Dinas Kesehatan Kota Depok Laksanakan Program STBP Kemenkes RI Sebagai Upaya Penentuan Kebijakan Program Pengendalian HIV, AIDS, dan IMS di Indonesia

Salah Satu Pasien Program STBP Usai Diambil Sampel Darahnya Oleh Petugas Dinkes Kota Depok (dok. KM)
Salah Satu Pasien Program STBP Usai Diambil Sampel Darahnya Oleh Petugas Dinkes Kota Depok (dok. KM)

DEPOK (KM) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok menjelaskan mekanisme pelaksanakan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) pada populasi kunci (LSL, Penasun, Waria, Wanita Pekerja Seks dan Pelanggan Wanita Pekerja Seks) selama 3 bulan sejak 13 Desember 2018 hingga 15 Februari 2019.

Sekretatis Dinas Kesehatan, Rani Martina menjelaskan jika tujuan dari pelaksanaan STBP ini adalah guna menentukan kecenderungan Prevalensi Gonore, Klamidia, Sifilis, dan HIV di antara Populasi Paling Berisiko di beberapa Kota di Indonesia.

“Dan guna mengukur cakupan intervensi pengendalian HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS), serta dampaknya pada kelompok sasaran program-program Kementrian Kesehatan Republik Indinesia,” jelas Rani diruang kerjanya saat menerima kunjungan Pengurus DPC PWRI Kota Depok beberapa waktu lalu.

”Menindak lanjuti surat pertanyaan DPC Persatuan Wartawan Republik Indonesia Kota Depok nomor 001/DPC_PWRI/SK/1/2019/ Tanggal 30 Januari 2019 Perihal Konfirmasi Dugaan Praktek Donor Darah Illegal, Kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan atas Kepedulian PWRI Kota Depok terhadap situasi sosial kemasyarakatan, khususnya terkait kesehatan dan melakukan konfirmasi kepada Dinkes Kota Depok. Dan terkait pokok masalah yang dikonfirmasikan kami sampaikan bahwa kegiatan yang di lakukan bukan praktek donor darah melainkan kegiatan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) pada populasi kunci,” Jelas Rani

Advertisement

Lebih lanjut dijelaskan oleh Rani, dasar melakukan kegiatan STBP tersebut adalah berdasarkan surat dari Direktur P2MPL kementrian kesehatan RI di jakarta nomor pm.pm.02.02./3/2305/2018 tanggal 18 september 2018 perihal pemberitahuan pelaksanaan pemetaan dan STBP 2018. Kegiatan ini dimulai pada tanggal 13 Desember 2019 s/d 15 Februari 2019.

Rani juga menerangkan tujuan dari pelaksanaan STBP ini adalah sebagai berikut :

  1. Menentukan kecenderungan prevalensi Gonore, Klamidia, Sifilis, dan HIV di antara Populasi Paling Berisiko di beberapa kota di Indonesia.
  2. Menentukan kecenderungan tingkat pengetahuan dan persepsi tentang penularan dan pencegahan HIV pada populasi berisiko tinggi.
  3. Menentukan kecenderungan tingkat perilaku berisiko tertular/menularkan HIV di antara populasi berisiko tinggi di beberapa kota di Indonesia.
  4. Mengukur cakupan intervensi pengendalian HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) serta dampaknya pada kelompok sasaran program-program Kementrian Kesehatan RI.
  5. Mendukung dalam penentuan kebijakan program pengendalian HIV AIDS dan IMS di beberapa kelompok dan kota di Indonesia . Mengetahui prevalensi Hepatitis B dan C pada populasi berisiko tinggi di Jakarta dan Jawa Barat.

Reporter: Sudrajat

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*