Diduga Ada Praktek Pungli, Aktivitas TI Apung Lepas Pantai Takari Semakin Marak

Aktivitas tambang inkonvensional (TI) apung di perairan laut Pantai Takari Desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Kamis 27/6/2019 (dok. KM)
Aktivitas tambang inkonvensional (TI) apung di perairan laut Pantai Takari Desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Kamis 27/6/2019 (dok. KM)

BANGKA (KM) – Maraknya aktivitas tambang inkonvensional (TI) apung di perairan lepas Pantai Takari, Desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, diduga melibatkan praktek pungli, yakni adanya pembayaran uang masuk ponton untuk buka tambang di lokasi tersebut.

Pantauan KM di lokasi tambang Pantai Takari, tampak para penambang tak hiraukan lagi keindahan alam pantai yang merupakan obyek wisata masyarakat,yang dirusak dengan adanya aktivitas TI apung.

Fendi, Kepala Desa (Kades) Rebo, ketika dimintai keterangan di kantornya mangaku tidak pernah memberikan izin. “Kami di Kantor Desa ini tidak pernah memberikan izin sama sekali, dan kami juga tidak terlibat apapun di pertambangan TI apung perairan laut Pantai Takari tersebut,” ujar Fendi Kamis 27/6.

Sementara itu, Sudiryanto, Kepala Dusun (Kadus) Tanjung Ratu, membenarkan adanya pemungutan uang dari setiap ponton yang mau masuk menambang di perairan laut Pantai Takari.

Advertisement

“Memang benar disitu ada pungutan biaya, untuk 1 ponton TI rajuk yang mau buka di perairan laut depan Pantai Takari, dimintai dengan harga yang bervariasi, yang paling kecil nilainya sebesar 2 juta rupiah,” jelas Sudiryanto.

“Pernah ada salah satu warga menghampiri saya, mengeluhkan tentang adanya pungutan biaya, apabila mau masuk ponton TI rajuk di situ ada biayanya, dengan jelas saya katakan saya tidak terlibat apa tentang hal pekerjaan tersebut,” tambah Kadus itu.

Salah satu pemilik ponton TI apung yang enggan meyebutkan namanya membenarkan klaim tersebut.

“Jumlah TI apung di lokasi perairan laut depan Pantai Takari sekitar puluhan ponton, mengenai biaya setahu saya sebesar 4 juta rupiah,” jelasnya.

Reporter: Robi Karnito
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*