Remaja “KURKAM Generasi Milenial” Ajukan Rekomendasi Bagi Pemerintah dan Ulama untuk Tangkal Penyebaran Paham Ekstrem

Peserta mengikuti salah satu sesi kelas dalam rangkaian acara Kursus Kebangsaan dan Keberagamaan (KURKAM) Milenial di Megamendung, Bogor, Sabtu 29/6/2019 (dok. KM)

BOGOR (KM) – Puluhan remaja tingkat SMA dan Universitas mengikuti pelatihan kebangsaan “KURKAM (Kursus Kebangsaan dan Keberagamaan) Generasi Milenial” yang diadakan oleh Jazirat Nusantara bersama Yayasan Islamic Center Al-Ghazaly dan aktivis remaja “Heavenly Warriors” di bilangan Megamendung, Kabupaten Bogor. Pelatihan intensif selama 2 hari, yakni Sabtu-Minggu 29-30/6, tersebut bertema “Membangun Kesadaran Berbangsa dan Bernegara Serta Perjuangan Mengatasi Musuh Bersama”.

Training remaja tersebut diisi oleh sejumlah pemateri tersohor, yakni ketua Yayasan Islamic Center Al-Ghazaly yang juga ketua MUI Kota Bogor KH. Mustofa Abdullah bin Nuh, ketua Forum Silaturahmi Asatidz Bogor KH. Abdurrahman Bustomi, pemerhati sejarah Endang Sumitra , penulis buku best seller Habib M. Syahir Alaydrus dan juga Pemimpin Umum KupasMerdeka.com Hasan J. Almunawar.

Dalam kesempatan tersebut Pinum KM membawakan materi bertema “Radikalisme, Terorisme dan Imperialisme” yang mendalami dasar ideologi kelompok-kelompok Islamis ekstrem seperti ISIS, Al Qaida dan Taliban serta peranan imperialisme negara adidaya Amerika Serikat di balik eksisnya kelompok-kelompok tersebut. Hasan juga memaparkan bagaimana penyebaran paham ekstrem Wahabi yang juga dianut oleh kelompok-kelompok teroris itu dapat menjadi “bahaya laten” lantaran menciptakan “lahan subur” bagi perekrutan calon anggota kelompok teroris.

Menyikapi maraknya penyebaran unsur-unsur paham ekstrem tersebut, para pemuda pun merundingkan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah Indonesia dan kepada para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah (ASWAJA) agar mampu membendungnya.

“Pemerintah harus memahami awal mula perpecahan yang terjadi, mengantisipasi paham-paham radikal dan menyusun tindak lanjut untuk mengatasi penyebaran paham Wahabi,” papar salah satu peserta membacakan rekomendasinya untuk pemerintah.

“Pemerintah juga harus menjalin kerjasama dengan negara-negara lain yang menghadapi masalah yang sama,” lanjutnya.

“Sedangkan bagi para ulama ASWAJA, penting untuk meningkatkan keilmuan dan mencari berbagai literasi untuk memahami bahayanya paham Wahabi,” tambahnya.

Sementara itu, rekomendasi lainnya juga mendorong agar Pemerintah memonitori penyebaran paham radikal di lembaga-lembaga pendidikan, seperti ekskul rohis.

“Ulama ASWAJA harus memberikan informasi kepada para santri tentang bahaya paham Wahabi, dan meningkatkan keberadaan mereka di Internet dan jejaring sosial,” pungkasnya.

Adapun paham Wahabi merupakan sebuah pemikiran dalam komunitas Muslim yang meyakini bahwa umat Islam harus kembali kepada kitab suci Al Quran dan Sunnah Nabi dan meninggalkan semua bentuk inovasi, yang disebut dengan istilah bid’ah. Paham yang digagas oleh seorang ulama asal Arab Saudi, Muhammad Ibn Abdul Wahhab, ini dipandang ekstrem oleh sebagian kalangan lantaran dengan keras menentang tradisi umat Islam pada umumnya yang dianggap mereka bid’ah seperti maulid Nabi dan tahlilan.

Reporter: Red

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*