SPIRIT RAMADHAN: “Jalan Cinta”

Ki Alit Pranakarya
Ki Alit Pranakarya

Oleh Ki Alit Pranakarya
Penggagas/Ketua Umum FSSN Foundation (Forum Silaturahmi Spiritual Nusantara)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Kalangan masyarakat Barat mengakui dan memandang bahwa puasa “satu-satunya sistem yang paling unik dan justru paling benar”!

Bagaimana tidak, puasa adalah kefakiran secara ‘paksa’ yang ditentukan oleh syariat agama kepada seluruh umat (Islam) tanpa pandang bulu.

Islam memandang sama derajat manusia, terutama soal “perut”. Mereka yang memiliki dolar atau yang mempunyai sedikit rupiah, atau orang yang tak memiliki sepeserpun, tetap merasakan hal yang sama: lapar dan haus.

Jika shalat mampu menghapus citra arogansi individual manusia diwajibkan bagi insan muslim, haji dapat mengikis perbedaan status sosial dan derajat umat manusia diwajibkan bagi yang mampu, maka puasa adalah kefakiran total insan bertakwa yang bertujuan mengetuk sensitifitas manusia dengan caranya yang khas danamaliah (praktis), bahwasanya kehidupan yang benar berada di balik kehidupan itu sendiri.

Dan kehidupan itu mencapai suatu tahap paripurna manakala manusia memiliki kesamaan rasa, atau “turut merasakan” bersama, bukan sebaliknya. Manusia mencapai derajat kesempurnaan tatkala turut merasakan sensitifitas satu rasa sakit, bukan turut berebut melampiaskan segala macam hawa nafsu.

Dari sini puasa memiliki multifungsi. Setidaknya ada tiga fungsi puasa: tazhib, ta’dib dan tadrib.

Puasa adalah sarana untuk mengarahkan (tahzib), membentuk karakteristik jiwa (ta’dib), serta medium latihan untuk berupaya menjadi manusia yang kamil dan paripurna (tadrib), yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir puasa, yaitu: takwa.

Takwa dalam pengertian yang lebih umum adalah melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Takwa dan kesalehan sosial adalah dua wajah dari satu keping mata uang yang sama, mengintegral dan tak dapat dipisahkan.

Ada sejenis kaidah jiwa, bahwasanya “cinta” timbul dari rasa sakit. Di sinilah letak rahasia besar sosial dari hikmah berpuasa.
Dengan jelas dan akurat, Islam melarang keras segala bentuk makanan, minuman, aktivitas seks, penyakit hati dan ucapan merasuki perut dan jiwa orang yang berpuasa.

Dari lapar dan dahaga, betapa kita dapat merasakan mereka yang berada di garis kemiskinan, manusia papa yang berada di kolong jembatan, atau kaum tunawisma yang kerap berselimutkan dingin di malam hari atau terbakar terik matahari di siang hari.

Ini adalah suatu sistem, cara praktis melatih kasih sayang jiwa dan nurani manusia. Adakah cara yang paling efektif untuk melatih cinta? Bukankah kita tahu bahwa selalu ada dua sistem yang saling terkait: yang melihat dan yang buta, yang cendikia dan yang awam, serta yang teratur dan yang random.

Jika cinta antara orang kaya yang lapar terhadap orang miskin yang lapar tercipta, maka untaian hikmah kemanusiaan di dalam diri menemukan kekuasaannya sebagai “sang mesias”, juru selamat.

Orang yang berpunya dan hatinya selalu diasah dengan puasa, maka telinga jiwanya mendengar suara sang fakir yang merintih. Ia tidak serta merta mendengar itu sebagai suara mohon pengharapan, melainkan permohonan akan sesuatu hal yang wajib disambut.

Orang berpunya akan memaknai itu semua atas pengabdian yang tulus, iimaanan wa ihtisaaban. Semua karena Allah, karena hanya Dia Sang pemilik segala.

Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Ada pun alasan Allah mewajibkan puasa adalah untuk menyamakan si kaya dengan si fakir. Karena sesungguhnya si kaya tidak (pernah) merasakan nestapa lapar (sebagaimana yang dirasakan oleh si fakir), yang karenanya si kaya dapat mengasihi si fakir. Karena setiap si kaya menginginkan sesuatu, maka dia dapat memenuhi keinginannya itu.

Maka dengan puasa Allah ‘Azza wa Jalla hendak menempatkan makhluk-makhluk-Nya pada suatu pijakan yang sama dengan jalan membuat si kaya turut merasakan nestapanya lapar dan kepedihan, yang karenanya (diharapkan) ia menaruh belas kasih kepada orang yang lemah dan mengasihi orang yang lapar.”

