Ketua Umum SGI Dorong Agar Santri Pandai Bersilat, Jawara Pandai Mengaji

Ketua Umum SGI, Opick, saat memberikan penghargaan kepada peserta Camp Silat & Golok 2019 di Bogor, Minggu 17/3/2019 (dok. KM)
Ketua Umum SGI, Opick, saat memberikan penghargaan kepada peserta Camp Silat & Golok 2019 di Bogor, Minggu 17/3/2019 (dok. KM)

BOGOR (KM) – Ketua Umum Seni Golok Indonesia (SGI) Aunur Rofiq Lil Firdaus atau yang akrab dipanggil Opick Tombo Ati mengajak seluruh Jawara, Pendekar, dan tokoh silat untuk terus menjaga dan merawat persatuan NKRI serta berupaya meninggalkan penyakit purba yaitu penyakit “aku” yang menurutnya sudah jelas menjadi penyebab perpecahan.

Hal tersebut disampaikan Opick usai memberikan penghargaan ke beberapa tokoh pelestari seni budaya golok Indonesia yang berasal dari berbagai elemen dan perguruan pencak silat se-Jawa Barat di Aula penyelenggaraan Camp Silat & Golok 2019 Padepokan Sekar Balebat, Cisarua, Bogor, Minggu 17/3.

“Para jawara dan pendekar kita ini penyakit purbanya sulit dihilangkan karena semua merasa lebih jago dan hebat, penyakit ‘aku’ ini adalah warisan iblis yang sulit ditinggalkan dan menyebabkan kita mudah terpecah belah sehingga sulit bersatu,” kata Opick di hadapan para Pini Sepuh Pelestari budaya golok Pasundan.

“Insya Allah dengan meninggalkan penyakit purba tersebut, kita akan mudah bersatu dan menjadi kuat, kita harus terus bangun persatuan, jangan mau dipecah belah sesuai amanat para leluhur kita,” lanjut Opick.

Ketua Umum SGI yang juga penyanyi religi ini juga mengajak agar semua unsur termasuk jawara dan pendekar bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. “Jawara dengan kepandaiannya bisa menjadi pelindung bagi masyarakat, pendekar dihormati di kampung karena kebaikannya, kalau ada gangguan-gangguan, mereka yang maju melindungi masyarakat kampungnya. Begitupun yang lainnya, semua bisa ambil peran positif dari kemampuan yang dimilikinya,” jelas Opick penuh semangat.

Ketua Umum SGI ini juga meminta kepada para pengurus dan semua yang hadir untuk mulai menyerukan agar santri selain bisa mengaji juga pandai bersilat, begitupula dengan jawara agar tidak hanya pandai bersilat tapi juga mesti pintar mengaji. “Ini luar biasa dan perlu terus digaungkan karena akan sangat baik dampaknya bagi kehidupan berbangsa kita”, lanjut Opick.

“Belajarnya jawara ada satu yang penting, yaitu belajar lemah setelah dia kuat dan belajar bodoh sesudah dia pintar, kita ini bukan pemilik apa-apa, kosong. Selama masih ada “aku” nya, kelak kita tidak layak sama sekali untuk memasuki surga, habis semua amalnya,” pungkasnya saat memberikan tausiyah.

Reporter: Sudrajat
Editor: HJA

Komentar Facebook

1 Trackback / Pingback

  1. BERITA MEDIA ONLINE DPC. PWRI KOTA DEPOK – Site Title

Leave a comment

Your email address will not be published.


*