KUPAS KOLOM: Geger Corona dan Budaya Gotong Royong

Mawardin Sidik
Mawardin Sidik

Oleh Mawardin, Wasekjen DPP KNPI Bidang Kerjasama dan Diplomasi ASEAN

Geger corona tak henti-hentinya memantik kepanikan global. Virus corona (covid-19) yang bermula dari Wuhan provinsi Hubei di Tiongkok itu telah menjebol batas-batas teritorial negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Semua elemen bangsa dan masyarakat menghadapi kesulitan yang sama dalam menghadapi virus ganas ini. Dampaknya bagi negeri kita tak hanya berkaitan dengan soal kesehatan publik, tapi juga berimbas ke sektor ekonomi, sosial, budaya, politik dan pertahanan keamanan.

Pemerintah memang tidak bisa sendirian mengatasi bencana nasional ini. Kita mesti memutus mata rantai penyebaran covid-19 dengan membumikan budaya gotong royong sebagai kearifan dan nilai-nilai luhur nusantara. Hal itu pun sudah terdengar dan terlihat. Yang hartawan membantu warga kurang mampu yang terdampak corona, terutama buruh informal harian dan sebagainya. Tak ketinggalan pula kalangan artis, seniman dan atlet menggalang solidaritas membantu sesama. Potong gaji anggota DPR, DPRD plus pejabat lainnya sangat dinantikan realisasinya segera untuk diberikan pada rakyat yang membutuhkan. Lebih banyak lebih baik.

Di era bencana corona ini, berkontribusi tak mesti sumbang dana. Kita juga bisa menyumbang tenaga dan pikiran. Sebagai kaum beriman, kita terus berdoa semoga badai corona ini segera berlalu. Setidak-tidaknya, kita menaati instruksi pemerintah, anjuran para pakar dan himbauan pemuka agama dalam rangka pencegahan wabah covid-19 dengan menjaga jarak fisik, isolasi diri, menjauhi kerumunan dan keramaian, hidup bersih dan sehat. Dalam kebersamaan dengan cara masing-masing itu terkandung spirit gotong royong secara tulus dalam aksi-aksi kolektif dan partisipasi saling mengingatkan dan membantu sesama.

Bapak Proklamator Bung Karno pernah mengatakan bahwa intisari dan esensi Pancasila berasal dari budaya gotong royong yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Dalam kondisi pandemi global, maka budaya gotong royong yang dihidupkan kembali saat ini sebagai roh bangsa dalam berjuang melawan corona patut dirayakan. Inilah momentum bagi bangsa Indonesia untuk saling menjaga dan saling tolong-menolong di tengah kesulitan dengan semangat kemanusiaan dan keikhlasan.

Bagi pengusaha besar atau pejabat kaya mungkin tak sulit bagi mereka mengeluarkan duitnya untuk berbagi dengan sesama. Namun bagi komunitas yang mengandalkan iuran anggota, atau hasil penggalangan dana secara terbatas, ini cukup membanggakan, terlebih selama ini misalnya kelompok pemuda yang dicap ‘geng keras’, rupanya terpancar juga sisi lain yang humanis. Sebagai contoh, komunitas Daboribo (damai boleh ribut boleh) pada 6 April 2020 lalu (magelangekspres.com), mereka membagikan 1.000 masker dan penyemprotan disinfektan di Wonosobo. Hal ini bisa menjadi secercah inspirasi bagi Daboribo lainnya, juga motivasi bagi komunitas serupa di daerah-daerah.

Tentu saja banyak cerita-cerita inspiratif organisasi dan komunitas sejenis di berbagai wilayah yang ikut berpartisipasi menolong warga di tengah wabah corona, baik ormas, KNPI dan organisasi kemahasiswaan.

Advertisement

Barangkali apa yang diberikan mereka sekilas kecil, tapi hal itu sejatinya memberikan manfaat yang besar di sekelilingnya. Berapa pun sumbangsih sebuah organisasi atau komunitas lintas suku, agama, ras dan antar golongan, kita sewajarnya mengapresiasi secara empatik dengan harapan spirit gotong royong ini terus dirawat di masa yang akan datang, apapun latar belakang dan jejak rekamnya.

Kita juga patut mendukung Mabes Polri yang telah memberikan instruksi, panduan dan arahan kepada seluruh jajaran Polda, Polres dan Polsek terkait langkah-langkah teknis dalam mengamankan kebijakan pembatasan sosial. Kita berharap, mata rantai penyebaran covid-19 dapat diputus, termasuk mencegah keributan yang mungkin saja timbul akibat kemerosotan ekonomi di tengah wabah corona ini. Rencana aksi vandalisme kelompok Anarko Sindikalis untuk bertindak rusuh yang berhasil dicegah aparat kepolisian layak diapresiasi.

Untuk mengantisipasi kemungkinan situasi huru-hara, aparat pemerintah dapat memberikan perhatian khusus menyangkut ketersediaan sembako di hari-hari mendatang. Hal itu bisa dilakukan dengan pengawalan yang ketat terkait distribusi logistik bagi warga kurang mampu. Sehingga emosi-ekstrem yang mungkin lahir dari situasi darurat ini dapat dicegah sejak dini secara tertib. Damai boleh, bahkan harus, dan sebisa mungkin menjauhi keributan.

Dalam konteks ini, pemerintah dapat bekerjasama dengan orang-orang dermawan yang tak sedikit di negeri tercinta ini. Jejaring relawan dari berbagai kelompok masyarakat baik secara mandiri maupun galang dana terlihat terus bergerak mendistribusikan makanan gratis, paket sembako, alat pelindung diri dan bantuan dana untuk warga yang membutuhkan. Organisasi besar, menengah dan kecil baik yang bercorak keagamaan, etnik maupun laskar sipil turun tangan secara serentak mencegah wabah corona di berbagai daerah. Inilah perwujudan nyata dari ekstrak budaya gotong royong, holopis kuntul baris.

Hal ini tergambar dalam suatu pidato Bapak Proklamator Ir. Soekarno: Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong! Prinsip Gotong Royong diatara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia adalah bangsa petarung. Mari kita saling tolong-menolong, bantu-membantu membumikan budaya gotong-royong untuk bersama-sama mencegah wabah corona. Tetap merawat perdamaian, mengikat tali persaudaraan dan menjauhi keributan. Mudah-mudahan setelah berselancar di tengah krisis ini, kita menjadi manusia unggul, tahan banting dan berdaya saing untuk serentak membangun kembali negeri tercinta ini.

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*