Salah satu sasaran awal dari puasa adalah lapar. Lapar merupakan salah satu keadaan umum yang dimiliki oleh kaum dhuafa dan orang-orang fakir.

Kefakiran atau kemiskinan materi telah mengakibatkan mereka tak mampu membeli sesuatu yang dapat menghilangkan rasa lapar mereka.

Pada bulan Ramadhan yang suci ini, Allah Swt berkehendak menjadikan si kaya ikut merasakan derita lapar sebagaimana yang dialami saudaranya yang fakir. Dari rasa lapar itulah si kaya juga turut merasakan penderitaan dan kepedihannya.

Secara bertahap diharapkan si kaya mampu berempati kepada orang-orang miskin yang sudah sedemikian akrab dengan rasa lapar, sampai akhirnya tumbuh rasa welas asih di dalam hati si kaya. Inilah yang hendak dicapai dari puasa.

Jika lapar adalah sasaran awal puasa, maka welas asih merupakan sasaran akhirnya. Dengan welas asih inilah si kaya akan terdorong untuk melakukan aksi menolong orang-orang yang lemah dan papa.

Pada saat Rasulullah Saw melakukan Mi’raj, beliau bertanya kepada Allah Swt, “Wahai Tuhan, apakah yang diwariskan dari puasa?”
Allah SWT menjawab, “Puasa itu mewariskan hikmah, dan hikmah mewariskan ma’rifat’ lalu ma’rifat itu mewariskan keyakinan. Maka apabila seorang hamba telah memiliki keyakinan niscaya ia tidak lagi peduli apakah ia bangun di pagi hari dalam keadaan susah maupun dalam keadaan senang!”

Rasa lapar yang disebabkan dari puasa dapat membangunkan hati yang tertidur dan membangkitkan jiwa yang lalai. Rasa lapar bisa mengguncang kesadaran ruhani seseorang.

Mata batin orang yang lapar karena puasa akan terbuka lebar, hatinya pun terjaga, pandangan ruhaninya menjadi tajam sehingga mampu mencerna rahasia-rahasia kehidupan serta tanda-tanda zaman. Ia menjadi tercerdaskan dan mampu mencerna ibrah (pelajaran hidup), dan akhirnya ia sanggup mencerap hikmah-hikmah dari Tuhannya.

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” Begitulah Nabi Ibrahim berdoa kepada Kekasihnya, Rabbul ‘Alamin.

Lapar juga mengakibatkan tubuh menjadi ringan dalam melakukan ibadah-ibadah ritualnya seperti berzikir, iktikaf dan membaca al-Quran, serta gesit membantu orang-orang yang miskin dan fakir.

Dan buah dari semua aktifitasnya itu adalah CINTA TUHAN. Mereka inilah kekasih-kekasih Tuhan, sebagaimana di dalam hadis Mi’raj disebutkan sifat-sifat wali-wali Allah, “Perut mereka tipis dari makanan halal.”

Para kekasih Tuhan adalah orang-orang yang sengaja berlapar diri dan hati mereka dipenuhi cinta kepada sesamanya. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah pun tiada mengasihinya!”

Dalam riwayat lainnya, beliau Saw besabda, “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, tidaklah masuk surga kecuali orang yang memiliki rasa kasih sayang.” Para sahabat menyahut, “Kami semua memiliki rasa kasih sayang.”

Maka Nabi Saw berujar, “Bukan begitu (maksudku), kalian bisa dikatakan sebagai orang yang memiliki rasa kasih sayang jika kasih sayang kalian juga dilimpahkan kepada seluruh umat manusia dan semesta alam.”

Ini dkarenakan ajaran-ajaran Islam berlandaskan rahmat (kasih sayang) seperti hadis lainnya Nabi Saw bersabda, “Allah Yang Maha Rahman mengasihi dan menyayangi orang-orang yang memiliki kasih sayang, karena itu sayangilah mereka yang ada di bumi, niscaya mereka yang di langit juga akan menyayangimu!”

Inilah tujuan hakiki dari puasa, CINTA TUHAN, dan Anda takkan dapat meraih cinta-Nya sebelum Anda sanggup MENCINTAI sesama manusia.
Jadi, puasa mesti membuahkan kepekaan jiwa, kehalusan rasa sosial dan cinta universal!

Ketahuilah!
Cinta yang sesungguhnya adalah
gambaran hidup yang pahit
berujung manis
karena semua dasar cinta tak lain
adalah kebaikan moral! (Rumi).
Semoga bermanfaat & Salam Silaturahmi…

Komentar Facebook

1 Comment

  1. Superr…

    By evan

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.