Legislator Kecam Terus Meningkatnya SiLPA di Kabupaten Bogor, Tuding Perencanaan Pemkab Buruk, Motivasi Rendah
BOGOR (KM) – Penyebab meningkatnya dana Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Kabupaten Bogor di 2019 dikatakan karena “perencanaan yang buruk” ditambah “penyerapan anggaran yang rendah”. Selain itu, program yang direncanakan kurang inovatif karena motivasi ASN untuk melayani masyarakat dianggap “masih rendah”. Hal tersebut diungkapkan oleh anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor Ruhiyat Sujana.
“Ya dari tahun ke tahun SiLPA APBD terus meningkat, salah satunya dikarenakan perencanaan buruk yang menyebabkan pekerjaan fisik, yang seharusnya mulai dilaksanakan sejak Februari, molor sampai Juni atau Juli,” ungkap pria yang akrab disapa Kang RS tersebut kepada KM, Kamis 12/3.
“Alasannya belum ada petunjuk teknis. Padahal, di lain sisi, dana belanja pegawai terserap dengan baik, bahkan sudah berjalan di semester pertama mencapai 50 persen,” tambah Kang RS.
RS yang juga mantan aktivis tersebut menuturkan bahwa kalau orang terpanggil untuk melayani, “pasti” belajar dari tahun sebelumnya, sehingga persiapan juknis bukan menjadi alasan untuk terlambat merealisasikan program sesuai waktu yang ada.
“Bagaimana kalau baru mulai kerja Juni-Juli, baru jumlah item banyak? Apakah efektif? Tentunya tidak,†tegas RS.
RS juga menilai, selain perencanaan yang buruk, membengkaknya dana SiLPA juga buntut dari motivasi ASN dalam melayani yang rendah.
“Kalau orang terpanggil melayani dengan hati pasti akan berjalan baik dan memuaskan. Tapi, bila tidak maka pastinya dianggap beban sehingga pekerjaan tidak tuntas dan berakibat pada anggaran tidak terserap,” kata RS.
“Dana untuk belanja pegawai biasanya terserap dengan baik. Kalau untuk jalan dinas, ASN di tiap OPD lebih kreatif dan berinovasi, tapi untuk masyarakat tunggu dulu. Itu yang selama ini terjadi, ini harus menjadi bahan evaluasi kepala daerah, jangan biarkan terus berlanjut.”
“Kepala daerah harus menilai dan mengevaluasi OPD di tiap tahun, agar diingatkan bila SiLPA masih tinggi. Sebaliknya yang berkinerja bagus diberi apresiasi, yang kedapatan rendah diberikan peringatan agar berbenah, jika meningkat dari tahun ke tahun, maka harus ada sanksi,†ujar RS.
Dengan meningkatnya SiLPA, lanjut RS, “masyarakat dikorbankan” karena masih banyak program kegiatan yang dibutuhkan masyarakat seperti masih banyaknya sekolah rusak, jalan rusak. “Ini kan keblinger namanya, SiLPA tinggi tapi kepentingan masyarakat terabaikan,” tutup Kang RS.
Reporter: ddy
Editor: HJA
Leave a comment