Mahasiswa Prasetiya Mulya Berdayakan UMKM Cianjur
CIANJUR (KM) – Sekolah bisnis yang satu ini punya cara jitu meningkatkan kepekaan para mahasiswanya dalam mengasah kompetensi bisnis mereka.
Program strata-1 (sarjana) Prasetya Mulya Business School menyelenggarakan mata kuliah Community Development (ComDev) sebagai bagian dari pendidikan kewirausahaan mereka.
Mata kuliah yang dirancang dengan konsep laboratorium kewirausahaan ini diharapkan juga dapat menumbuhkan karakter kewirausahaan dan kepekaan sosial bagi para mahasiswanya.
“Bagi kami program Community Development itu merupakan pengabdian kepada masyarakat dan comdev merupakan program yang diarahkan sebagai ujung tombak pengembangan kapasitas dan kemandirian masyarakat desa melalui semangat kewirausahaan,” ucap penanggungjawab Comdev wilayah Kabupaten Cianjur Yogie Permana kepada KM Sabtu siang 29/2.
Program ComDev terbagi menjadi dua bagian yaitu ComDev I dan ComDev II. Pada mata kuliah ComDev I di semester II, mahasiswa diwajibkan untuk melakukan sebuah proyek di lembaga sosial masyarakat di wilayah Jabodetabek selama 20-30 jam agar mereka lebih mandiri dan kreatif.
Pada mata kuliah Comdev II di semester VI, mahasiswa ditantang membuat suatu usaha di komunitas di luar Jabodetabek. Konsep yang dijalankan adalah kewirausahaan sosial, yakni satu kelompok mahasiswa beranggotakan tujuh sampai delapan orang akan bermitra dengan satu keluarga di desa untuk membangun sebuah usaha yang memanfaatkan potensi bahan baku lokal di wilayah tersebut. Bisnis yang akan dijalankan harus memiliki nilai inovasi dan mampu meningkatkan pendapatan tambahan bagi mitra penduduk desa.
Mata kuliah ini menggunakan pendekatan dengan kemitraan dan orangtua. Sistem ini menempatkan mahasiswa yang akan menjalankan usaha bersama sebagai mitra, sekaligus anak asuh sehingga timbul ikatan yang lebih kuat.
Masa studi mata kuliah ComDev II adalah delapan bulan. Pada dua bulan pertama mahasiswa melakukan survei dan pemetaan potensi. Kemudian, kelompok mahasiswa tinggal sebulan penuh di rumah mitra untuk memulai membangun usaha yang dipilih. Pada lima bulan berikutnya, dilakukan pendampingan dan pemantauan kemajuan usaha para mahasiswa.
Pembinaan pada periode 2008-2010 dilakukan di wilayah Sukabumi. Beberapa bisnis yang sudah dikembangkan antara lain usaha stik pisang, palapa yakni kue dari buah pala, Lepis (semprong pisang), dan berbagai kerajinan lainnya.
Salah satu mitra dalam Comdev yakni Mochi 3R yang beraneka ragam rasa, dari rasa oreo, kacang dan coklat, dimiliki oleh Wiwi Karsih, warga Desa Gadog, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.
“Usaha saya ini dirintis sejak tahun 2017, dan kenapa namanya 3R, karena itu ketiga nama anak saya dari Rifki, Rama dan Rayan, dan kedatangan mahasiswa dari Universitas Prasetiya Mulya ini sangat membantu pemikiran dan ide-ide baru, seperti penjulan online dan penambahan rasa baru dari oreo dan green tea milo,” jelas Wiwi.
Mahasiswa yang ikut berbaur dalam mengembangkan usaha mochi ini terdapat 5 mahasiwa yakni Sheila Levina, Amadeus Yoel, Ari Oktariani, Ricson Valenteo dan Erika Nathania. Merekapun kesulitan dalam pemasaran karena produk makanan mochi ini hanya kuat 3-5 hari.
“Kendala utama yang dihadapi karena produk tidak tahan lama karena kuat 3-5 hari, kemudian mencoba memakai pengawet makanan untuk awet mencoba masuk ke supermarket namun belum terlalu menguntungkan. Mencoba ide kasih tester, yang lain mencoba pemasaran via sticker WA, sudah masuk di Shopee dan Tokopedia, untuk Pulau Jawa bisa pakai JNE dalam satu hari,” tutur Sheila.
Hal senada diungkapkan Mitra Comdev lainnya untuk produk Kandang Es Cream yang berada di Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianju, yang dimiliki oleh Resdiana Saputra.
“Awal mula konsumsi susu di sekitar sini rendah dan karena saya peternak sapi juga, dengan memili 9 ekor sapi, akhirnya mempunyai ide membuat Kandang Es Cream karena dibuat dari peternakan saya sendriri. Mahasiswa di sini meneruskan dari tahun kedua sejak berdiri di tahun 2016, belajar membuat es krim otodidak, dengan kemurnian susu 90%, kemudian ada rasa baru seperti oreo, stroberi, coklat, sayuran brokoli, wortel dan pisang. Dahulu saya jual Rp 2.000 per kap kecil, namun, sekarang dijual Rp 5.000 ” ucap Resdi.
Resdiana juga diajarkan bagaimana caranya mendapatkan keuntungan hingga 6 kali lipat, yang tadinya pendapatan hanya Rp1.000.000, sekarang bisa mendapatkan Rp6.000.000 dengan menggunakan peralatan yang ada.
“Sasaran pasar awal mula anak kecil, makin kesini bisa langsung ke market dan orang tua, untuk jualan masih lesehan di SD setempat, dan harapannya tidak terbatas di es krim saja akan tetapi bisa menambah olahan susu dari kandang Deli Farm susu, karena melihat potensi bisa mempunyai ide untuk memiliki perusahaan es krim,” kata Felisia Kristabel.
Reporter: HSMY
Editor: HJA
Leave a comment