KUPAS KOLOM: Jubir Penanganan Covid-19 Harus Mengundurkan Diri Secara Terbuka!

Jubir Pemerintah untuk penanganan wabah COVID-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers, Kamis 27/3/2020 (dok. KM)
Jubir Pemerintah untuk penanganan wabah COVID-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers, Kamis 27/3/2020 (dok. KM)

Oleh Adri Zulpianto, Koordinator Aliansi Lembaga Analisis Kebijakan dan Anggaran (ALASKA)

Hampir satu bulan virus covid-19 muncul di Indonesia, kondisi dalam negeri semakin tidak jelas dan di ambang ketidakpastian. Masyarakat diselimuti rasa khawatir dan waswas, ditambah kondisi sosial juga tidak mendukung untuk saling dukung.

Namun Jubir pemerintah untuk penanganan covid-19, Achmad Yurianto, dalam rilisnya menyatakan tentang si kaya dan si miskin. Si kaya harus melindungi yang miskin agar hidup wajar, dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan virus.

Dalam situasi darurat, mestinya masyarakat didorong untuk bersatu. Meniadakan si kaya maupun si miskin dalam pikiran semua pejabat yang ambil peran di depan masyarakat, terlebih sebagai jubir, yang seharusnya mampu memilih dan memilah kata yang mana mampu membuat keadaan tenang, bukan malah membuat kondisi semakin panas.

Sejak kondisi darurat diputuskan oleh pemerintah, masyarakat semua dalam kondisi yang sama, khawatir, keadaan ekonomi yang tidak jelas, ditambah tidak adanya ketegasan dari pemerintah pusat terkait kondisi di daerah-daerah terdampak juga menjadi sumbangsih bagi ketidakpastian hidup di tengah wabah pandemi ini, maka siapapun harus mendorong diri untuk mampu mengeluarkan kata-kata yang menenangkan, bukan malah membuat kerusuhan.

Maka dari itu, perkataan yang menunjukkan bahwa Si Kaya melindungi yang Miskin, dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak tertular, ini sangat tidak etis!! Sangat merendahkan, dan tidak mengandung unsur-unsur menyatukan.

Perkataan ini menuduh, mencemarkan, bahkan membuat waswas dan mengancam keadaan sosial kita semakin parah, di tengah situasi yang semakin sulit seperti sekarang ini.

Untuk itu, kami memahami bahwa dalam kondisi seperti ini, Achmad Yurianto selaku Jubir bersama dengan mereka yang berjuang dengan mengorbankan apapun, baik waktu maupun tenaga, mengalami kelelahan, dan lemahnya konsentrasi, tapi itulah resiko yang harus dialami, begitu juga yang masyarakat alami, jangan ada pikiran yang berbeda, karena masyarakat juga mengorbankan pekerjaan, mengorbankan usaha, dll. Kita sama.

Maka dari itu Jubir Covid 19, harus meminta maaf, dan sebaiknya dia mengundurkan diri saja di saat konferensi pers, jika dia tidak mampu mengemban pekerjaan sebagai jubir. Itu lebih baik, daripada membiarkan masyarakat terbelah dan memperburuk keadaan berbangsa dan bernegara di tengah situasi darurat seperti sekarang.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*