AMUK Pamijahan Kecam Sosialisasi Pengeboran Sumur Panas Bumi Star Energy, Tuding Dilakukan Secara Diam-diam

Sumur panas bumi PLTP Sarulla di Sumatera Utara (dok. Korea.net)
Sumur panas bumi PLTP Sarulla di Sumatera Utara (dok. Korea.net)

BOGOR (KM) – Setelah sebelumnya menimbulkan polemik di Kecamatan Pamijahan, Star Energy Geothermal Salak akhirnya akan melaksanakan sosialisasi terkait pengeboran sumur panas bumi di Gedung GSC Star Energy Geothermal Salak Ltd, Kamis 19/3 siang. Sosialisasi tersebut sebelumnya rencananya diadakan di GOR PGRI Pamijahan, namun dibatalkan.

Aliansi Mahasiswa Untuk Kedaulatan (AMUK) Pamijahan memprotes sosialisasi pengeboran sumur panas bumi tersebut karena dinilai terkesan tiba-tiba dan sembunyi-sembunyi, karena hanya mengundang beberapa pihak dan tidak melibatkan masyarakat, serta pemilihan lokasi yang dinilai “tidak representatif dan sangat eksklusif”.

“Saya merasa sosialisasi ini terkesan tidak transparan dan sembunyi-sembunyi, karena lokasi kegiatan berada di area perusahaan. Mestinya kalau bicara sosialisasi idealnya merekalah yang turun gunung, mereka jemput bola, perusahaan lah yang harus menghampiri masyarakat, bukan malah sebaliknya. Libatkan masyarakat sebanyak mungkin. Karena hari ini merekalah yang butuh kepada masyarakat, bukan malah sebaliknya. Ini tidak bisa diterima sama sekali,” ujar Sabri Maulana Ibrahim, pembina AMUK Pamijahan.

Pernyataan yang dijelaskan oleh pembina AMUK Pamijahan tersebut mengutip surat yang dikirim oleh Star Energy dengan nomor SEGS/65-PGPAS/III/2020. Pada surat tersebut, pihak Star Energy mengundang Ketua APDESI Kecamatan Pamijahan dan ditembuskan kepada Camat Pamijahan, Kapolsek Pamijahan/Cibungbulang, Danramil Pamijahan/Cibungbulang, dan 15 Kepala Desa di Pamijahan.

“Selain itu, sosialisasi ini adalah sosialisasi yang kali kedua, setelah sosialisasi yang pertama di GOR PGRI Kecamatan Pamijahan batal digelar. Pemberitahuan sosialisasi terkesan dilakukan diam-diam dan tidak melibatkan elemen masyarakat dan OKP. Ia mengaku bahwa pelaksanaan dan lokasi kegiatan sendiri, hanya dikirimkan ke beberapa pihak melalui Whatsapp,” tambah Sabri.

“Seperti kami tahu dari info yang beredar di whatsapp, dalam surat tersebut hanya tertuju pada Ketua APDESI Kecamatan Pamijahan saja, dan di surat itu menyuruh APDESI untuk mengikutsertakan 15 kepala desa yang ada di Kecamatan Pamijahan untuk hadir, perlu kami tegaskan bahwa ketua APDESI Kecamatan Pamijahan bukanlah representasi dari rakyat Pamijahan karena dia tidak dipilih oleh rakyat! Dan mestinya kalau bicara etika kenapa Star Energy tidak membuat surat secara khusus tertuju kepada para 15 kepala desa langsung? Ini juga menimbulkan pertanyaan besar bagi AMUK Pamijahan. Kenapa kegiatan sosialisasi pengeboran sumur panas bumi yang berhubungan dengan lingkungan dan hajat hidup orang banyak, dilakukan oleh salah satu perusahaan terbesar di dunia dengan cara seperti ini?” ungkapnya.

Sementara itu, Imam M Ibrahim selaku Koordinator AMUK Pamijahan mengaku tidak hanya akan memprotes sosialisasi drilling ini, namun juga akan menolak keras kegiatan drilling secara utuh. Ia menduga, kegiatan pengeboran akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup.

“Masyarakat perlu tahu plus minus dari hadirnya perusahaan Star Energy di bumi Pamijahan, yang namanya eksploitasi alam suatu saat pasti akan ada dampaknya terhadap alam. Ada hukum sebab akibat, jangan bilang bahwa alam akan baik-baik saja. Mana AMDAL nya? Kalo AMDAL sudah ada tapi tetap dilaksanakan drilling, kami tuntut kaji ulang AMDAL nya! Sampaikan kepada masyarakat potensi kerusakan yang akan timbul, musyawarahkan dengan masyarakat secara terbuka, paparkan semuanya, jangan malah serba disembunyikan. Kalau ada apa-apa yang terjadi dengan bumi Pamijahan yang kena dampaknya ya pribumi. Mereka yang eksploitasi alam dan bukan pribumi mah angkat kaki! Maka dari itu kami AMUK Pamijahan menyuarakan tolak drilling,” paparnya.

Reporter: Dian Pribadi
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*