Iringi Perayaan Imlek, Komunitas Salihara dan Rumah Cinwa Gelar Festival Potehi

Sukar Mudjiono, Dwi Woro Mastuti, dan Josh Stenberg dalam sesi diskusi bertema Dibalik Layar Wayang Potehi, Sabtu 1/2/2020 (dok. KM)
Sukar Mudjiono, Dwi Woro Mastuti, dan Josh Stenberg dalam sesi diskusi bertema Dibalik Layar Wayang Potehi, Sabtu 1/2/2020 (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Didukung Kedutaan Besar Kanada di Indonesia, Komunitas Salihara bersama Rumah Cinta Wayang (Cinwa) berkolaborasi menyelenggarakan festival wayang potehi di Ruang Galeri Salihara Arts Center, Jalan Salihara 16 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu 1/2.

Wayang potehi sendiri merupakan seni wayang boneka yang dibawa oleh imigran Fujian dari selatan Tiongkok pada abad ke-16. Wayang yang terbuat dari bahan kain berbentuk kantong dan dimainkan dengan menggunakan lima jari tersebut awalnya hanya menampilkan kisah cerita yang berasal dari Tionghoa, namun seiring perjalanan waktu, pertunjukan seni wayang tersebut turut membawakan kisah khazanah budaya Nusantara dan mulai marak digelar sejak era reformasi pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

Festival diawali dengan menampilkan pertunjukkan seni wayang potehi bertema “Sun Go Kong Melawan Putri Kipas” yang dibawakan oleh Dalang Rahmadi Fajar Himawan dan Wahyu Panuji dilanjutkan dengan diskusi bertema “Di Balik Layar Wayang Potehi” dengan narasumber Josh Stenberg dari Kedutaan Kanada dan dalang senior potehi, Sukar Mudjiono.

Pendiri Rumah Cinwa, Dwi Woro Mastuti mengatakan bahwa pementasan wayang potehi yang berjudul “Sun Go Kong Melawan Putri Kipas” juga menanamkan pesan moral kepada penonton agar dalam setiap perjuangan dan perbuatan mengedepankan nilai kejujuran, kemanfaatan, tidak mudah menyerah untuk berbuat baik, peduli pada lingkungan dan terus menjaga semangat keimanan.

“Penonton pun tetap sangat menikmati pertunjukan tanpa merasa digurui oleh sang dalang. Mereka terbawa suasana adegan wayang potehi yang dilakonkan oleh sang dalang, ada terlihat ketegangan, tertawa, dan goyang badan sebagian penonton ketika mendengar iringan musik yang dimainkan,” ungkap Dwi Woro.

Sukar Mudjiono dalam pemaparannya mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum banyak yang menjadi dalang potehi. “Dalang potehi sendiri belum banyak yang siap tampil di Indonesia ini. Kurang lebih hanya ada 10 orang,” ujar Sukar.

“Komunitas Cinwa dalam rangka melestarikan wayang potehi juga rutin mengadakan kegiatan belajar bersama mulai dari tingkat anak dan dewasa. Untuk anak-anak diadakan lomba lukis wayang, silahkan bagi penonton yang ingin berperan aktif bersama bisa datang langsung di sanggar Komunitas Cinwa di Taman Kaldera Setu Jatijajar Depok setiap minggu ke-4,” sambung Dwi Woro jelang menutup sesi pertama diskusi.

“Kita harus bangga sebagai bangsa Indonesia, karena dunia telah mengakui bahwa kita telah diwarisi oleh leluhur kita, yaitu wayang yang merupakan warisan dunia, dan potehi adalah bagian dari bentuk wayang yang menjadi tanggung jawab kita sebagai generasi bangsa untuk melestarikannya,” pungkas Dwi Woro Mastuti yang juga dosen di FIB UI dan pembina di DPC PWRI Kota Depok usai menjadi moderator diskusi sesi pertama.

Diskusi selanjutnya dibawakan dengan judul “Budaya Tionghoa Peranakan: Transformasi Setelah Reformasi” dengan narasumber Didi Kwartanada, Udaya Halin, dan Josh Stenberg.

Kegiatan festival berlangsung hingga malam hari dengan ditutup oleh pementasan wayang potehi bertema “Damarwulan Satria Majapahit” yang mengisahkan keresahan Ratu Kencana Wungu atas dominasi Menak Jingga yang terus mendesak pasukan Majapahit sehingga sang ratu mengadakan sayembara bagi siapapun yang mampu mengalahkan Menak Jingga akan menjadi pewaris tahta selanjutnya.

Reporter: Sudrajat
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*