KUPAS KOLOM: Mengenang Cak Nur, Menyoal Ketegangan Agama dengan Sains

Mawardin Sidik
Mawardin Sidik

Oleh Mawardin Sidik, Pengurus PB HMI, DPP KNPI

Dalam rangka mengenang 81 tahun kelahiran Cak Nur (sapaan akrab Nurcholish Madjid), ijinkan saya melakukan refleksi di era lockdown ini. Guru Bangsa kelahiran 17 maret 1939 itu seolah ‘hadir’ kembali di tengah ketegangan antara sains dengan gaya beragama (sebagian) yang keliru dalam menatap geger virus corona.

Ada yang bilang corona sebagai illuminati dan konspirasi ini itu. Sungguh disayangkan pula sebagian kaum beragama mau menggelar acara massal di Gowa dan Ruteng, kendati akhirnya dibatalkan. Padahal pusat ritual agama di Arab Saudi, Yerusalem, Vatikan dll ditutup karena virus corona.

Dalam perspektif sains, bila kita disarankan untuk menghindari acara massal dan kerumunan, jaga jarak (social distancing), mengisolasi diri di rumah untuk mencegah penularan corona, maka ikutilah. Jangan sampai kesadaran saintifik yang gagal paham ditambah kekeliruan nalar beragama berakibat buruk di kemudian hari. Kita harus ekstra hati-hati guna mencegah kemudharatan yang lebih besar.

Pandemi global virus corona (covid-19) yang telah memangsa banyak korban perlu diatasi dengan kekompakan berbagai unsur. Ketaatan terhadap otoritas sains, instruksi negara maupun institusi agama resmi tak boleh dianggap enteng. Keputusan pemerintah, MUI, pendapat para ahli atau pakar, juga inisiatif akar rumput yang solutif dalam rangka pencegahan dan penanggulangan kasus epidemi covid-19 perlu didukung. Lalu kita bergerak, turun tangan sesuai kapasitas masing-masing. Rival daripada kepakaran (sains) berupa fanatisme buta mesti dibangunkan oleh para ilmuwan yang bijak bestari.

Namun demikian, memprasangkai sains sebagai kedigdayaan mutlak juga tidak tepat, apalagi menegasikan agama dengan segala dimensi ritual, metafisik dan spiritualnya. Antara agama dengan sains tak perlu dibenturkan dan didikotomikan, melainkan diintegrasikan untuk menyelesaikan persoalan pelik secara mendasar. Dalam konteks inilah relevansi pemikiran Cak Nur yang mengharmoniskan antara wahyu agama, sains, filsafat, tasawuf dan serba-serbi kemodernan layak direnungkan kembali.

Begitu juga sumbangsih gagasan Cak Nur seputar demokrasi, HAM, moralitas politik, pluralisme dan keadaban publik.  Cakrawala ide-ide Cak Nur itu dapat diringkas ke dalam tiga lelaku: beriman, berilmu, dan beramal. Disinilah posisi strategisnya kaum Caknurian yang tersebar di berbagai komunitas untuk mengartikulasikan pesan-pesan keagamaan universal secara progresif dan kontekstual di jaman kalabendu ini. Massa-domba harus dibebaskan dari jerat dogmatik-fanatik yang over-dosis.

Cak Nur, HMI, Menyalakan Api Islam

Salah satu kelompok pewaris intelektualitas Cak Nur seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki obligasi moral untuk melanjutkan, memperkaya, mempertajam dan mengontekstualisasikan warisan Sang Pembaharu itu. Mengenang Cak Nur jadi teringat saat mengikuti basic training di HMI Cabang Makassar Timur. Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang disusun oleh Cak Nur sebagai pedoman bagi kader sangat berarti dalam perjalanan intelektual-spiritual saya.

Dalam materi pengantar menuju NDP, para calon kader ditekankan untuk menguasai kunci pengetahuan melalui filsafat ilmu. Segala sesuatu diuji dan ditelaah berdasarkan kerangka berpikir ilmiah dan critical thinking. Dalam tradisi berpikir kritis dan rasional di training HMI, saya pribadi merasa terselamatkan dari ancaman bigotri. Cak Nur juga menekankan bahwa modernisasi adalah rasionalisasi, bukan westernisasi.

