PT. TFJ Bantah Tuduhan Kuasa Hukum Warga Cimande Hilir Soal Uji Petik DLH Bogor

Pabrik PT. Tirta Fresindo Jaya (Mayora Group) di Caringin, Kabupaten Bogor (stock)
Pabrik PT. Tirta Fresindo Jaya (Mayora Group) di Caringin, Kabupaten Bogor (stock)

BOGOR (KM) – Hasil uji petik laboratorium terhadap dugaan pencemaran lingkungan yang dikeluhkan warga RT 04 RW 02 Desa Cimande Hilir, Kecamatan Caringin, diumumkan oleh PT. SYS selaku pelaksana uji lab atas permintaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor di Kantor DLH Kabupaten Bogor, Jumat 9/8. Rapat pengumuman tersebut menghadirkan perwakilan dari PT. Tirta Fresindo Jaya (TFJ), anak perusahaan dari Mayora Group yang dikeluhkan warga itu.

Manager Industrial Relations And General Affairs (IRGA) PT. TFJ (Mayora Grup) Wahtoto mengatakan, pihaknya diundang rapat oleh DLH Kabupaten Bogor dengan agenda pemberitahuan hasil uji petik PT. SYS yang dilaksanakan pada 17 Juli 2019 lalu.

“Kesimpulan dari hasil uji petik adalah getaran, air sumur, uji ambien udara, outlet IPAL, kualitas air hulu dan hilir air sungai hasilnya masuk baku mutu, sedangkan untuk kebisingan perlu perbaikan,” ungkap Wahtoto dalam rilis persnya yang diterima KM semalam.

Wahtoto menuturkan, undangan rapat pada pukul 09.00 WIB, tapi kuasa hukum warga belum datang. Akhirnya rapat diskors 15 menit untuk menunggu mereka. Hingga 15 menit belum datang juga maka atas kesepakatan semua peserta yang sudah hadir, rapat dimulai.

“Baru setelah rapat ditutup pihak kuasa hukum [warga] baru datang atau terlambat sekitar 1,5 jam dari jadwal yang telah ditentukan,” tutur Wahtoto.

“Menurut kami apa yang dilakukan pihak DLH sudah memenuhi SOP kerja, dan hasil lab sudah memenuhi yuridis, dan tidak ada masalah.”

“Ya jadi hasil lab ini resmi dikeluarkan pihak lab yang besertifikat KAN. Kalau pihak kuasa hukum mempermasalahkan Muspika hadir dalam rapat, hal ini mereka diundang sebagai saksi saja tidak ikut membahas masalah yang ada,” terang Wahtoto.

“Jadi mestinya pihak kuasa hukum tidak perlu mempermasalahkan hal ini. Tim kuasa hukum warga itu tidak konsisten. Rapat di DLH pada 4 Juli 2019, mereka kuasa hukum setuju, dan mereka juga tandatangan notulen rapat untuk dilakukan uji petik di rumah warga,” lanjutnya.

“Ya tetapi kenapa pada saat dilakukan uji petik 17 Juli 2019, mereka menolak dilakukan uji petik dengan alasan menuduh perusahaan tidak menghidupkan mesin secara penuh?” sambungnya.

“Namun saat warga dan kuasa hukum kami undang langsung melihat ke dalam pabrik mereka menolak. Akhirnya kami mengajak pihak DLH untuk melihat ke dalam pabrik, sebagai bukti bahwa pihak pabrik menghidupkan semua mesin.”

“Tahun 2011 warga pernah melaporkan juga ke Ombusdman terkait getaran, hasil uji petik lab oleh Biotrop Bogor juga memenuhi baku mutu, maka Ombusdman tidak melanjutkan masalah ini,” ujar Wahtoto.

Lebih lanjut Wahtoto mengatakan, terkait CSR pihaknya, perusahaan juga melakukan tiap tahun secara rutin. “Kalau ada beberapa warga yang mengklaim tidak tahu mungkin mereka lupa, dan itu bisa dimaklumi,” pungkasnya.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*