KUPAS KOLOM: Eksistensi, Proporsi, dan Kompetensi untuk Kompetisi Perempuan di Era Digitalisasi.
Oleh Windi Wijayanti SE, Staf Bawaslu Kota Bogor
Peringatan hari Perempuan Internasional atau yang dikenal dengan International Women’s Day adalah sebuah momentum penghargaan bagi kaum hawa di dunia. Lahirnya event tersebut, selain menunjukan bahwa perempuan harus mendapatkan hak-hak yang semestinya didapat baik dalam kehidupan, perempuan juga memiliki peran untuk menunjukukan eksistensi dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, dan politik.
Tidak hanya berbagai negara di belahan dunia, secara khusus eksistensi perempuan di Indonesia pun mengalami perkembangan yang signifikan.
Sejarah dimulai dari gerakan emansipasi wanita yang diserukan oleh R.A. Kartini. Gerakan ini dilatarbelakangi oleh banyaknya diskriminasi antara pria dan wanita yang terjadi di Indonesia.
Salah satu contoh diskriminasi yang sangat terlihat adalah adanya statement bahwa perempuan tidak berhak untuk mengenyam pendidikan yang tinggi. Hal ini yang kemudian mengusik nurani R.A. Kartini untuk bergerak menjadi pelopor kebangkitan wanita di Indonesia yang kemudian tersirat dalam buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.
Selain gerakan emansipasi wanita yang diserukan oleh R.A. Kartini, perjuangan kemerdekaan Indonesia pun tidak lepas dari peranan perempuan. Kemerdekaan dan kedaulatan yang diraih oleh Indonesia lahir dari keikutsertaan pahlawan perempuan Indonesia, seperti contohnya Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Christina M. Tiahahu dan lainnya yang dengan gigih, gagah dan berani melawan penjajah demi meraih kemerdekaan untuk Indonesia. Kebebasan berkarya yang didapat oleh perempuan di Indonesia saat ini tentu lahir dari perjuangan para pahlawan Indonesia yang terdahulu yang tercatat ataupun tidak dalam jejak sejarah.
Perkembangan peranan perempuan di Indonesia berkembang dengan pesat. Hingga saar ini tercatat beberapa perempuan hebat Indonesia memiliki peran yang sangat berpengaruh di negeri ini. Berbagai jabatan penting di negeri ini pernah dijabat oleh seorang perempuan seperti Menteri Negara, Pimpinan BUMN hingga Presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarno Putri. Bukan hanya utnuk NKRI, Indonesia membuktikan bahwa Perempuan Indonesia mampu memberikan pengaruh terhadap organisasi Dunia. Sebut saja salah satu contohnya Ibu Sri Mulyani Indrawati. Sosok yang dikenal dalam dunia ekonomi dan keuangan ini, selain pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan pencapaian yang sangat luar biasa adalah menjadi salah satu Direktur Pelaksana Bank Dunia (World Bank). Bahkan Sri Mulyani pernah menjadi salah satu wanita paling berpengaruh di dunia versi majalah Forbes.
Dalam dunia politik, adanya aturan keterwakilan perempuan minimal 30% di Lembaga Perwakilan merupakan salah satu capaian penting. Aturan ini perlu diapresiasi, karena telah memberikan ruang kepada kaum hawa untuk dapat berkarya. Adanya keterwakilan perempuan di kursi DPR RI periode 2019-2024 sebanyak 20,5 % seperti yang dikutip di halaman resmi website http://www.dpr.go.id, merupakan salah satu dampak positif dari aturan mengenai keterwakilan perempuan. Dengan angka ini, tentunya diharapkan pemilu yang akan datang jumlah perempuan yang menjadi wakil rakyat semakin meningkat. Akan tetapi, bukan hanya di Lembaga Perwakilan tentu saja, berbagai Lembaga diharapkan dapat meningkatkan keterwakilan peranan perempuan.
Dibalik isu positif mengenai keterwakilan perempuan tentunya ada sisi yang perlu diperhatikan. Ruang yang diberikan Undang-Undang kepada kaum hawa ini perlu diapresiasi, akan tetapi kompetensi dan kemampuan seorang perempuan dalam berkarya pun harus menjadi hal yang diperhatikan. Kompetensi apa yang dimiliki dan dapat dilakukan harus berbanding lurus proporsi yang diberikan untuk kaum perempuan. Sehingga ada hal nyata yang dapat dikontribusikan untuk penyelesaian berbagai problema di Indonesia baik social, ekonomi maupun politik. Adanya inisiatif dan open minded menjadi hal yang penting untuk kemajuan Perempuan di era saat ini.
Tantangan di era digital pun harus dihadapi oleh perempuan. Peran perempuan menjadi semacam tantangan tersendiri di bagi ekonomi digital saat ini. Disamping sebaagai pengguna teknologi, perempuan Indonesia harus juga memiliki kemampuan dan kreativitas yang saat ini belum banyak dikuasai oleh peranan perempuan. Hal ini tentunya akan memberikan dampak yang sentral menjadikan perempuan sebagai aktor aktif dalam perkembangan ekonomi digital ini.
Perkembangan ekonomi digital yang saat ini terus berlangsung, sehingga memerlukan perempuan-perempuan yang kreatif, memiliki kemampuan yang mumpuni untuk mengisi “lahan†digital yang ada. Hal ini diharapkan, bukan hanya eksistensi dan proporsi perempuan namun kompetensi yang dimiliki perempuan Indonesia menjadikannya mampu berkompetisi di era digitalisasi. Ada pepatah Soekarno yang mengatakan “Wanita adalah tiang negara, apabila dia baik maka baiklah negara, dan apabila dia rusak maka rusaklah negara ituâ€, ini artinya perempuan memiliki peranan penting dalam memajukan bangsa Indonesia.
Leave a comment