Asyiknya, pemateri menggunakan metode dekonstruksi (pembongkaran). Perdebatan intelektual dilakukan secara objektif dan sistematis yang dikemas dengan gaya dialog dalam iklim dialektika yang cair. Peserta dibongkar isi kepalanya, lalu dipaku dengan spirit Islam yang terbuka, cinta damai lintas batas dan menghargai akal sehat. Tapi sejauhmana peran “anak-anak ideologis” Cak Nur di masa kini?

Ketika akal dipunggungi, dogmatisme-fanatisme buta menggerogoti nalar, dan kritisisme diborgol, maka spirit Cak Nur harus dihadirkan kembali. Sudah saatnya kader HMI turun gunung sebagai penyampai risalah Islam yang membebaskan, demokratik dan humanis. Nilai-nilai Islam progresif itu dapat diambil dari saripati NDP, lalu dikontestasikan dalam semarak diskursus keislaman dan kebangsaan kontemporer.

Kenangan Pribadi Membaca Cak Nur

Jauh melintasi waktu, sebenarnya saya bergelut dengan pemikiran Cak Nur lewat rute perjalanan yang agak berbelok-belok, penuh tanjakan. Sosok Nurcholis Madjid pertamakali saya dengar dari cerita ayahku yang kesehariannya mengajar mata pelajaran agama Islam di salah satu SDN di Bima, NTB. Kesan yang saya peroleh, intinya Cak Nur seorang tokoh nasional yang tidak sepenuhnya saya paham semasa kanak-kanak.

Di tengah episode pencarian jati diri, saya yang sedang mengalami puber ideologis saat remaja diberi sebuah buku berjudul “Tasawuf Belitan Iblis” oleh seorang aktivis garis keras, yang dikarang oleh Hartono Ahmad Jaiz. Bukan hanya ajaran tasawuf dan praktik tarekat yang diserang Hartono, tapi juga tokoh-tokoh seperti Cak Nur hingga Gus Dur.

Manakala saya melihat bacaan berwatak ekstrem yang isinya menghujat Cak Nur, kerapkali terdapat pandangan Hartono yang mengantagoniskan ketua umum PB HMI dua periode itu (1967-1969 dan 1969-1971). Saya nyaris terpapar, bergelayut dalam kegelisahan. Seiring perjalanan waktu, saya kemudian menemukan buku ‘berat’ di Perpustakaan Umum Daerah Bima. Judulnya “Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam: 70 Tahun Harun Nasution (Dunia Bulan Bintang, 1989)”, yang salah satu kontributornya adalah Cak Nur.

Ketika membaca uraian Cak Nur yang memukau, saya merasa tercerahkan. Kita diperkenalkan dengan istilah-istilah canggih dalam blantika pemikiran keagamaan dengan etos toleran yang kuat. Sentuhan spiritual Cak Nur kian terasa ketika sebuah makalah saya dapatkan dari seorang paman (pengamal tarekat) berjudul “Peran Tasawuf dalam Membentuk Masyarakat Cinta Damai”, yang salah satu kontributornya: Cak Nur. Perjumpaan antara alam falsafah Cak Nur dengan renungan sufistik itulah yang membebaskan saya dari jeratan lingkaran garis keras. Ghiroh pergerakan pun terus bersemai sewaktu terjun sebagai aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Daerah Bima.

Etos intelektual tambah bergairah tatkala mondok di HMI, kemudian membaca Cak Nur. Saya yang semula agak ‘kaku’, lambat-laun menjadi terbuka. Saya pun bertumbuh ‘sehat’ berkat tanah subur Hijau-Hitam, termasuk asuhan dari komunitas lainnya. Poinnya, kita ditekankan bagaimana menjadi seorang muslim yang inklusif, menghargai keberagaman dan berwatak pembaharu. Akhirnya kita sampai pada satu fase yang membentuk jiwa merdeka.

Lalu berpulang ke kita masing-masing untuk merayakan azimat kemerdekaan berpikir itu. Bercampur dengan serangkaian mozaik inspirasi pemikiran yang kita serap dari berbagai arah mata angin. Pesan-pesan pembebasan, kemanusiaan, integrasi antara wahyu dan akal harus menjadi panduan bagi kita. Para komunitas hijau-hitam dan simpul Caknurian mesti meneruskan pembaharuan untuk memancarkan cahaya Islam sebagai api, bukan abu. Perjumpaan antara titik Api Islam Cak Nur dengan Bung Karno diharapkan terus menyala untuk Indonesia gemilang dan berkemajuan.

Semoga corona segera berlalu. Yakin Usaha Sampai. Alfatihah buat Cak Nur.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*