KUPAS KOLOM: Ratusan KPPS Meninggal, Apakah Wajar? Mari Melihat dari Kacamata Statistik!

Hasan J. A., Pemimpin umum KupasMerdeka.com
Hasan J. A., Pemimpin umum KupasMerdeka.com

Oleh H. J. Almunawar, Pemimpin Umum Redaksi KupasMerdeka.com

Hingga karya tulis ini dipublikasi, jumlah anggota KPPS yang “tumbang” mendekati 600, sementara yang sakit mendekati 3.000. Melihat angka-angka tersebut tentu akan sangat mengusik nurani kita, terlebih ketika para politisi dan media-media mainstream terus mengangkat isu ini. Namun, di sisi lain, tahukah kita bahwa ada informasi yang disembunyikan, yang tidak diungkap baik oleh para penuduh maupun para pembela KPU atau pemerintah?

Bicara statistik, kita tentunya tidak dapat melihat angka-angka ini dengan sendirinya. Sebuah statistik tidak berdiri sendiri, ianya harus dilihat dari konteks proporsi dari keseluruhan.

Sekarang, ketika kita melihat secara kasat mata, “600 KPPS Meninggal Dunia” tentu sebuah kabar yang mencengangkan dan bahkan membuat sebagian dari kita curiga. Haris Azhar, ketua KONTRAS, bahkan mengatakan bahwa ini misterius dan mengusulkan dibentuknya Tim Pencari Fakta (TPF). Seruan serupa juga muncul dari banyak aktivis dan politisi. Tapi ada informasi kunci yang tidak pernah mereka ungkap atau cari tahu agar kita bisa melihat gambarannya secara menyeluruh.

Pada 25 April 2019 lalu, Sekjen KPU Arif Rahman Hakim mengungkap bahwa jumlah keseluruhan anggota PPK di Indonesia adalah 36.005 orang, PPS sebanyak 250.212 orang, dan KPPS sebanyak 7.385.000 orang, yang bertugas di 810.239 TPS di seluruh Indonesia. (link: https://nasional.kontan.co.id/news/berapa-besaran-honor-kpps-pps-dan-ppk-ini-perinciannya)

Ya, jumlah total KPPS hampir 7,4 juta orang!

Ini melebihi populasi Provinsi Riau! Menurut BPS, populasi Provinsi Riau pada tahun 2018 adalah 6.657.900.

Mari kita lihat dari kacamata statistik. Untuk tujuan pembahasan, kita akan mengatakan bahwa semua anggota KPPS membentuk satu populasi warga yang akan kita sebut dengan istilah “Provinsi KPPS” yang berpopulasi 7.385.000.

Tentunya, Provinsi KPPS ini memiliki demografi sendiri, dengan banyaknya jumlah orang yang berusia di atas 50 tahun, dan tidak ada remaja dan anak-anak. Tapi, warga Provinsi KPPS ini memiliki realitas yang sama dengan warga Indonesia pada umumnya. Pastilah dari populasi Provinsi ini, dalam kurun waktu satu bulan, sebagian akan meninggal dunia karena sakit atau kecelakaan atau bahkan menjadi korban kejahatan. Sebagian dari mereka pun mengidap beragam penyakit bawaan atau resiko kesehatan seperti warga Indonesia pada umumnya, seperti jantung, stroke, kanker, diabetes, hipertensi dan lain-lain.

Tanpa diberi tugas Pemilu pun, sebagian akan meninggal dunia, seperti warga pada umumnya. Namun, dengan dibebani sebuah tugas berat selama 2-3 hari berturut-turut, tentunya akan meningkatkan resiko kesehatan bagi sebagian warga Provinsi KPPS ini.

Tapi, demi pembahasan, asumsikan Provinsi KPPS ini mempunyai angka kematian yang sama seperti Indonesia pada umumnya. Menurut data BAPPENAS, angka kematian di Indonesia pada tahun 2010 adalah 1,52 juta jiwa, dari populasi total sebesar 238,52 juta jiwa, atau setara dengan 127 ribu jiwa per bulan, yaitu 0,05% dari total populasi.

Berarti, angka kematian di Provinsi KPPS ini adalah 0,05% x 7.385.000 = 3.693 jiwa per bulannya.

Baik, katakanlah warga Provinsi KPPS memiliki tingkat kesehatan yang di atas rata-rata, maka angka kematiannya setengah dari angka nasional, yaitu rata-rata 1.846 jiwa per bulan.

Hingga hari ini (10/5/2019), dilaporkan bahwa sedikitnya 554 anggota KPPS sudah meninggal dunia. Entah sampai kapan mereka akan terus menghitungnya, padahal tugas mereka sudah lama selesai. Tapi, saya tidak akan kaget bila dalam seminggu ke depan, angka kematian itu akan menembus 600 atau bahkan 700 (0,009%).

Sekarang mari kita tanyakan lagi, setelah menimbang semua informasi ini, apakah angka kematian itu wajar? Menurut saya, dari kacamata statistik, jumlah ini masih dalam batasan wajar. Kalau total KPPS se-Indonesia hanya beberapa ribu, maka itu sangat tidak wajar, tapi untuk jumlah orang sebanyak hampir 7,4 juta, sebuah jumlah yang bahkan melebihi populasi total Provinsi Riau, maka ceritanya berbeda, dan patutlah kita melihatnya dari kacamata statistik. Perlu diingat juga bahwa tidak ada tes atau syarat kesehatan untuk anggota KPPS dan tidak ada batas umur maksimal.

Anggota KPPS adalah rakyat biasa seperti kita semua. Tidak mungkin kita terapkan suatu pengkhususan sehingga dari hampir 7,4 juta anggota KPPS itu sama sekali tidak ada yang meninggal dunia dalam kurun waktu satu bulan. Baik sebab kematian itu dari beratnya beban pekerjaan atau tidak, sebagian tentu akan menemui ajalnya, sebagaimana kita semua.

Maka sekali lagi kita harus hati-hati dan jeli dalam membaca berita atau kabar, apakah media ini menyampaikan suatu kabar seutuhnya, atau apakah memiliki tujuan tertentu atau hanya memancing reaksi atau emosi pembaca? Kita juga harus kritis terhadap pernyataan-pernyataan para politisi dan “pakar-pakar” karena pastinya mereka punya agenda masing-masing.

Manusia berbohong, tapi statistik tidak berbohong.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*