang bisa ditawarkan Confucius untuk menghadapi keadaan seperti ini?

Confucianisme bukanlah tradisi yang dibentuk oleh orang-orang yang mencari jati diri dengan cara pesimis mundur dari dunia luar dan hidup menyendiri di gua-gua dan bertapa untuk mencoba mencari jalan keluar untuk mengatasi penderitaan dunia melalui lari dari kenyataan. Confucianisme dibentuk oleh orang-orang yang optimis yang hidup dalam situasi jaman perang, kelaparan dan kekacauan sosial. Mereka mengembangkan ajaran mereka untuk orang-orang seperti kita menghadapi tantangan pada masa sekarang. Jadi bagaimana saran Confucianisme kepada kita dalam konteks sekarang?

Salah satu pesan utama Confucianisme adalah bersikap tepa salira (zhong) pada setiap saat dalam kondisi apapun termasuk masa krisis.

Caranya ialah dengan melakukannya secara benar, dengan cara yang benar sampai pada tingkat yang benar yaitu seperti menghindari kekurangan pada satu sisi dan kelebihan disisi yang lain. Mereka yang merasa kekurangan mudah dikenali pada saat ini. Mereka yang menjalani hidup mereka seolah tidak ada yang berubah. Mereka yang tetap tidak peduli berkumpul di restoran, tempat hiburan dan lainnya. Mereka juga mengeluh tentang pembatalan liburan, acara keluarga dan lainnya. Mereka mengkritik siapapun yang mengambil tindakan pencegahan sebagai alarm untuk mencegah pandemi. Mereka yang berkelebihan melakukan hal yang sama yaitu dengan cara menimbun masker, persediaan makanan dan menyebarkan hoaks yang tidak benar.

Dalam konteks ini bersikap tepa salira (zhong) ialah dengan cara memperlambat dan mencegah penularan virus corona yang terus meningkat, caranya ialah dengan menjaga kesehatan, kebersihan dengan baik dan social distancing, membeli persediaan makanan dengan wajar yang hanya untuk kebutuhan yang sesuai lalu mendorong dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama. Tapi mengapa orang masih saja banyak yang bertindak tidak peduli terhadap himbauan ini?

Hal ini adalah karena kurangnya prinsip tepa salira yaitu “Apa yang diri sendiri tidak inginkan, maka janganlah diberikan kepada orang lain”.

Advertisement

Hal ini maksudnya untuk menempatkan diri kita pada posisi orang lain dimana bertindak untuk kebaikan orang lain maka otomatis untuk bermanfaat bagi diri sendiri. Mereka yang berkelebihan dengan menimbun barang memaksakan kesulitan pada orang lain dengan merampas hak mereka dari persediaan yang diperlukan. Mereka tidak mampu atau tidak mau menempatkan diri mereka ditempat orang lain. Mereka yang kekurangan juga tidak mau merubah perilakunya dengan tetap tidak peduli pada himbauan para ahli kesehatan tentang social distancing yang bisa mempercepat penularan.

Tapi diantara meraka yang berkelebihan dan kekurangan mereka bukanlah orang yang antisocial, mereka kadang teman kita, saudara kita, anggota keluarga kita. Apa yang menyebabkan sikap mereka menjadi seperti itu? Mungkin memang karena kurangnya informasi atau bahkan mendapatkan informasi yang keliru. Namun dalam penjelasan psikologis hal ini disebabkan karena “Jika seseorang dibawah pengaruh gairah, maka ia akan keliru dalam tindakannya”, dia yang berada didalam posisi tekanan teror, dibawah pengaruh rasa suka, sedih, marah, kesusahan sehingga ketika pikiran mereka dalam keadaan panik maka mereka bila melihat sesuatupun akan tidak terlihat, mendengar akan tidak mendengar, makan pun sulit merasakan apa yang meraka makan, dengan kata lain mereka terbawa emosi yang kuat dimana hati, pikiran dan perilakunya tidak pada tempatnya.

