Apa Kari: “Pernyataan Mualem Merusak Perdamaian Rakyat Aceh”

Tengku Zakaria Saman alias Apa Karia mengkritik pernyataan Mualem yang menurutnya bisa merusak perdamaian Aceh. (dok. KM)
Tengku Zakaria Saman alias Apa Karia mengkritik pernyataan Mualem yang menurutnya bisa merusak perdamaian Aceh. (dok. KM)

BANDA ACEH (KM) – Pernyataan Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Aceh (DPP PA), Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem pada peringatan sembilan tahun wafatnya Allahyarham Wali Neugara Aceh, Tgk Muhammad Hasan Di Tiro dan sekaligus buka puasa bersama di Amel Convention Hall, Banda Aceh, Senin 27/5 kemarin, mendapatkan kritikan dari sejumlah tokoh Aceh.

Salah satu kritikan datang dari mantan Menteri Pertahanan GAM, Tengku Zakaria Saman alias Apa Karia. Ia menilai pernyataan mantan Panglima GAM dan anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Aceh tentang  referendum seperti Timor Leste karena menilai Indonesia di “ambang kehancuran” dapat merusak kedamaian yang dirasakan rakyat Aceh selama ini. Selain tidak sesuai pada tempatnya, Apa Karia juga menilai Mualem tidak memiliki kapasitas untuk menyampaikan hal itu. Pada masa Presiden  Abdurrahman Wahid, UU Referendum No. 5 tahun 1985 diubah menjadi UU no. 06 tahun 1999.

“Mualem sebaiknya tidak menyampaikan sesuatu yang menimbulkan kontroversi dan dapat merusak perdamaian Aceh. Bek peugah pu nyang galak, kon reutak jih jak peugah peukara referendum,” ujar Apa Karia saat dihubungi awak media melalui telepon selular, Rabu 29/5.

Dikatakannya, Mualem belum pantas mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang seharusnya disampaikan oleh petinggi GAM.
Apalagi pernyataan yang akan melahirkan kekisruhan politik dan terganggunya perdamaian di Bumi Serambi Mekkah ini. “Masih banyak persoalan di Aceh yang belum selesai dan itu seharusnya menjadi fokus para pemimpin di Aceh, termasuk menjadi tanggung jawab GAM untuk menyelesaikan,” lanjutnya.

Di tuboh GAM mantong na urueng tuha. Mantong na Malek Mahmud, mantong na Doto Zaini, mantong na Zakaria Saman,” ketus Apa Karia.

Menurutnya, siapapun yang merasa mewakili otoritas GAM, termasuk yang bersinggungan dengan GAM secara organisasi, agar berhati-hati mengeluarkan pernyataannya. “Jangan latah mengikuti tarian permainan orang lain. Pemimpin Aceh dan rakyat harus fokus pada tujuannya yaitu mencapai kemakmuran,” katanya.

Geutanyoe Aceh bek lage ase pok geureupoh, jumoh teuh kasep lhu boh itek gob nyang pajoh,” kata Apa Karia.

Bek bagah that anggok pu nyang gop peugah. Breuh tan meupat lam umpang, ka tajak tajo lam piasan gob. Sibutoijih ulon hana that lon pakoe ata meunan. Lon anggap ju ka jawai. Tapi lon peugah nyoe nak bek teugrop rakyat,” tandas Apa Karia.

Reporter: Muddin
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.