Mahfud MD Sebut Aceh Dahulu Wilayah “Garis Keras”, Anggota DPD Minta Elit Berhenti “Labeling” Aceh

Anggota DPD RI dari Aceh, Fachrul Razi (dok. KM)
Anggota DPD RI dari Aceh, Fachrul Razi (dok. KM)

Anggota DPD RI asal Aceh Fachrul Razi yang juga Wakil Ketua Komite I DPD RI mengucapkan “terima kasih” kepada  Mahfud MD atas klarifikasi dan permintaan maafnya kepada masyarakat Aceh menyusul cuitannya yang menggambarkan Aceh sebagai wilayah yang dahulunya “garis keras”.

“Jika Aceh disebut sebagai garis keras, izinkan saya berbicara sebagai Senator Garis Keras asal Aceh,” tegas Fachrul.

Dirinya meminta kepada “elit nasional” untuk menghentikan labeling kepada Aceh dengan istilah-istilah yang ia nilai menyinggung perasaan masyarakat Aceh. “Aceh sudah lelah terus diberikan label-label yang merugikan rakyat Aceh sendiri, izinkan kami ingin bangkit dan membangun, tapi elit nasional juga jangan overstatement melakukan labeling terhadap Aceh,” sesalnya.

Dirinya mengaku kesal karena “elit elit masih melakukan politik labeling kepada Aceh” dengan berbagai istilah seperti daerah garis keras, daerah separatis, daerah ekstrim penerapan syariat Islam, dan lainnya. Sementara di masa lalu menurutnya Aceh dikenal dengan daerah modal, daerah istimewa, daerah syariat Ilam.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD akhirnya mengucapkan permohonan maaf atas pernyataan soal provinsi di mana Prabowo-Sandi unggul telak dalam Pilpres itu sebagai daerah garis keras secara agama.

Mahfud menyebutkan, permohonan maaf ia sampaikan agar pernyataannya itu tidak dianggap sebagai pengalihan isu dugaan kecurangan dalam Pemilu dan Pilpres 2019, sebagaimana kecaman Senator Aceh yang menyatakan bahwa pernyataan Mahfud MD adalah pengalihan isu atas “masifnya kecurangan” pada Pemilu 2019.

Advertisement

“Kalau begitu, saya setuju agar tidak dianggap pengalihan isu, urusan Islam garis keras tutup sampai di sini,” ujar Mahfud dalam program Catatan Demokrasi TVOne, Selasa 30/4.

Sebelumnya, Fachrul Razi meminta Mahfud MD untuk minta maaf terkait pernyataannya yang viral itu. Fachrul menilai, walaupun Mahfud sudah menjelaskan maksud pernyataannya tetap saja ada pihak yang tidak menerima, khususnya provinsi yang menerapkan syariat Islam itu.

Mahfud menegaskan, kalimat garis keras yang dilontarkanya bermakna “positif”. Garis keras, imbuhnya, berdasarkan literatur yang ada bermakna memiliki konsistensi dalam bersikap.

“Tapi maaf kalau ada yang mengartikan lain, saya minta maaf. Tetapi artinya sebenarnya itu,” tegas Mahfud. 

“Sebaiknya Mahfud MD atas komentarnya tersebut serta kita sepatutnya berterima kasih kepada mantan ketua MK tersebut. Walaupun dia sudah menjelaskan makna pernyataan itu, namun tetap saja ada yang tidak menerima. Karena bagaimana pun, nalar awam tetap memahami bahwa pernyataan itu tidak baik,” kata Fachrul kemarin 1/5.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Senator DPD RI asal Aceh itu menilai pernyataan Mahfud MD merupakan pengalihan isu kecurangan Pemilu, agar masyarakat terfokus pada isu daerah yang diklaim radikal dan pernyataan yang menurutnya melukai hati rakyat Aceh.

Reporter: Marsono
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: