Tokoh Pemuda: “Pilkades Ajang Pembelajaran Politik yang Penting”

Ketua Karang Taruna Desa Cibatok 02 Kabupaten Bogor Moh. Dedi Iskandar (dok. KM)
Ketua Karang Taruna Desa Cibatok 02 Kabupaten Bogor Moh. Dedi Iskandar (dok. KM)

BOGOR (KM) – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) merupakan salah satu bentuk pesta demokrasi yang begitu merakyat. Pemilu tingkat desa ini merupakan ajang kompetisi politik yang begitu mengena dan harus dijadikan pembelajaran politik bagi masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Ketua Karang Taruna Desa Cibatok 02 Kabupaten Bogor Moh. Dedi Iskandar menjelang Pilkades di desanya yang akan diadakan dalam waktu dekat.

“Pada momen Pilkades ini, masyarakat yang akan menentukan siapa pemimpin desanya. Banyak bentuk pesta demokrasi yang telah digelar dikehidupan politik kita sekarang. Mulai dari Pilkada serentak, gubernur dan bupati, pemilihan presiden serta pemilihan legislatif, dan sekarang Pilkades (pemilihan kepala desa),” ungkap Dedi kepada KM, Minggu 28/7.

“Pilkades ini sangat begitu menarik, karena banyak pihak-pihak yang saling terkait antara peserta, penyelenggara dan pemilih, masing-masing masyarakat punya kedekatan pribadi secara emosional maupun secara kekeluargaan, sehingga suhu politik di lapangan semakin terasa dibandingkan pemilu yang lain,” tambah Dedi.

Menurutnya, yang sangat disayangkan dalam Pilkades adalah, para calon pemimpinnya terkadang kekurangan motivasi, inovasi dan juga kekurangan secara mental dan intelektual, sehingga tidak ada ide/gagasan yang dibangun dan ditawarkan kepada masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan.

“Ya kemudian ketika calon ini diamanahi oleh rakyat untuk menjadi seorang pemimpin tidak begitu paham dan mengerti peran dan fungsi dia sebagai pemimpin rakyat. Dan yang harus kita antisipasi dari sekarang dalam memberantas KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme), berawal dari Pilkades yang jujur, adil tanpa money politik,” kata Dedi.

Masih kata Dedi, pemilihan kepala desa ini juga, jangan hanya dijadikan sebagai ajang pergantian kepemimpinan, namun harus juga dijadikan sebagai sebuah pembelajaran demokrasi yang jujur dan adil (Jurdil) dan langsung, umum, bebas dan rahasia (Luber), serta memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.

“Jangan sampai pemilihan kepala desa ini juga dijadikan money politik atau politik sara, yang bisa memecah belah persatuan masyarakat. Saya juga berharap kepada para calon pemimpin desa harus membawa ide dan konsep yang besar, wawasan kebangsaan dan keislaman juga sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap para calon untuk menghindari konflik atau perpecahan dimasyarakat,” terang Dedi.

Lebih lanjut Dedi mengatakan, ketika kita memilih seorang kepala desa atau pemimpin rakyat harus mengetahui kualitas dan kapabilitas dari seorang pemimpin, apalagi tingkatan desa itu langsung berhadapan dengan masyarakat, jangan sampai pemimpin desa juga hanya memberikan janji-janji semata dan ketika terpilih dia lupa janjinya dan tugasnya sebagai pelayan masyarakat.

“Saya beserta kawan-kawan pemuda karang taruna akan berperan aktif di kompetisi Pilkades ini karena harus ada kualitas yang dihasilkan dari produk politik, kepada masyarakat agar jangan pernah bermain money politik, dan dalam memilih seorang pemimpin harus jelas visi dan misinya untuk kesejahreraan masyarakat.”

“Ketika nakhoda itu tidak punya tujuan dalam menjalankan kapalnya maka akan terombang-ambing di tengah lautan dan tersesat tidak tahu arah. Satu hal yang harus diingat kepada para calon kepala desa, menjadi seorang pemimpin rakyat itu harus siap melayani dan siap mengabdi kepada masyarakat, karena kalian dipilih oleh rakyat,” pungkas Dedi.

Reporter: ddy
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*