Milad Ke-2, LBH Linnus Gelar Pelatihan Advokasi Bagi 100 Anggotanya

Boris Tampubolon memberikan materi pemahaman hukum kepada kader-kader LBH Linnus di Pamijahan, Minggu 6/10/2019 (dok. KM)
Boris Tampubolon memberikan materi pemahaman hukum kepada kader-kader LBH Linnus di Pamijahan, Minggu 6/10/2019 (dok. KM)

BOGOR (KM) – Peringati HUT keduanya, LBH Lintas Nusantara (LINNUS) memberikan pelatihan bantuan hukum bagi beberapa anggotanya dalam acara yang digelar di Villa Kenni S di kawasan Gunung Salak Endah, Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Minggu 6/10. LBH yang lahir dan berangkat dari beragam latar belakang itu didirikan untuk memberi edukasi dan pendampingan hukum bagi masyarakat bawah yang buta tentang hukum dan masyarakat yang termarjinalkan.

“Tujuan kami agar masyarakat seragam tahu hukum dan taat terhadap hukum, bagaimana mereka agar cerdas di bidang sosial, ekonomi, budaya, politik, hukum dan HAM,” ujar Sekjen LBH Linnus Aria Suryadinata saat diwawancarai KM di sela-sela acara.

“Kebetulan untuk hari ini ada diklat di bidang hukum dan HAM, kegiatan ini berlangsung selama dua hari yang kebetulan bertepatan dengan milad kedua LBH Linnus. Peserta kegiatan seratus orang dari anggota Linnus sendiri utusan dari Kabupaten Bogor, Sukabumi bahkan dari Jakarta juga datang,” tambahnya.

“Dalam milad yang kedua ini, harapannya LBH Linnus menjadi besar dengan tujuan menciptakan kader-kader LBH Linnus yang dapat memberikan perlindungan hukum terhadap masyarakat dan bisa bersinergi dengan pemerintah,” lanjutnya.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pengawas LBH Linnus Devid Oktanto memotivasi peserta bahwa acara ini sebagai “investasi ilmu” untuk kader-kader sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat.

“Demi mengiplementasikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kader-kader Linnus konsisten bagi pemenuhan hak-hak masyarakat Indonesia,” tegas Direktur Eksekutif LBH Linnus saat memberikan sambutannya.

Pemateri dalam pelatihan tersebut diisi oleh Boris Tampubolon yang dipandu jurnalis RRI Yopri sebagai moderator.

“Pengetahuan sejati itu didapat dari lapangan, masyarakat harus mempunyai skill atau keahlian, keahlian itu berupa teori dan praktek di lapangan,” tegasnya.

Secara terpisah, Bendahara Umum LBH Linnus Zaenal Mutakin ikut menambahkan bahwa Linnus lahir dari keprihatinan terhadap “masyarakat kecil yang dirampas hak-hak hukumnya”.

“Saya melihat banyak kasus hukum yang menjerat masyarakat, karena ketidak tahuan dan ketidakberdayaannya sehingga mereka selalu jadi korban dan terampas hak-haknya,” pungkasnya.

Reporter: Dian Pribadi

Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*