Rasa takut dan kesusahan akan membuat mereka tidak bisa berpikir jernih sehingga dalam mengabil keputusan akan menjadi kacau dan buruk. Hal ini bisa kita jadikan bahan renungan untuk diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa kita juga rentan terhadap kekuatan yang desktruktif dari nafsu kita sendiri. Kita bisa kehilangan akal ketika kita pada kondisi krisis sehingga ikut tersapu oleh sikap emosi yang kuat. Pertahanan terbaik dalam menghadapi hal ini ialah bersikap seperti biasa yaitu tetap tenang dan waspada.

Fokuskan pikiran, hati dan tindakan kita dalam kendali kita sendiri. Virus, tindakan pemerintah, pengembangan vaksin dan perawatan sebagian besar diluar kendali kita. Tindakan kita sendiri pada tahap tertentu adalah pikiran kita sendiri selalu dalam kendali kita. Jangan memikirkan hal-hal yang tidak mampu kita pengaruhi. Lebih baik fokuskan seluruh energi kita pada apa yang dapat kita lakukan untuk membuat keadaan lebih baik. Ketauhilah bahwa orang yang telah terjangkit dan para lansia adalah yang paling rentan terhadap Covid-19. Mereka adalah nenek, kakek, paman bibi atau teman-teman kita sendiri. Bentangkan perasaan kepedulian kita untuk keluarga, teman dan orang lain, lakukan perilaku kita sesuai dengan apa yang bermanfaat bagi mereka yang paling rentan.

Kita sebenarnya memiliki pengaruh besar terhadap orang lain lebih dari apa yang kita sadari. Bahkan ketika dalam posisi kesusahan sekalipun tetaplah fokus untuk memberikan contoh yang baik kepada orang lain dengan bersikap tenang, wajar dan berbagi informasi yang dapat dipercaya. Ingatkan diri kita dari semua peran yang kita mainkan dalam hidup dan tentukan untuk menjalanlannya sebaik mungkin dalam situasi seperti ini. Saat memiliki waktu lakukan praktik Qigong dan Jingzuo duduk diam mengharmoniskan hati, pikiran dan tindakan beberapa waktu untuk meningkatkan kesadaran spiritual kita.

Ketika kita merasa seperti dalam kondisi yang sama dengan Zilu, ingatlah bahwa kita selalu memiliki kewajiban untuk menjadi orang baik apapun kondisinya. Ketika kita sepenuhnya terlibat dalam karya kemanusiaan maka kita memiliki persiapan mental yang cukup tersedia untuk tidak panik dan tertekan dalam posisi krisis sekalipun. Dan pasca Covid-19 ini tentunya akan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk lebih menghargai hubungan harmonis kita denga Pencipta, Alam Semesta dan sesama manusia.

Notes

“Orang berbudi mewujudkan tepa salira, orang rendah budi bertentangan dengan tepa salira”

“Orang yang berbudi tidak berdiri dibawah tembok yang retak, ia selalu waspada seolah-olah seperti berjalan pada lapisan es yang tipis”

“Orang yang pandai melampaui, orang yang “bodoh” tidak dapat mencapai”

“Orang berbudi melakukan apa yang pantas untuk posisi dimana dia berada, dia tidak berhasrat untuk melampaui….dalam posisi kesedihan dan kesusahan, dia melakukan apa yang pantas untuk pada psosisi dalam kesedihan dan kesusuahan”

“Adakah satu prinsip yang dapat dijadikan pegangan hidup kita selamanya?” Confucius menjawab “itu adalah satya dan tepa salira, apa yang diri sendiri tidak inginkan, maka janganlah dinerikan kepada orang lain”

“Jika orang berbudi meninggalkan kemanusiaan, bagaimana mereka disebut orang berbudi? Seorang yang berbudi tidak meninggalkan kemanusiaan, bahkan disaat sedang makan, seorang yang berbudi berpegang teguh kepada kemanusian bahkan dalam keadaan bahaya (krisis) sekalipun” (Analect 4.5)

“Orang berbudi berhati lapang dan tenang, orang rendah budi berhati
sempit dan khawatir” (Analect 7.37)

Confucius berkata: “Ada tiga hal yang dimiliki sifat orang berbudi
yang belum dapat kucapai, penuh rasa kemanusiaan sehingga tanpa merasa susah payah, bijaksana shingga tidak bimbang dan ragu, memiliki
keberanian sehingga tidak merasakan ketakutan (Analect 14.28)

27/3/2571 Anno Confucius

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*